11 May 2023, 07:02 WIB

Podium Pakai Lampu Mobil, Atlet Indonesia Peraih Emas Mengaku Tidak Masalah


Andhika Prasetyo |

Penganugerahan medali nomor jalan cepat 20 kilometer putra SEA Games 2023 di Kamboja sempat menarik perhatian publik Tanah Air. Pasalnya, penerangan untuk podium atlet hanya menggunakan lampu mobil lantaran terjadi mati listrik di lokasi tersebut.

Kendati demikian, pemenang medali emas jalan cepat asal Indonesia Hendro Yap memilih untuk tidak mempermasalahkan hal itu. Ia justru mendukung Kamboja untuk bisa terus menyelenggarakan kegiatan-kegiatan olahraga yang lebih baik lagi di masa mendatang.

"Saya memaklumi karena ini kan SEA Games pertamanya Kamboja. Jadi mereka belajar. Kita tidak boleh menjatuhkan mereka, justru kita harus support karena mereka masih perlu banyak perbaikan. Menurut saya bukan mencari siapa yang salah, tetapi bagaimana solusinya nanti ke depan," ucap Hendro saat ditemui setelah upacara penjemputan atlet SEA Games di Bandara
Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, Rabu (10/5) malam.

Baca juga: Semua Pemain Timnas U-22 Siap Bertanding di Semifinal SEA Games 2023

Atlet yang telah meraih lima medali emas di SEA Games itu menyatakan kendala utama untuk merebut penghargaan tertinggi di ajang pesta olahraga Asia Tenggara kali ini adalah suhu panas yang sangat tinggi. Kondisi tersebut tentu menjadi tantangan bagi para atlet nomor jarak jauh seperti dirinya.

"Saya start di 39 derajat celcius. Rasanya itu panas ditambah kelembapan itu jadi kaya 46 derajat celcius. Itu sangat menggigit sekali," tuturnya.

Baca juga: Lolos ke Final, Tim Bulu Tangkis Putri Berpeluang Raih Emas

Untungnya, Hendro mengaku sudah mengantisipasi hal tersebut sehingga bisa menjalani perlombaan sebagai yang tercepat.

"Mungkin kondisi itu tidak dipersiapkan negara-negara lain, jadi kemarin keberuntungan saya juga," sambung atlet 32 tahun itu.

Olahraga jalan cepat disadari Hendro bukan merupakan olahraga yang populer di Indonesia. Oleh karena itu, ia menawarkan ide kepada para pemangku kepentingan agar jalan cepat dan olahraga-olahraga lain yang kurang populer dapat semakin dikenal masyarakat.

"Saya pernah mengusulkan dan memberikan ide begini. Sekolah-sekolah perlu ada study tour ke federasi-federasi. Jadi misalkan anak kelas empat SD study tour ke federasi karate, atau renang, jadi pelatnas-pelatnas mana di Jakarta gitu, tempat latihan mereka jadi tujuan study tour gitu. Untuk apa? Agar mereka mengenal ada judo, ada atletik. Oh atletik tuh
ada nomor apa saja. Nanti mereka akan tahu dan bisa sajs tertarik," tandasnya. (Ant/Z-11)

BERITA TERKAIT