16 February 2022, 12:24 WIB

Jika Ada Kewajiban Vaksin Covid-19, Djokovic Pilih Absen di Turnamen Grand Slam


Basuki Eka Purnama |

NOVAK Djokovic mengatakan siap melewatkan Prancis Terbuka dan Wimbledon jika vaksinasi covid-19 menjadi syarat wajib untuk mengikuti kedua turnamen Grand Slam meski dia mengklaim tidak menentang vaksinasi.

Djokovic, yang menolak divaksin covid-19, dilarang bertanding di Australia Terbuka tahun ini, membuat petenis berusia 34 tahun itu kehilangan kesempatan untuk menjadi petenis putra tersukses sepanjang masa dengan 21 gelar Grand Slam.

Petenis nomor satu dunia itu malah dideportasi dari Australia setelah drama 11 hari yang melibatkan dua pembatalan visa, dua sidang banding, dan lima malam dalam dua kali penahanan di hotel detensi imigrasi tempat para pencari suaka ditahan.

Baca juga: Djokovic Bertahan di Peringkat Satu Dunia

"Saya memahami konsekuensi dari keputusan saya," kata Djokovic, Selasa (15/2), sembari menambahkan dia siap untuk tidak melakukan perjalanan ke Australia karena statusnya yang belum divaksinasi.

"Saya mengerti bahwa tidak divaksinasi hari ini, saya tidak dapat melakukan perjalanan ke sebagian besar turnamen saat ini. Ya, itulah harga yang bersedia saya bayar," lanjutnya.

Djokovic berharap dapat berkompetisi selama 'bertahun-tahun lagi' tetapi dia menambahkan kebebasan untuk memilih apa yang ingin dia masukkan ke dalam tubuh lebih penting baginya daripada gelar apa pun.

Namun, petenis Serbia itu menjauhkan diri dari gerakan antivaksinasi dan mengatakan bahwa dia tetap berpikiran terbuka untuk menerima suntikan.

"Saya tidak pernah menentang vaksinasi," kilah Djokovic, menambahkan dirinya mendapatkan vaksinasi saat masih anak-anak.

"Tapi, saya selalu mendukung kebebasan untuk memilih apa yang Anda masukkan ke dalam tubuh Anda."

"Saya mengerti bahwa secara global, semua orang berusaha keras untuk menangani virus ini dan berharap, semoga, virus ini segera berakhir," lanjutnya.

Djokovic, yang memenangi Wimbledon dan Prancis Tebruka tahun lalu, akan kembali beraksi di turnamen ATP di Dubai, pekan depan, untuk pertama kalinya sejak dia dideportasi dari Melbourne menjelang Australia Terbuka.

Djokovic memicu kemarahan yang meluas di Australia ketika dia diberi pengecualian medis dari kewajiban vaksinasi covid-19 untuk berkompetisi di Melbourne Park dengan alasan bahwa dia baru-baru ini tertular virus korona tersebut.

Namun, dia ditahan oleh otoritas imigrasi pada saat kedatangan, dibebaskan oleh perintah pengadilan, dan kemudian ditahan lagi sebelum akhirnya dideportasi.

Kasus tersebut memicu perdebatan global dan Menteri Imigrasi Australia Alex Hawke mengatakan Djokovic bisa menjadi ancaman bagi ketertiban umum di negara itu karena kehadirannya akan mendorong sentimen antivaksinasi.

"Saya benar-benar sedih dan kecewa dengan bagaimana semuanya berakhir bagi saya di Australia," kata Djokovic, menambahkan bahwa dia dideportasi meski mengikuti semua aturan. "Itu tidak mudah."

"Alasan mengapa saya dideportasi dari Australia adalah karena Menteri Imigrasi menggunakan kebijaksanaannya untuk membatalkan visa saya berdasarkan persepsinya bahwa saya mungkin menciptakan sentimen antivaksin di negara atau di kota tersebut, yang sama sekali tidak saya setujui," pungkasnya. (Ant/OL-1)

BERITA TERKAIT