09 September 2021, 11:30 WIB

Raducanu Mengaku Berhasil Capai Semifinal AS Terbuka karena Pecaya Diri


Rifaldi Putra Irianto | Olahraga

PETENIS muda Inggris Emma Raducanu melanjutkan mimpi besarnya dengan mencapai semifinal Amerika Serikat (AS) Terbuka 2021, usai merebut kemenangan straight set atas juara Olimpiade Tokyo 2020 Belinda Bencic, Kamis (9/9) WIB.

Datang ke New York sebagai petenis kualifikasi, Raducanu tampil lepas di babak perempat final. Menembakan sejumlah pukulan keras, Raducanu, yang saat ini menduduki peringkat 150 dunia, merebut kemenangan dengan skor akhir 6-3 dan 6-4.

Berbicara terkait kemenangannya atas Bencic, petenis berusia 18 tahun itu mengatakan dia tidak menyangka akan melaju sejauh ini di AS Terbuka.

Baca juga: Zverev Janjikan Penampilan Terbaik di Semifinal AS Terbuka

"Saya sama sekali tidak menyangka akan berada di sini (semifinal). Saya tidak berkompetisi selama 18 bulan, tetapi di sini saya sekarang. Saya hanya ingin mengatakan jika Anda percaya pada diri sendiri maka segala sesuatu akan mungkin terjadi," kata Raducanu usai pertandingan dikutip dari AFP, Kamis (9/9).

Petenis Inggris itu bisa menjadi petenis kualifikasi pertama yang mencapai final Grand Slam jika dia merebut kemenangan atas petenis Yunani Maria Sakkari di babak semifinal. 

Tapi, Raducanu menolak menghayal terlalu tinggi dan lebih memilih bekerja keras di pertandingan semifinal.

"Saya sama sekali tidak ingin mendahului diri saya sendiri, karena saya hanya ingin berjuang satu demi satu pertandingan. Jika saya dapat menjaga apa yang bisa saya kendalikan, saya rasa itu akan memberi saya kesemparan terbaik," sebut Raducanu.

"Saat ini saya telah melakukannya dengan sangat baik, dan itu membuat saya ingin terus melakukannya," jelasnya.

Jika Raducanu berhasil meraih gelar AS Terbuka, dia akan menjadi petenis putri Inggris pertama yang memenangkan gelar Grand Slam sejak Virginia Wade, yang memenangkan Wimbledon pada 1977. 

Dia juga akan menjadi petenis putri Inggris pertama yang memenangkan AS Terbuka sejak Wade pada 1968. (AFP/OL-1)

BERITA TERKAIT