19 March 2021, 19:45 WIB

Icuk Sugiarto : Skandal All England Harus Disikapi Secara Bijak  


Dero Iqbal Mahendra | Olahraga

 KEJADIAN yang menimpa tim bulutangkis Indonesia di ajang All England 2021 diharapkan dapat dilihat dengan kepala dingin. Hal tersebut disampaikan oleh mantan pebulutangkis nasional Icuk Sugiarto. 

Menurutnya tidak ada pihak yang secara sengaja ingin menjatuhkan Indonesia untuk mendapatkan keuntungan dari absennya Indonesia di ajang All England. 

“Tidak ada sama sekali pemerintah Inggris dengan sengaja merugikan pihak Indonesia. Begitu juga panitia All England dengan sengaja membuat ketidakadilan,” ujar Icuk saat dihubungi, Jumat (19/3). 

Ia menuturkan tiap negara memiliki protokol kesehatan masing masing dan Inggris hanya menerapkan protokol kesehatan mereka di negaranya. Menurutnya harus dipisahkan hal teknis antara kebijakan prokes dengan kepentingan atlet.

“Mereka tidak melihat siapa yang ada di pesawat, apakah itu altet atau siapa. Inggris serius melaksanakan regulasi kesehatannya, jadi tidak ada keuntungan bagi mereka (menjegal Inonesia),” ujar Icuk.

Ia menilai hubungan antara kedua negara saat ini cukup baik dan harmonis. Oleh sebab itu ia berharap semua pihak mengedepankan kepala dingin dalam melihat situasi ini.

“Hubungan kedua negara itu baik, dan kalaupun menggugurkan Indonesia tidak berarti atlet Inggris juga menjadi juara All England. Dari kaca mata itu saya sedih melihat berbagai provokasi yang ada. Jangan sampai hal tersebut justru memperuncing hubungan antara kedua negara dan membuat hubungan yang baik menjadi tidak baik,” ungkap Icuk.

Menurutnya apa yang terjadi bagi atlet Indonesia merupakan kebetulan semata. Isloasi mandiri itu diperlukan untuk observasi agar virus itu tidak menyebar. 

Baca juga : Buntut Skandal All England, PBSi Siapkan Opsi Sewa Pesawat

Persoalan ini lebih kepada pihak Inggris yang menerapkan regulasi kesehatan. Ketika regulasi itu dijalankan federasi olahraga tentu harus tunduk akan aturan tersebut. 

“Kedepan apapun cabang olahraganya korespondensi dan minta tolong ke KBRI setempat untuk bisa mendapatkan informasi terkini terkait penanganan pandemi. Sehingga kita sudah mengetahui aturan yang ada dan saat kita melakukan perjalanan sudah mempelajari aturannya,” pungkas Icuk. 

Dalam kesempatan berbeda Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf menyatakan, situasi itu sangat memprihatinkan dan mengecewakan. Bahkan di Komisi X merasa cukup marah terkait tidak adanya pemberitahuan terkait regulasi protokol kesehatan kepada peserta yang berangkat ke turnamen dari pihak panitia.

“Bila kita mengetahui aturan tersebut tentu tim kita bisa berangkat lebih awal. Dengan lebih awal kita bisa menghindari risiko, kalaupun harus diisolasi kita punya cukup waktu untuk menjalani prosedur yang ada. Bukan kemudian setelah kita bertanding kemudian dikatakan harus WO,” tutur Dede Yusuf.

Menurutnya tindakan yang meminta langsung untuk WO dari tim peserta merupakan sesuatu yang keterlaluan yang dilakukan dalam suatu turnamen berstandar internasional. Terlebih panitia tidak memberikan spare waktu untuk mencegah skenario isolasi mandiri. 

“Meski pada saat yang sama Kedubes Inggris menerangkan itu merupakan protokol kesehatan di negaranya. Tetapi BWF harus bertanggung jawab. Kami tetap protes dan meminta kepada pemerintah untuk melakukan protes bahwa penyelenggaran All England ini tidak memiliki kesiapan yang matang,” terang Dede.

Ke depannya Ketua Komisi X tersebut mengingatkan agar hal ini menjadi pembelajaran bagi cabor lainnya, dalam menjalani turnamen di internasional. Hal yang perlu diantisipasi terkait dengan waktu keberangkatan dan masa tenggang yang dibutuhkan untuk isolasi mandiri.

“Tentu ada biaya lebih yang harus keluar, tetapi ini penting untuk menjaga agar tidak seperti sekarang kondisinya. Semua cabor harus memperhitungkan worst case skenario yang mungkin terjadi dan mempersiapkan apapun yang dapat terjadi,” pungkas Dede Yusuf. (OL-7)

BERITA TERKAIT