02 October 2022, 22:20 WIB

Timnya Kalah pada El Tari Memorial Cup, Suporter Tuan Rumah Lembata Jadi Saudara Bagi Tim Lawan


Alexander P Taum |

DI Malang, Jawa Timur, suporter mengamuk ketika Tim Arema kalah 2-3 dari tim tamu Persebaya Surabaya. Korban pun berjatuhan.

Suasana berbeda terjadi di laga Liga Tiga El Tari Memorial Cup yang berlangsung di Lembata, Nusa Tenggara Timur. Tim tuan rumah Persatuan Sepak Bola Lembata kalah dari tamunya Perse Ende, akhir pekan lalu.

Namun, bukan amukan yang ditunjukkan pendukung tim tuan rumah. Mereka menerima kekalahan dan merangkul para suporter dari Kabupaten Ende. Tidak ada kerusuhan, sampai seluruh penonton keluar dari stadion.

Irenius Suciadi, Ketua Panitia turnamen bergengsi di Provinsi Nusa
Tenggara Timur itu mengatakan, penonton yang hadir di GOR 99, sebanyak
50 ribu orang.

Sementara Red Boys (sebutan bagi suporter Perse Ende) berada di tengah
puluhan ribu massa tuan rumah yang mengitari stadion GOR 99.

Hingga 90 menit, usai babak kedua, kedudukan imbang 2-2. Pada babak
penambahan waktu, 2x15 menit, tidak ada penambahan gol. Hingga dilakukan adu pinalti dengan skor akhir 3-2 untuk keunggulan Perse Ende.

Suporter Persebata, Lomblen Mania terus meneriakkan yel-yel menyejukan
suasana.

"Kalah, rusuh, kalah rusuh, itu bukan Kem (kami) pu (Punya) gaya, buat
apa rusuh, buat apa rusuh, rusuh itu tak ada gunanya," demikian nyanyian para Lomblen Mania yang membahana di tengah kesedihan ribuan penonton tuan rumah.

Namun, hingga penyerahan hadiah usai, seluruh warga kembali dengan
tertib. Bahkan, Lomblen Mania, suporter Persebata Lembata terus
menyanyikan yel, "Ende-Lomblen, kita Saudara". Tidak provokatif dan
membakar suasana.

Tak hanya itu, suporter Lomblen Mania mengantar kembali Pemain dan
official Perse Ende ke Pelabuhan laut Lewoleba untuk kembali ke kampung
halaman dengan membawa trophy kejuaraan El Tari Memorial cup.

"Sedih. Saya mengutuk keras kejadian di Stadion Kanjuruan, Malang. Kami
juga sekaligus bangga, seandainya saja Lomblen Mania ngotot Persebata
harus menang, maka mungkin saja anak-anak red boys (sebutan bagi
suporter Perse Ende) habis juga hari itu. Jadi saya bangga terlahir dari tanah ini," ungkap Ista, salah satu Srikandi Tribun Lomblen Mania,
sebutan Suporter Persebata.

Penonton memenuhi tribun hingga sekeliling lapangan yang hanya dibatasi
pagar kayu  pengaman agar suporter tidak masuk lapangan.

"Lomblen Mania terbentuk dari beberapa rayon dan masing-masing punya
koordinator. Kita memang komit untuk menciptakan suasana persaudaraan,
apapun hasil di lapangan. Teman-teman ini punya peran besar mencegah
hal-hal di luar dugaan dengan saling mengingatkan satu sama lain. Para
koordinator bertanggungjawab atas anggotanya dan yel-yel yang agak
provokatif tidak dibawakan saat grand final kemarin," ungkap Ista.

Irsan Adu Dara, koordinator Lomblen Mania, menegaskan, makna sportifitas dan fairplay dalam sepak bola sesungguhnya adalah mempererat solidaritas antarsesama manusia.

"Kita bersyukur karena puluhan ribu penonton tuan rumah Grand final ETMC tidak rusuh saat tim kebanggan kita kalah dari Perse Ende. Itu sebenarnya ujian bagi koordinator suporter, mengantar emosi massa
penonton dengan yel-yel yang tidak memancing emosi dan berbuat rusuh,"
ungkap Irsan.

Pemuda ini terus menerus mendendangkan yel-yel dengan pesan teduh
sepanjang pertandingan grand final ETMC ke 31 Lembata, hingga terjalin
silahturahmi yang baik dengan suporter Perse Ende.

"Kita merasa menjadi saudara dengan Red Boys sekarang. Kan enak sepak
bola kita berkembang dalam situasi menyenangkan dan pasti lebih maju,"
ungkap Irsan. (N-2)

BERITA TERKAIT