18 May 2023, 11:42 WIB

Harga Gabah Tinggi, Pembeli Luar Lampung Selatan Angkat Tangan


Media Indonesia |

SUPPLIER (penyuplai) di luar Lampung Selatan (Lamsel) selama beberapa waktu terakhir menjelang musim panen sudah tidak mampu lagi membeli gabah kering panen (GKP) di daerah tersebut karena harga jualnya yang sudah terlalu tinggi. 

Harga rata-rata GKP petani di kawasan tersebut kini mencapai Rp 5.800 per kg dan harga di pabrik Rp 6.100 per kg. Harga tersebut juga sama dengan harga di pabrik luar daerah. 

Salah seorang supplier gabah di Lamsel, Rayon Timur mengatakan, dampak dari tingginya harga menyebabkan pembeli dari luar daerah memilih mundur karena harga beli sudah tidak masuk dengan harga jual beras di pasaran sebesar Rp 10.700 per kg.

Baca juga: Bulog Harus Gandeng Penggilingan Padi Kecil untuk Tingkatkan Serapan Beras

Supplier di Lampung lebih memilih memasok ke pabrik penggilingan setempat karena harganya sama dengan pabrik di luar daerah dan ongkos kirimnya lebih murah.

Sebagai gambaran, ongkos kirim ke Serang saat ini mencapai Rp 3 juta per mobil. Sedangkan biaya kirim ke Metro Lampung hanya Rp 1,3 juta per mobil.

Gabah di Lampung Selatan Lebih Banyak Dibeli Supplier Lokal

Hal itu menyebabkan gabah dari Lamsel lebih banyak dibeli oleh supplier lokal. "Tidak hanya satu-dua pembeli dari luar daerah yang tidak mampu menyerap,  hampir semua mengalami hal yang sama," kata dia saat ditemui. 

Lamsel saat ini menjadi incaran supplier lokal dan luar daerah untuk membeli gabah petani karena menjadi daerah terakhir yang panen pada musim tanam ini.

Baca juga: Pengamat Minta Bapanas Dorong Bulog Maksimalkan Serap Gabah Petani

Selain itu juga ada beberapa wilayah di Lampung dan luar daerah yang mengalami gagal panen. Hasil gabah Lamsel juga disebut sangat baik sehingga disukai pasar.

Tidak hanya saat ini, wilayah tersebut sebenarnya sudah sejak lama menjadi daerah penyuplai beras ke berbagai daerah, seperti Indramayu, Cirebon,  Subang, Cianjur, Serang, Balaraja hingga Medan.

Harga Gabah Sudah Tinggi dari Dulu

"Daerah ini sudah lama menjadi zona perang. Meskipun tidak ada perusahaan masuk ke sini, harga sudah tinggi sejak dari dulu," ujar dia. 

Akibat harga yang sudah tinggi tersebut, Rayon harus membeli gabah harus membeli ke daerah lain, termasuk Jawa Barat. 

Dia berharap ada cross check dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah sehingga dapat mengetahui kondisi di lapangan yang sebenarnya, dan jangan sampai petani menjadi korban jika harga jatuh saat panen.

Baca juga: BPS: Harga Gabah dan Beras Turun Karena Panen Raya Sudah Merata

Dia menduga ada upaya provokasi agar pembeli luar daerah tidak dapat masuk ke Lampung dengan tujuan mengurangi persaingan.
"Meskipun tidak ada perusahaan masuk kesini, harga sudah tinggi sejak dari dulu," ujar dia. 

Meski demikian, di satu sisi dia mengapresiasi harga yang sedang tinggi karena selama ini harga seringkali ditekan tengkulak akibat kurangnya pilihan akses pasar. Akibatnya keuntungan tidak banyak dinikmati petani.  

Terpisah, suplier lainnya, H Bashori menjelaskan, dari hasil pengamatannya di lapangan penggilingan padi di Lampung Tengah, Lampung Timur dan Metro masih beroperasi.

Baca juga: Ketidaksesuaian Harga Sebabkan Bulog Kesulitan Serap Gabah secara Maksimal

Dia mencontohkan salah satu penggilingan di Metro masih menerima setoran hingga 60 mobil per hari. "Ini masih satu penggilingan ya. Semua penggilingan di Metro masih jalan," kata H Bashori. 

Dia menilai, petani harus mendapatkan harga beli yang wajar agar mereka dapat menutupi modal dan memenuhi kebutuhan hidupnya. Harga GKP Rp 5.500 - Rp 5.800 per kg saat ini dinilai tepat agar mereka ikut menikmati keuntungan.

"Kalau harga di bawah itu, petani tetap menanam tapi mereka mungkin akan terlilit hutang karena modal dan kebutuhan hidupnya tidak tercukupi," ujar dia. (RO/S-4)

BERITA TERKAIT