12 August 2022, 09:45 WIB

Keluarga Korban Tragedi Olimpiade 1972 akan Boikot Upacara Peringatan di Jerman


Basuki Eka Purnama |

KELUARGA atlet Israel yang terbunuh dalam insiden saat Olimpiade 1972, Kamis (11/8), menolak tawaran baru kompensasi dari pemerintah Jerman dan memutuskan memboikot upacara peringatan 50 tahun tragedi tersebut.

Dalam surat yang dialamatkan kepada Kepala Negara Bagian Bavaria Markus Soder, keluarga 11 atlet Israel yang tewas di Olimpiade Muenchen mengatakan menolak undangan untuk hadir dalam upacara peringatan pada 5 September mendatang.

Keluarga-keluarga tersebut menuntut permintaan maaf resmi dari Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier atas kesalahn dan kegagalan dalam mengatasi situasi penyanderaan kala itu.

Baca juga: Ini Slogan Olimpiade Paris 2024

Pada 5 September 1972, delapan orang bersenjata menyerbu ke penginapan tim Israel di perkampungan atlet Olimpiade, menembak mati dua orang dan menyandera sembilan atlet lainnya. Mereka mengancam akan membunuh para sandera kecuali 232 tahanan Palestina dibebaskan.

Kepolisian Jerman Barat menanggapi situasi penyanderaan dengan melancarkan operasi penyerbuan yang berujung pada tewasnya kesembilan sandera serta lima dari delapan pelaku penyanderaan, serta seorang polisi.

Dalam surat yang didapatkan oleh AFP, keluarga para atlet Israel yang tewas dalam insiden itu menuntut pemerintah Jerman membuka semua dokumen terkait serangan teror itu dan kemudian memberikan kompensasi yang adil kepada mereka.

Ankie Spitzer, yang suaminya Andre Spitzer tewas dalam insiden itu, mengatakan pemerintah Jerman telah sepakat meminta maaf secara resmi dan membuka dokumen mereka.

Namun, menurut Spitzer, yang menjadi juru bicara keluarga atlet korban peristiwa teror itu, belum ada kesepakatan mengenai kompensasi yang sesuai dengan aturan internasional.

"Mereka mengatakan jumlahnya harus proporsional dengan apa yang diterima korban teror di Jerman. Namun, Anda tidak bisa membandingkan keduanya karena teror lokal tidak sama dengan teror internasional dan pemerintah Jerman bukanlah pihak yang salah," tegasnya. (AFP/OL-1)
 

BERITA TERKAIT