03 December 2020, 03:40 WIB

Investasi Asing, Antara Mitos dan Solusi Resesi


Leontinus Alpha Edison Co-Founder & Vice Chairman Tokopedia | Opini

BERBAGAI negara di dunia, termasuk Indonesia, saat ini tengah dihadapkan pada kondisi yang tidak mudah, yakni melawan pandemi covid-19, sekaligus bagaimana mengendalikan krisis ekonomi dalam negeri. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), bahkan, menyatakan dunia tengah menghadapi krisis global paling menantang sejak Perang Dunia II karena bukan hanya masalah kesehatan, melainkan juga membawa dampak resesi ekonomi.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 minus hingga 3,49%. Artinya, dalam dua kuartal berturut-turut pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencatat pertumbuhan negatif. Pada kuartal II 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat minus 5,32%. Tidak bisa dihindari, Indonesia menjadi bagian dari daftar negara yang masuk ke jurang resesi di masa pandemi ini.

Pentingnya investasi


Dalam menghadapi kondisi ini, konsekuensi logisnya bagi pemerintah ialah mengupayakan berbagai kebijakan guna memulihkan perekonomian nasional. Salah satunya ialah mendorong investasi masuk ke Tanah Air di tengah tekanan pandemi.

Mengapa investasi menjadi penting, apalagi di masa paceklik seperti sekarang? Sebab investasi berperan penting dalam membiayai pembangunan nasional. Sebagai bayangan saja, pembangunan infrastruktur merupakan prioritas utama di masa pemerintahan Presiden Jokowi, untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di Indonesia agar memiliki daya saing kompetitif di pasar global.

Dengan infrastruktur yang baik, kegiatan produksi diyakini juga bisa semakin efisien sehingga produk yang dihasilkan juga berdaya saing kompetitif di pasar global.

Tidak dimungkiri, kendala utama pembangunan infrastruktur ialah pembiayaan. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hanya mampu membiayai sekitar 8,7% dari total kebutuhan sektor infrastruktur, sementara kontribusi yang dapat diberikan badan usaha milik negara (BUMN) nasional ternyata maksimal sekitar 30%. Artinya, masih banyak kekurangan yang hanya bisa dipenuhi kontribusi swasta, termasuk investasi asing.

Di sisi lain, kita juga perlu melihat realitas bahwa ternyata investasi asing juga berperan dalam menghubungkan industri lokal ke pasar internasional sehingga bisa mempercepat upaya ekspansi ke pasar dunia. Contoh paling nyata ialah beberapa startup atau usaha rintisan digital di Indonesia, yang sejak disuntik dengan investasi asing, kemudian bertransformasi menjadi unicorn, dan mampu melakukan ekspansi ke wilayah Asia Tenggara atau ASEAN.

Namun, kenyataannya pil pahit memang harus ditelan, imbas dari pandemi ini, sebab Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat, realisasi investasi
di kuartal II 2020 tak sesuai harapan dan target sebab mengalami penurunan 4,3% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2019 (sumber: Medcom.id https://bit.ly/3mzXsrH).

Tentunya, pemerintah tidak bisa tinggal diam, berbagai upaya mendorong masuknya investor terus digulirkan seperti fasilitas fiskal yang diberikan pelaku usaha yang akan berinvestasi, atau kepada industri yang turut berpartisipasi, untuk mengembangkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Juga, keseriusan pemerintah, dalam membangun berbagai kawasan industri, atau kawasan ekonomi khusus di beberapa daerah yang terus digenjot.

Bentuk kepercayaan


Pada prinsipnya, Indonesia sebagai bagian dari komunitas negara dunia tidak terlepas dari jejaring perekonomian yang saling membutuhkan dan menguntungkan dengan negara lain. Itu termasuk bagaimana investasi asing juga turut membantu l a j u r o d a ekonomi di dalam negeri.

Persoalannya, perusaha a n y a n g menerima inve s t a s i asing cenderung dihinggapi berbagai cap, dari dianggap tidak nasionalis hingga dianggap antek asing. Ini ialah pandangan yang kurang tepat, kalau bukan disebut mitos. Sebab, dalam kerangka bisnis, perusahaan mana pun tentu butuh kerja sama atau kontribusi pihak lain, untuk terus memajukan usaha mereka.

