30 November 2020, 03:25 WIB

Tantangan Guru Masa Kini


Anggi Afriansyah Peneliti LIPI, Dewan Pakar Perhimpunan untuk Pendidikan Guru (P2G) | Opini

PAULO Freire (2000) dalam Pedagogy of Freedom: Ethics, Democracy and Civic Courage menyebut ada tiga hal penting tentang mengajar yang perlu dipahami para guru. Pertama, tidak ada pengajaran tanpa pembelajaran. Seorang guru harus mampu melakukan riset, memiliki respek terhadap beragam pengetahuan siswa, kritis, memahami isu etik dan estetika, menjadi teladan, mau mengambil risiko, reflektif dan kritis, serta memiliki pemahaman tentang identitas kultural masyarakat sekitarnya.

Kedua, mengajar bukan hanya untuk transfer pengetahuan. Penting bagi guru untuk sadar akan ketidaksempurnaan dirinya, pengakuan
terhadap kondisi orang lain, respek terhadap otonomi siswa, rendah hati, logis, toleran, memperjuangkan hak, penuh sukacita dan harap, yakin terhadap perubahan, dan penuh rasa ingin tahu.

Ketiga, mengajar ialah aksi kemanusiaan. Hal tersebut terkait dengan kesadaran guru terhadap profesi, komitmen, peran pendidikan dalam mengubah dunia, otoritas dan kebebasan, hati nurani, mau mendengarkan, pemahaman ideologis, dan terbuka untuk berdialog.

Apa yang disampaikan Freire tersebut dapat menjadi pedoman bagi para guru. Meski sesungguhnya, pada periode yang lebih lampau,
Ki Hadjar Dewantara ‘gurunya para guru’ di republik ini sudah mengingatkan krusialnya peranan guru. Cita-cita Ki Hadjar Dewantara untuk membangun pendidikan yang membuat rakyat kuat dan menjadi manusia yang merdeka lahir batin memerlukan para guru teguh dalam perjuangan. Apalagi titik tolak perjuangan pendidikan Ki Hadjar Dewantara ialah kelompok marginal.


Tantangan

Secara aktual, guru-guru dihadapkan pada situasi zaman yang terus bergerak dan semakin kompleks. Tantangan dalam mendidik anak-anak bangsa semakin kompleks. Gambaran Freire dan Ki Hadjar Dewantara yang memosisikan guru sebagai kompas kemanusiaan semakin terkikis di era pragmatis ini. Setidaknya ada tujuh hal yang menyebabkan guru semakin sulit untuk mendidik anakanak bangsa; pertama, terkait dengan visi mendidik anak di tengah semakin pragmatisnya cara pandang masyarakat. Mendidik dipersempit sebatas transfer pengetahuan dan keterampilan yang berguna bagi anak-anak di di dunia kerja. Guru gagal menjadi intellectual transformative seperti yang
disebut Henry Giroux.

Kedua, pemosisian guru dalam lingkup administratif dan manajemen pembelajaran semata. Pada posisi ini guru menjadi petugas yang menyelesaikan berbagai tagihan administratif atau memberikan penilaian kepada siswa. Ketiga, tantangan sosiokultural yang terkait dengan pola adaptasi yang dihadapi ketika mengajar siswa yang beragam. Guru masih cenderung gebyah-uyah ketika mengajar. Bagaimana guru memahami keberagaman peserta didik dari berbagai latar menjadi penting. Guru perlu responsif terhadap konteks geografis, sosiokultural, dan demografis ketika mereka mengajar.

Keempat, keterbatasan untuk meningkatkan kapasitas seperti peluang mendapat pelatihan dan beasiswa. Peluang untuk mendapat beasiswa baik untuk melanjutkan studi maupun pelatihan bagi guru menjadi sangat penting. Prioritas utama ialah bagi mereka yang memiliki keterbatasan akses.

