13 June 2022, 12:45 WIB

Sakit Punggung karena Porpoising, Hamilton Terancam Absen di GP Kanada


Basuki Eka Purnama |

MERCEDES khawatir Lewis Hamilton tidak fit untuk membalap di GP Kanada, akhir pekan depan, setelah sang juara dunia tujuh kali Formula 1 itu sakit punggung parah karena efek porpoising mobilnya di GP Azerbaijan, Minggu (12/6).

Pembalap Inggris itu finis P4 di Baku, setelah start dari P7 saat dua pembalap Ferrari gagal finis karena masalah teknis.

Hamilton bahkan mendapat voting terbanyak dari penonton sebagai pembalap terbaik hari itu, Namun, tampil kencang hari itu ada konsekuensinya.

Baca juga: Verstappen Kampiun di GP Azerbaijan 

"Dia sangat parah," kata bos tim Mercedes Toto Wolff. "Kami harus menemukan solusi. Saya rasa dia mungkin yang paling parah terkena efeknya dibandingkan seluruh pembalap."

Ketika ditanya apakah ada risiko kehilangan Hamilton di Montreal, Wolff menjawab, "Iya, pastinya. Saya belum melihat dia dan saya belum bicara dengannya setelah ini, tapi Anda bisa melihat bahwa ini bukan lagi soal otot."

"Maksud saya, ini mempengaruhi tulang punggung dan bisa memiliki sejumlah konsekuensi," lanjutnya.

Hamilton, memegangi punggungnya saat keluar dari mobil, membandingkan pengalamannya membalap itu layaknya menghabiskan sesi krioterapi selama empat menit dan mengatakan ia fokus terhadap orang-orang yang mengandalkannya untuk mencetak poin.

"Melihat di daring bahwa banyak orang khawatir tentang saya dan bagaimana buruknya terlihat dari luar sana. Ini sangat berarti, banyak dari kalian yang mengirimkan perhatian," tulis Hamilton di media sosial.

"Saya akan katakan sebenarnya ini terlihat buruk dan terasa 100 kali lebih parah. Pastinya akan butuh pemulihan dan kerja keras dengan tim sebelum Montreal untuk mengatasi rintangan ini."

"Meski demikian, saya sudah merasa lebih baik dan termotivasi untuk terus menekan. Sampai jumpa pekan depan," lanjutnya.

Rekan satu tim Hamilton, George Russell, yang finis ketiga, pada Sabtu (11/6) memperingatkan bahaya dari porpoising bagi pembalap di Formula 1 musim ini.

Fenomena itu, yang mana mobil memantul-mantul ketika melaju dalam kecepatan tinggi karena grip aerodinamika timbul dan tenggelam, menyerupai gerakan lumba-lumba yang berenang di air, muncul sebagai efek samping perubahan regulasi besar-besaran tahun ini.

Regulasi mengatur mobil generasi sekarang mendapat sebagian besar keuntungan aerodinamika lewat kolong mobil mereka.

"Saya rasa tinggal soal waktu sebelum kita melihat kejadian besar," kata Russell setelah kualifikasi GP Azerbaijan, Sabtu (11/6).

"Banyak dari kami tidak dapat menjaga mobil di lintasan lurus karena (efek) memantul itu, kami melaju di dua tikungan terakhir dalam kecepatan 300 kilometer per jam, Anda bisa melihat jelas di atas lintasan, bagaimana mobil sangat dekat dengan permukaan tanah."

"Saya tidak tahu bagaimana di masa depan tapi saya kira kami tidak dapat mengalami ini untuk tiga tahun lagi atau selama apapun regulasi ini diterapkan," imbuhnya.

Bos tim Red Bull Christian Horner, yang mendapati kedua pembalapnya; Max Verstappen dan Sergio Perez, finis 1-2 di Baku mengatakan ada upaya tim-tim rival membawa isu tersebut untuk melakukan perubahan regulasi.

"Anda bisa melihat itu tidak nyaman tapi ada obatnya untuk hal tersebut," kata Horner soal porpoising. "Akan tetapi itu memiliki efek negatif terhadap performa mobil. Jadi hal termudah yang bisa mereka lakukan adalah mengeluh dari sudut pandang keselamatan."

Meninggikan mobil dapat meredam efek dari pantulan tersebut namun akan berdampak terhadap performa.

Mercedes, yang begitu dominan dalam delapan musim terakhir, menjadi tim yang paling parah terdampak dari porpoising tahun ini. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT