22 November 2021, 07:21 WIB

Sekjen Pordasi Wakili Delegasi Federasi Nasional di FEI, ini Hasilnya


Muhamad Fauzi |

KETUA Umum PP Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia (Pordasi) Triwatty Marciano dan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Adinda Yuanita, mewakili Indonesia menghadiri rapat majelis umum Federasi Equestre International (FEI) di Belgia, pada Kamis (17/11).

Dalam keterangan tertulis yang diterima, Senin (22/11), Sekjen PP. Pordasi, Adinda Yuanita, terpilih menjadi salah satu perwakilan Delegasi Federasi Nasional bersama dua delegasi lainnya, dari Maroko dan Belgia.

Dari pemungutan suara, 87 suara memilih “Yes” dan 0 suara memilih “No” untuk persetujuan para Scrutineers yang terpilih. Tentunya, ini pertama kali dalam sejarah, delegasi Indonesia dipilih langsung oleh anggota dewan FEI untuk melakukan kontribusi langsung saat General Assembly. Terutama, dukungan penuh para delegasi lainnya untuk posisi Adinda, momen yang membanggakan dalam sejarah dunia berkuda di Indonesia.

Acara dibuka dengan sambutan dari Presiden FEI, Ingmar De Vos, yang telah menjabat sejak tahun 2014. Pemungutan suara pertama dilakukan untuk menyutujui para Anggota Pengawas (Scrutineer) pada General Assembly ini yang dipilih langsung oleh Fransisco Lima, Direktur FEI Governance & Institutional Affairs.

General Assembly dilanjutkan dengan beberapa diskusi antar para delegasi Federasi Nasional dan anggota dewan FEI, salah satunya adalah insiden di cabang olahraga Modern Pentathlon pada Olimpiade Tokyo 2020. Pembahasan topik ini dipimpin oleh Horse World Welfare (WHW) yang merupakan organisasi utama di dunia untuk penggalangan dana dan juga partner dari FEI untuk bekerja sama mengawasi kesejahteraan kuda.

Pihak dari WHW menyimpulkan bahwa insiden ini tidak merepresentasikan komunitas olahraga equestrian. Para anggota dewan FEI akan terus bekerja keras untuk memberikan edukasi kepada para individu mengenai pentingnya Kesejahteraan Kuda atau “Horse Welfare” yang merupakan fondasi dari olahraga equestrian, dimana rider dan kuda memiliki hak yang sama sebagai atlet.

Berhubungan dengan hal ini, PP Pordasi ke depannya harus lebih ketat mengawasi rider untuk ikut bertanding dalam kelas tertentu yang sesuai dengan kemampuannya, sehingga campaign “Horse Welfare” yang digadangkan FEI tetap terjaga.

Pemungutan suara pada General Assembly dilanjutkan untuk menyutujui perubahan-perubahan peraturan di semua disiplin equestrian. Salah satu agenda dari sesi pemungutan suara ini, merupakan highlight dari General Assembly, yaitu persetujuan untuk pergantian format Sistem Kualifikasi Cabang Olahraga Equestrian pada Olimpiade 2024 di Paris.

Topik pembahasan terbesar dari pergantian format ini adalah jumlah anggota untuk Tim ketiga disiplin, dressage, show jumping dan eventing. Hasil suara menunjukan sebagian besar Federasi Nasional menyutujui format yang baru. Untuk keputusan persetujuan anggota tim menjadi 3 pasangan atlet rider dan kuda, 70 federasi nasional memilih ‘Yes’ dan 30 memilih ‘No’. Lalu pemungutan suara terpisah untuk persetujuan format baru secara keseluruhan untuk olahraga equestrian di Olimpiade Paris 2024 menunjukan hasil 81 suara untuk ‘Yes’ dan 15 suara untuk ‘No’.

Format yang baru ini didukung oleh Presiden nternKomite Olimpiade Iasional (International Olympic Committee atau IOC), Thomas Bach, dimana beliau selalu memastikan bahwa disiplin olahraga olimpiade harus selalu mengikuti konsep Olympic Movement, yaitu “Universality” atau “Kebersamaan” dalam bersaing sehat pada olahraga.

Persetujuan format baru untuk equestrian memberikan kesempatan untuk memajukannya menjadi salah satu cabang olahraga terbaik di Olimpiade karena meningkatnya dukungan untuk lebih banyak negara-negara berkembang yang semakin dirangkul oleh para Federasi Internasional.

Nilai kebersamaan dan inklusivitas merupakan faktor utama yang mendorong keputusan format baru ini yang tidak hanya menguntungkan satu kelompok di komunitas internasional, tetapi seluruh anggota-anggota Federasi Nasional FEI untuk memajukan equestrian bersama.

Sejarah Equestrian Indonesia

Sebagai perwakilan Indonesia, Adinda diterima oleh seluruh pemilih. “Hasil voting 100% menerima saya sebagai salah satu dewan pengawas untuk pengambilan keputusan-keputusan strategis selama FEI Extraordinary & Ordinary General Assembly 2021 di Antwerp, Belgia. Hal ini menandakan peran dan suara Indonesia (PP.Pordasi) sangat diterima dan didengar oleh FEI dan negara-negara anggotanya,” lanjutnya.

“Ada dua keputusan yang paling strategis bagi Indonesia untuk mendapatkan posisi sebagai peserta di Olimpiade Paris 2024. Yang pertama adalah berubahnya jumlah anggota tim untuk disiplin jumping, dressage dan eventing. Keputusan kedua adalah terkait berubahnya sistem kualifikasi Olimpiade Paris 2024. Perubahan ini membuat kesempatan Indonesia menjadi lebih lebar untuk masuk kualifikasi Olimpiade 2024,” sambungnya.

“FEI adalah lembaga internasional tertinggi untuk cabor equestrian yang juga merupakan anggota International Olympic Committee (IOC) dimana semua keputusannya dilakukan secara demokratis, transparan dan mengedepankan ‘horse welfare’.” tambah Adinda.

“Satu langkah perjuangan telah terlewati, setelah ini langkah besar PP.Pordasi adalah menyusun strategi untuk segera mengikuti kualifikasi Olimpiade 2024 yang akan dimulai tahun depan," tutup Sekjen PP.Pordasi. (OL-13)

BERITA TERKAIT