Kelima, rumitnya persoalan kesejahteraan dan perlindungan bagi guru honorer. Rencana pemerintah untuk mengangkat guru PPPK (pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja) pada 2021 perlu dipantau dengan saksama. Harapannya tentu perbaikan kesejahteraan dan  perlindungan bagi para guru honorer.

Keenam, terkait dengan problem antargenerasi atau generation gap. Tak semua guru memiliki kecakapan membangun interaksi yang egaliter. Generation gap terjadi ketika guru masih memosisikan siswa sebagai sosok yang berjarak dengan mereka. Guru tidak dapat membangun ruang dialog dengan prinsip among, ngemong, momong ala Ki Hadjar Dewantara.

Ketujuh, tantangan dalam penguasan media digital. Sering kali penguasaan media digital semata untuk pemenuhan penunjang kegiatan pembelajaran. Padahal, yang lebih penting ialah bagaimana guru melek digital. Peran guru di sini memandu para siswa mengarungi beragam hoaks yang tersebar di media sosial. Problem lainnya ialah ketimpangan akses digital yang masih terbuka lebar.

Di samping tujuh catatan tersebut. Dalam konteks global, guru mendapat tantangan dalam upaya membangun keterampilan abad ke-21. Merujuk pada Survei The Economist Intelligence Unit (2018) beberapa tantangan yang dihadapi guru antara lain keterbatasan waktu dalam memenuhi kurikulum yang berstandar tinggi, keterbatasan pelatihan, otoritas pendidikan yang secara ketat berfokus pada penguatan literasi dan numerasi, kesulitan mengidentifikasi ragam keterampilan yang dibutuhkan pasar kerja, dukungan yang minim dari baik manajemen sekolah maupun dunia bisnis, dan persoalan motivasi.


Kerja bersama

Pemerintah sebagai regulator perlu membantu guru untuk tetap fokus mendidik anak bangsa. Tidak mengungkung guru sebagai petugas administrasi semata. Tentu bukan semata tugas pemerintah pusat. Baik pemerintah daerah, sekolah, maupun guru sebagai individu juga harus bersama-sama membangun guru-guru pencerah zaman.

Para guru harus didukung secara struktural melalui berbagai regulasi yang menjamin mereka dapat mendidik secara lebih merdeka.  Kebijakan Merdeka Belajar jelas tidak bisa terlaksana jika guru hanya dituntut berbagai tagihan tanpa didukung secara memadai; pertama, pemerintah pusat perlu mengoptimalkan peran LPTK dalam peningkatan persiapan baik calon guru maupun guru. Kemudian merilis berbagai regulasi yang menunjang kemerdekaan guru di level sekolah; membuka ruang bagi berbagai beasiswa, pemagangan, dan pelatihan bagi guru; serta menggandeng berbagai lembaga dan komunitas serta dunia usaha yang punya keperdulian terhadap pendidikan.

Kedua, pemerintah daerah perlu memetakan guru di daerah; memberi kesempatan beasiswa, pemagangan, pelatihan menggunakan dana APBD; membangun ruang diskusi secara intensif antarguru di daerah mereka; membuat regulasi daerah yang memudahkan kerja guru; juga menggandeng komunitas dan dunia usaha di level lokal untuk meningkatkan kapasitas guru.

Ketiga, sekolah. Kepala sekolah memiliki peran penting untuk memberikan kesempatan kepada guru untuk meningkatkan kapasitas,  membuat forum guru secara rutin, dan membangun perjumpaan guru dengan berbagai kelompok baik sosial maupun keagamaan. Keempat, individu guru. Secara individual para guru harus terus berupaya untuk meningkatkan kapasitas diri dengan membaca, menulis, dan berorganisasi. Melalui organisasi para guru dapat membangun perjumpaan dan jejaring dengan berbagai guru di seluruh Indonesia. Beragam ikhtiar perlu diupayakan. Apalagi kita menyadari bahwa sentral kemajuan bangsa ialah para guru.  Selamat Hari Guru.

BERITA TERKAIT