29 May 2021, 14:45 WIB

Olimpiade Tokyo tidak akan Dihadiri Penonton


Lidya Tannia Bangguna | Olahraga

JEPANG memperpanjang keadaan darurat covid-19 di Tokyo dan daerah lain. Jika beberapa bulan yang lalu diumumkan bahwa penggemar dari luar negeri dilarang hadir memeriahkan acara ini, kini para penggemar lokal pun bernasib sama.

Diketahui, Tokyo dan sembilan daerah lain di negara itu mengumumkan keadaan darurat hingga 20 Juni, sebulan sebelum olimpiade tersebut dimulai pada 23 Juli. Para ahli menyetujui proposal awal pemerintah tentang perpanjangan keadaan darurat ini. Perdana Menteri Yoshihide Suga juga secara resmi mengumumkan keputusan tersebut pada Jumat (28/5).

Setelah pengumuman tersebut, ketua panitia Seiko Hashimoto mengisyaratkan bahwa semua penggemar mungkin dilarang datang tempat olimpiade. Namun ia pun akan segera membuat keputusan setelah keadaan darurat dicabut.  

"Kami ingin membuat keputusan sesegera mungkin (tentang penggemar), tetapi setelah keadaan darurat dicabut, kami akan pikirkan," kata Hashimoto pada pengarahan mingguannya.

Meningkatnya kasus covid-19 di negara tersebut mendorong masyarakat untuk menunda atau membatalkan penyelenggaraan Olimpiade tersebut. Namun, para pemimpin Tokyo 2020 tetap berkukuh bahwa acara tersebut akan tetap berlangsung meskipun harus tertunda.

 

"Ada banyak orang yang mengatakan bahwa untuk Olimpiade kami harus berjalan tanpa penonton, meskipun cabang olahraga lain menerima penonton," ujarnya. Keadaan darurat Jepang seharusnya berakhir pada akhir Mei di sebagian besar wilayah. Namun pemerintah mengatakan perlu lebih banyak waktu untuk mengendalikan gelombang keempat covid-19.

 

"Tingkat keseluruhan (infeksi) terus tinggi," kata Menteri Revitalisasi Ekonomi, Yasutoshi Nishimura. Perpanjangan itu diperlukan karena orang-orang semakin sering berkeliaran di tempat-tempat umum, terutama Tokyo dan Osaka. Dikhawatirkan, mencabut langkah-langkah tersebut akan menyebabkan peningkatan instan infeksi.

"Di Osaka dan Tokyo, arus orang mulai meningkat, dan ada kekhawatiran bahwa infeksi akan meningkat," kata Nishimura dalam pertemuan dengan para ahli. Jepang telah mencatat lebih dari 730.000 infeksi dan 12.500 kematian akibat virus. Pemerintah baru memberikan dosis vaksinasi pertama kepada lebih dari 6% populasinya dan hanya 2,3% telah divaksinasi penuh. (OL-14)

BERITA TERKAIT