17 July 2020, 04:05 WIB

Perlunya Kekuatan Mental, Semangat, dan Percaya Diri


Guntur Soekarno Pemerhati Sosial | Opini

DI era perjuangan dan perang melawan siluman covid-19, kekuatan mental, semangat, dan percaya diri sangat diperlukan agar kita dapat mengalahkan sang siluman itu. Khususnya bagi aparatur pemerintahan mulai presiden hingga RT dan RW.

Untuk contoh hal tersebut, saya akan mengambil sejarah yang terkenal dengan nama The Battle of Thermopylae, yaitu pertempuran antara pasukan Raja Xerxes I dari Persia melawan pasukan Raja Leonidas dari Sparta Yunani.

Lembah Thermopylae adalah suatu lembah yang letaknya strategis. Melalui lembah itu, pasukan Persia dapat langsung menyerang Yunani tanpa harus berputar melalui laut.

Lembah tadi dipertahankan pasukan Sparta Yunani sebanyak 300 prajurit, sedangkan pasukan Persia mula-mula penyerangan mengerahkan 70 ribu prajurit.

Secara gagah berani, pasukan Sparta Yunani yang hanya berjumlah 300 prajurit tadi berhasil menghalau tentara Persia yang jumlahnya berlipat ganda. Karena selalu gagal mengalahkan pasukan Sparta Yunani, Raja Xerxes I dari Persia sekaligus mengerahkan sebanyak 300 ribu prajurit.

Namun, apa yang terjadi? Tetap saja mereka gagal mengalahkan pasukan Sparta Yunani yang bertempur dengan penuh semangat, percaya diri, dan bermental baja.

Terjadilah apa yang disebut proses demoralisasi di pasukan Persia yang membuat mereka patah semangat. Mentalnya runtuh dan kehilangan percaya diri sehingga mereka harus menelan kekalahan fatal dan mundur meninggalkan lembah Thermopylae kembali ke Persia.

Di sinilah arti pentingnya kekuatan mental, semangat, dan percaya diri. Saat ini kita sedang melawan ‘musuh’ yang sangat kuat dan sakti laksana siluman, yaitu pandemi covid- 19. Untuk itu, kita terutama pihak pemerintah dan seluruh aparat-aparatnya benar-benar harus mempunyai semangat, mental, dan percaya diri yang benar-benar kuat untuk dapat mengalahkan siluman covid- 19 tadi.

Jangan sampai terjadi demoralisasi di kalangan pemerintahan beserta seluruh aparat-aparatnya. Menurut saya, walaupun agak terlambat hendaknya pemerintah menghentikan melakukan imbauan-imbauan kepada rakyat/masyarakat umum dan mengganti dengan melakukan perintah-perintah yang tegas, beserta melaksanakan sanksisanksi yang tegas pada siapa saja yang melanggar perintah-perintah tadi.

Bila sekadar mengimbau hal itu berarti boleh dituruti dan boleh tidak tergantung selera. Apalagi saat ini pemerintah sudah melontarkan keadaan new normal.

Untuk masyarakat kelas menengah ke bawah terutama di daerah-daerah, mereka mengira new normal berarti keadaan sudah normal kembali seperti sediakala, hal inilah yang membuat penderita covid-19 setiap harinya melonjak.

Kalau begitu, salahkah pemerintah menyatakan kondisi new normal? Sama sekali tidak asalkan pemerintah berani melakukan perintah-perintah yang tegas disertai sanksisanksi yang tegas pula.

Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Hal tersebut dapat terjadi karena sudah sekian lama masyarakat tidak mendapatkan pendidikan nation and character building, terutama masyarakat kelas bawahnya. Pendidikan pembangunan watak dan jiwa bangsa ialah sangat diperlukan agar ketahanan mental, semangat, serta rasa percaya diri masyarakat dapat terpelihara. Khususnya, dalam rangka berjuang, berperang melawan siluman covid-19.


Strategi sosial

Di samping perintah dan sanksi tegas ada baiknya bila pemerintah melaksanakan juga perjuangan massa yang sehebat-hebatnya. Artinya semua elemen-elemen yang ada di dalam masyarakat, terutama wanita dan generasi mudanya dimobilisasi sedemikian rupa sehingga bersatu padu dengan pemerintah dan aparataparatnya dengan satu visi yang sama, yakni mengalahkan pandemi siluman covid-19!

Apalagi saat ini sang siluman sudah merambah ke mana-mana, seperti Jakarta, Surabaya, Sidoarjo, bahkan di daerah Hegarmanah Bandung yang mengambil korban 1.262 siswa positif covid-19. Belum lagi Pesantren Pondok Modern Darussalam Gontor 2 di Ponorogo ditemukan 11 santri positif covid-19.

Dan, yang membuat kita tambah prihatin ialah pernyataan WHO yang menyatakan siluman covid-19 dapat menular melalui udara, meski hal itu belum dapat dipastikan kebenarannya karena masih dalam penelitian lebih lanjut. Walaupun begitu, potensi membuat terjadinya demoralisasi di dalam masyarakat sangatlah besar, kalau saja pemerintah tidak cepat-cepat memberikan respons yang tepat mengenai hal tersebut. Di sinilah pentingnya perjuangan massa sesuai yang Bung Karno ajarkan.

Seperti yang kita ketahui, Bung Karno berteori untuk mengalahkan sistem fasisme, gunakanlah strategi militer biasa dipadu dengan perjuangan massa. “Ordinary Military Strategy plus Mass Struggle .” Teori ini bermula dari teorinya Ernest Henry mengenai Social Strategy atau Strategi Sosial. Sifat dari siluman covid-19 ini kurang lebih sama dengan sifat dan watak dari sistem fasisme, yakni kejam dan sadistis.

Oleh sebab itu, dapat kita gunakan teori Bung Karno tadi untuk melawannya, kalau kita mau?! *Jadi bukan hanya PSBB, new normal, lockdown, pakai masker, jaga jarak, dan lain sebagainya seperti saat ini.

Kita harus berani melakukan think and rethink, pikir, dan pikir kembali dalam bertempur melawan siluman covid-19, pendek kata segala jalan tentunya yang halal harus kita coba kerjakan.

Untuk strategi militer yang biasa kita dapat gunakan dalil-dalil dari Carl von Clausewitz.

Hal yang sulit untuk saat ini bagaimana caranya kita dalam hal ini terutama pemerintah dapat mengajak seluruh lapisan masyarakat mau dengan kesadaran penuh melakukan perjuangan massa yang sehebat-hebatnya.

Seperti sudah saya jelaskan di atas, masyarakat Indonesia pada umumnya sudah berpuluh tahun tidak pernah mendapatkan pendidikan nation and character building.

Pembangunan jiwa dan watak bangsa yang hal ini sangat penting untuk dapat memobilisasi seluruh elemen-elemen masyarakat untuk bersatu padu dengan pemerintah dalam melakukan perjuangan massa melawan siluman covid-19.

Walaupun begitu, janganlah kita bersama pemerintah berputus asa untuk bersama-sama dengan elemen-elemen masyarakat melaksanakan perjuangan massa sedemikian rupa agar sang siluman covid-19 dapat kita hancurkan sehingga mengigit debu!

Pendek kata, kita terutama pemerintah hendaknya dalam situasi apa pun harus tetap berjuang dengan bersemangat, kuat mental, dan percaya diri seperti apa yang sudah diteladani pasukan Sparta Yunani yang gagah berani beberapa ratus tahun yang lalu di lembah Thermopylae!

BERITA TERKAIT