30 November 2020, 03:00 WIB

Literasi Digital Guru


Khoiruddin Bashori Direktur Advokasi dan Pemberdayaan Masyakarat Yayasan Sukma Jakarta | Opini

HARI Guru Nasional kali ini terasa sangat spesial karena diperingati di tengah pandemi. Dalam situasi seperti ini, siap atau tidak, guru dipaksa memasuki dunia digital secara lebih total. Sebelumnya penggunaan teknologi informasi sebatas bersosialisasi lewat media sosial dan mencari aneka kebutuhan informasi di internet, tetapi saat ini dunia digital benar-benar menjadi media pembelajaran pokok. E-learning, yang sebetulnya telah lama didorong untuk diterapkan, kini menemukan momentum terbaiknya. 

Ke depan guru inspiratif harus memiliki kemampuan dasar yang berkaitan dengan konsep digital. Kemampuan mencari sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan menjadi sangat penting, di tengah percepatan perkembagan teknologi digital dan banjir informasi seperti sekarang ini. Dalam konteks literasi digital, setiap guru memerlukan kemampuan untuk dapat mengakses, menganalis, mencipta, melakukan refleksi, dan bertindak menggunakan aneka ragam perangkat digital, sebagai bentuk ekspresi dan strategi dalam berkomunikasi dengan  siswa.


Literasi digital

Literasi digital adalah kemampuan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk menemukan, mengevaluasi, menciptakan, dan mengomunikasikan informasi, yang membutuhkan keterampilan kognitif dan teknis. Guru saat ini dituntut untuk dapat membuat,  berkolaborasi, dan berbagi konten digital secara bertanggung jawab. Karena itu, kepala sekolah, sumber daya kependidikan, dan guru perlu memahami pentingnya literasi digital dalam pembelajaran.

Hobbs (2010) menjelaskan literasi digital diawali dengan kemampuan menganalisis dan mengevaluasi. Menganalisis pesan dalam berbagai bentuk dengan mengidentifikasi penulis, tujuan, dan sudut pandang serta mengevaluasi kualitas dan kredibilitas konten. Guru dengan literasi digital kurang baik tidak mampu melakukan tugas ini, dengan risiko informasi yang didapat memiliki kredibilitas rendah.

Kedua, membuat dan berkolaborasi. Ini berkaitan dengan kemampuan mencipta dan berkreasi. Menyusun atau menghasilkan konten dengan menggunakan kreativitas dan kepercayaan diri dalam berekspresi, dengan memperhatikan tujuan, audiens, dan teknik komposisi. Proses pembuatan konten dapat dilakukan sendiri atau bersama dengan guru lain, untuk berbagi pengetahuan dan memecahkan berbagai masalah yang terjadi baik dalam keluarga, tempat kerja dan komunitas.

Ketiga, menggunakan dan membagikan. Keterampilan menggunakan media dan meng akses informasi sangat menentukan seberapa baik  guru dapat menggunakan teknologi informasi dan berbagi konten dengan siswa. Konten dalam berbagai bentuk, dengan memanfaatkan bahasa, gambar, suara, dan teknologi digital baru akan sangat bermanfaat dalam proses pembelajaran. Siswa milenial sangat menghargai guru yang melek digital. Memiliki akses luas di dunia maya dan bersedia berbagi dengan mereka.

Keempat, menerapkan penilaian etis. Guru harus memiliki tanggung jawab sosial di dunia daring sebagai warga dunia digital. Mereka  diharapkan dapat menjadi teladan dalam membuat pilihan yang bertanggung jawab ketika mengakses informasi dan berbagi bahan. Dalam konteks ini, guru hendaknya dapat berperan sebagai role model bagi siswa dalam berselancar di dunia maya, dengan menerapkan tanggung jawab sosial dan standar etika yang tinggi.


Kreator konten

Pembuat konten ialah seseorang yang bertanggung jawab atas kontribusi informasi kepada media apa pun, terutama media digital. Mereka umumnya menargetkan pengguna akhir/audiens tertentu, dalam konteks tertentu. Seorang kreator konten dapat berkontribusi dalam blog, berita, gambar, video, audio, e-mail, media sosial, dan konten terkait lainnya. Agar dapat membuat konten yang meyakinkan, berkualitas tinggi, penciptaan konten bukan sekadar menyatukan kutipan dari sana-sini kemudian mem-posting-nya.

Pembuatan konten, sebagai kegiatan, ialah bentuk seni dan upaya profesional. Sebuah aktivitas yang membutuhkan campuran kemampuan otak kanan dan otak kiri. Dengan kata lain, pelakunya harus terorganisasi dan kreatif, analitis dan asosiatif, disiplin dan beragam. Guru perlu memahami apa yang membuat kreator konten sukses. Dengan akses yang nyaris tak berbatas ke sumber-sumber pembelajaran, guru  milenial diharapkan dapat berkreasi membuat kontenkonten edukatif, yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman.

Stasik (2018) menyarankan lima kebiasaan efektif yang perlu dimiliki bagi kreator konten yang berhasil. Pertama, banyak membaca. Ini terdengar klise, tetapi yang perlu diperhatikan di sini tidak sekadar membaca di permukaan, tetapi membaca secara mendalam. Membaca yang di sertai perenungan, refleksi yang serius, agar dapat menemukan hikmah dan kontekstualisasi dari setiap bacaan. Kekayaaan bacaan dan kedalaman perenungan akan sangat membantu menghasilkan konten yang berkualitas.

Kedua, tulis. Lakukan dalam praktik, apa pun bentuk kontennya. Pengalaman banyak pembuat konten mengajarkan, sebelum menjadi konten dalam berbagai bentuknya, pasti diawali dengan menuliskannya terlebih dahulu. Semacam kerangka konsep, plot, atau script. Naskah awal sebagai dasar pengembangan. Kemampuan menulis menjadi dasar untuk semua media lain. Menulis ialah sarana peting untuk memperbaiki cara berpikir. Guru sangat perlu memperkuat kebiasaan menulis.

Ketiga, ciptakan. Pembuat konten harus memahami, dalam dunia daring, kualitas konten sangat menentukan apakah akan dilihat, dibaca, atau ditinggalkan. Audiens cenderung beralih ke konten lain yang lebih baik jika bertemu dengan konten yang kurang berkualitas. Dengan demikian, diperlukan latihan terus-menerus agar dapat menghasilkan konten yang dapat diterima pengguna. Untuk itu, guru tidak perlu takut membuat blog situs laman sendiri, kanal Youtube, Facebook, dan lain-lain dan terus mengisinya dengan konten berkualitas secara konsisten.

Keempat, ikut webinar. Konferensi menawarkan kesempatan unik bagi pembuat konten untuk terhubung dengan karya teman lain, untuk menyegarkan perspektif, dan membangun kolaborasi baru dengan berbagai pihak. Khusus bagi kreator konten yang bergerak sendiri, ini dapat menjadi cara yang sangat bermanfaat dalam menemukan lebih banyak ‘proyek’ yang dapat dikerjakan dan mendapatkan wawasan baru dalam meningkatkan kemampuan berkreasi.

Kelima, terus lapar ilmu, terus ingin tahu. Keempat kebiasaan di atas membantu guru memahami apa yang diperlukan untuk dapat menjadi pembuat konten andal. Namun, oleh karena pengembangan konten ialah kegiatan berkelanjutan yang terus berkembang, sesuai dengan tuntutan zaman, update kapasitas guru menjadi keniscayaan. Kreator konten memahami, konten hanya relevan dan berguna jika memenuhi kebutuhan dan beresonansi dengan audiens.

Pada akhirnya, guru era digital bukanlah sekadar pengguna platform digital untuk bersosialisasi dan menyampaikan materi pembelajaran. Dengan literasi digital memadai, terbuka lebar kesempatan bagi guru untuk mengembangkan kapasitas diri, mengakses sumbersumber belajar otoritatif yang tersedia masif di dunia maya. Bahkan berkolaborasi dengan guru lain di mana pun juga, untuk menjadi kreator konten andal, berbasis hasil refleksi, dan kemudian mengomunikasikannya kepada siswa.

BERITA TERKAIT