06 September 2021, 16:50 WIB

Sapta Kunda, Tokoh di Balik Sukses Dua Emas Indonesia di Paralimpiade


WIdjajadi | Olahraga

KESUKSESAN atlet para badminton Indonesia merebut medali emas di ajang Paralimpiade Tokyo 2020, ternyata tidak lepas dari tangan dingin Sapta Kunta Purnama. Ia seorang doktor olahraga di Fakultas Keolahragaan (FKOR) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Kejelian dan keprofesionalan Sapta yang dipercaya NPC Indonesia, sebagai pelatih dan sekaligus manajer tim parabadminton Indonesia, memberikan andil besar dalam sukses berburu medali emas di ajang olahraga disabilitas sejagat di Tokyo, Jepang yang reami ditutup Minggu (5/9) kemarin.

Dua medali emas tersebut disumbang oleh cabang parabadminton di nomor ganda putri yakni Leani Ratri Oktila/Khalimatus Sadiyah dan ganda campuran Hery Susanto/Leani Ratri Oktila.

Semangat pantang menyerah dua pasangan nomor ganda putri dan campuran itu sejak babak penyisihan hingga final, berkat campur tangan Sapta di pinggir lapangan. Pria yang menjabat sebagai Dekan FKOR UNS itu tiada kenal lelah menyemangati para anak asuhnya dari pinggir lapangan.

Sapta Kunta tiada henti memberikan instruksi dan arahan dari pinggir lapangan, berikut strategi yang harus dilaksanakan anak-anak asuhnya. "Tanggung jawab saya sebagai pelatih, bagaimana para pemain terus termotivasi, tidak gugup dan bermain efektif menghadapi lawan mereka," ungkap Sapta, Senin (6/9).

Ternyata peran dan tanggung jawab sebagai pelatih atlet parabadminton tidak sia sia. Dua pasangan ganda putri dan ganda campuran berhasil dan sukses mendulang medali emas, hingga Merah-Putih berkibar di atas podium.

"Saya sangat puas dengan hasil yang diraih anak anak di ajang Paralimpiade Tokyo 2020. Target emas dari cabor badminton tercapai.  Saya berharap medali emas ini dapat memberikan suka cita dan kegembiraan rakyat Indonesia di tengah kesedihan pandemi covid-19," kata pria pengampu Program Studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga UNS ini.

Yang jelas, lanjut pria 53 tahun, itu, keberhasilan Leani Ratri Oktila/Khalimatus Sadiyah dan ganda campuran Hery Susanto/Leani Ratri Oktila merebut emas, berkat persiapan panjang yang dilalui selama pelatihan nasional di Solo.

Para atlet disabilitas sudah disiapkan sejak 2019 lalu untuk mengikuti ASEAN Paragames 2019 di Filipina, yang batal digelar. Pemusatan latihan menuju Paralimpiade Tokyo terus berlanjut intensif sejak Oktober 2020 di Kota Solo.

Para pelatih harus pintar dan memberikan pendampingan tidal kenal lelah kepada para atlet disabilitas, seiring adanya situasi pandemi covid, yang diikuti berbagai regulasi pemerintah lewat kebijakan  Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Guna memberikan suasana nyaman bagi atlet berlatih selama pemberlakuan PPKM, Sapta Kunta akhir berinisiatif meminta izin Rektor UNS Prof Jamal Wiwoho menggunakan Gedung Olahraga (GOR) FKOR UNS yang baru selesai dibangun sebagai tempat latihan para atlet NPC Indonesia.

"Alhamdulillah Pak Rektor mengizinkan. Akhirnya kami bisa latihan di GOR FKOR UNS. Pak Rektor memang sangat peduli dengan para atlet. Bahkan setiap hari saat sejak di Machida sampai di Tokyo itu beliau nelpon saya menanyakan perkembangan di sini," tambah dosen kelahiran Boyolali itu.

Raihan dua emas diharapkan dapat membayar kerja keras semua atlet, pelatih, dan ofisial selama ini. Dia berharap prestasi ini dapat membukakan jalan bagi penyandang disabilitas agar mereka diberi kesempatan dan hak yang sama.

Sapta Kunta bersama tim parabadminton akan kembali ke Indonesia pada Senin (6/9). Setiba di Jakarta, kontingen kebanggaan Indonesia ini menjalani isolasi mandiri selama delapan hari terlebih dahulu.

Setelah itu, mereka akan dijadwalkan menemui Presiden Joko Widodo di Istana Negara.

"Tadi kami sudah ditelpon Pak Jokowi. Nanti pas pulang ke Indonesia diminta untuk menemui beliau di Istana, tapi kami harus isoman dulu delapan hari," papar Sapta. (N-2)

BERITA TERKAIT