Bahkan, investasi asing itu bisa juga dipandang sebagai bentuk kepercayaan dari negara lain. Seperti diketahui bersama, faktor kepercayaan ialah modal mendasar dari usaha atau bisnis apa pun.

Anggapan lain yang kurang tepat ialah juga tentang bagaimana investasi asing membuat Indonesia menjadi dikuasai negara lain. Menjawab keresahan ini, justru yang perlu dikedepankan dan didorong ialah bagaimana pemerintah menjamin regulasi yang ada diatur untuk tetap mengutamakan transparansi dan menguntungkan banyak pihak. Misalnya, melalui BKPM dalam hal fungsi kontrol, di samping juga fungsi perizinan.

Keuntungan masyarakat


Harus diakui, pandemi membawa perubahan yang belum pernah terjadi sebelumnya dan berdampak pada hampir setiap institusi di seluruh dunia tanpa pandang bulu. Transformasi yang tidak terelakkan pada dunia bisnis pun terjadi.

Namun, dari momen ini pula lahirlah generasi transformasi. Perubahan yang kita alami telah mempercepat transformasi digital di berbagai sektor. Yang paling
terlihat ialah seperti pada kebiasaan belanja online yang semakin meningkat se iring dengan gaya hidup di rumah, atau work from home (WFH), dan marketplace yang membantu masyarakat berbelanja kebutuhan sehari-hari, tanpa harus pergi ke tempat ramai dan berkerumun.

Zaman yang telah berubah tidak bisa dielakkan dan digitalisasi serta teknologi kini bukan lagi sekadar nilai tambah atau nice-to-have. Namun, itu betul-betul penting dan telah berkembang pesat menjadi kebutuhan. Belum pernah ada periode transformasi digital secepat dan sepenting ini.

Setidaknya, terdapat sejumlah startup atau usaha rintisan digital di Indonesia yang berkembang pesat dengan nilai valuasi fantastis. Ketika sebuah usaha mulai meraih berbagai prestasi dan nilai valuasinya meningkat, ada level capaian juga yang disematkan, seperti status unicorn, decacorn, dan hectocorn, yang disandang berdasarkan nilai valuasinya.

Indonesia, kini punya sejumlah unicorn dan decacorn, dengan unicorn ialah usaha dengan valuasi lebih dari US$1 miliar atau Rp14 triliun, sedangkan decacorn bervaluasi lebih dari US$ 10 miliar atau Rp140 triliun.

Potensi perusahaan teknologi Indonesia menjadi sangat signifi kan, khususnya di tengah pandemi sekarang. Ambil contoh seperti Tokopedia, yang dipercaya menerima investasi dari Temasek dan Google.

Pada akhirnya, sudah sepantasnya strategi saat ini untuk mengatasi krisis di tengah pandemi salah satunya ialah menarik investor menanamkan modal ke Tanah Air dan menjaga iklim investasi tetap tinggi dan lebih meningkat sebagai upaya mengatasi resesi. Sebab investasi yang masuk ke Indonesia melalui
perusahaan-perusahaan dalam negeri tadi seyogianya akan kembali juga dan menguntungkan masyarakat Indonesia.

Misalnya, bagaimana skill dan pengetahuan yang dibawa investor membuat perusahaan-perusahaan Indonesia turut menjadi berkembang dan berdaya saing global. Imbas positif lain yang diharapkan ialah terciptanya lebih banyak lapangan pekerjaan di Indonesia yang dengan kata lain, juga membantu kesejahteraan masyarakat Indonesia. Dalam skala nasional, itu juga bisa membantu pemulihan ekonomi nasional yang sedang terjangkit resesi.

Kita berharap, kinerja posisi investasi internasional (PII) Indonesia akan semakin baik sejalan dengan terjaganya stabilitas perekonomian dan berlanjutnya pemulihan ekonomi Indonesia.

BERITA TERKAIT