29 September 2021, 18:07 WIB

Manny Pacquiao: Dari Ring Tinju Menuju Istana Malacanang


Widhoroso | Olahraga

BAGI rakyat Filipina, Manny Pacquiao merupakan sumber inspirasi terutama bagi mereka yang hidup dalam kemiskinan. Berasal dari keluarga miskin, Pacquiao menjelma menjadi kebanggaan Filipina setelah menjadi legenda tinju dunia.

Selama berkarier di ring tinju, pria berusia 42 tahun itu, menjadi salah satu yang terbaik dengan meraih juara dunia untuk delapan kelas berbeda. Kini, petinju berjuluk Pacman tersebut telah memutuskan untuk gantung sarung tinju alias pensiun.

Selama kariernya, Pacquiao telah melakoni 72 laga dengan raihan 62 kemenangan (39 KO), 8 kalaha dan 2 draw. Pacquiao terakhir naik ring pada 21 Agustus 2021 silam menghadapi petinju Kuba, Yordenis Ugás. Dalam perebutan sabuk juara dunia kelas welter super WBA itu, Pacquiao menelan kekalahan angka.

Usai pensiun dari ring tinju, Pacquiao kini terjun ke dunia politik. Ia menyatakan akan mempersiapkan diri dalam pemilihan presiden Filipina tahun depan.

Pacquiao lahir pada 17 Desember 1978 dengan nama Emmanuel Dapidran di  kawasan miskin wilayah Bukidnon, Mindanao Utara. Pacquiao besar di General Santos City. Dia putus sekolah pada usia 14 tahun, menjual donat di pinggir jalan dan menjadi penumpuk bahan makanan untuk membantu ibunya menghidupi dua adiknya.

Dengan bakat luar biasa yang dimiliki, Pacquiao kemudian menjadi petinju profesional pada usia 17 tahun. Debuit profesionalnya di ring tinju dilakoni 22 Januari 1995 saat menghadapi petinju Filipina lainnya, Edmund Enting dan sukses meraih kemenangan.  

Setelah itu, 10 laga selanjutnya mampu dilalui Pacquiao dengan kemenangan. Kekalahan pertamanya didapat di laga ke-12 saat menghadapi petinju Filipina, Rustico Torrecampo, 9 Februari 1996.

Nama Pacquiao mulai menjadi pusat perhatian tinju dunia setelah ia merebut sabuk juara tinju kelas bulu OPBF dengan mengalahkan petinju Thailand, Chokchai Chockvivat, 26 Juni 1997 dengan kemenangan KO di ronde kelima. Setelah itu, Pacquiao yang kidal dan memiliki pukulan keras dan cepat serta footwork sempurna, mulai merambah dunia.

4 Desember 1998 menjadi momentum Pacquiao menancapkan kuku di kancah tinju dunia dengan merebut sabuk juara dunia kelas bulu WBC dengan mengalajkan petinju Thailand, Chatchai Sasakul dengan KO di ronde kedelapan. Setelah itu, gelar-gelar juara dunia tinju diraih Pacquiao antara lain kelas super bantam  WBC dan IBF, WBO, kelas bulu super WBA, IBF, IBA dan WBC International, kelas ringan WBC, kelas welter ringan IBO and The Ring, kelas welter WBO dan WBA, serta kelas welter super WBC WBA.

Setelah hampir tiga dekade menekuni dunia tinju, Pacquiao kini memutuskan untuk gantung sarung tinju. Dunia politik kini menjadi 'arena' baru yang ingin diterjuni Pacquiao. Pemilihan presiden Filipina tahun depan, akan menjadi 'arena pertarungan' Pacquiao selanjutnya untuk mengantar dirinya ke Istana Malacanang sebagai orang nomor satu di negaranya. (OL-15)

 

BERITA TERKAIT