29 November 2022, 16:28 WIB

Ada Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, Kuli di Pasar 16 Ilir Terjamin Hidupnya


Dwi Apriani |

TERIK mentari yang menyengat tak mematahkan semangat Anton, 45 tahun, kuli angkut di Pasar 16 Ilir. Cucuran keringat mengalir dari wajahnya usai mengangkut lebih dari 15 karung pupuk, Selasa (29/11) pagi.

Pria yang menggunakan kaos lengan panjang warna biru muda dengan celana pendek itu mengangkut karung-karung dari kawasan Pasar 16 Palembang menuju ke kapal jukung yang bersandar di dermaga kawasan Jembatan Ampera.

Jaraknya sekitar 100 meter dari lokasi gerobak dorong hingga ke kapal jukung tersebut. Agar muatan di gerobaknya habis, ia dan tiga rekannya
harus bolak-balik dengan beban lebih dari 20 kilogram di atas bahunya. "Harus cepat jalannya, agar berat karungnya tidak terasa," kata Anton saat mengangkut karung pupuk tersebut.

Sesekali terlihat Anton mengusap keringat dengan lengan bajunya. Diakui Anton, sehari ia bisa mengangkut lebih dari 30 karung. Tak hanya karung pupuk, ia juga mengangkut karung beras, karung semen hingga kotak mi instan.

"Saya sudah 13 tahun jadi kuli angkut di pasar ini. Hampir setiap hari. Kalau tidak kerja sehari, rasanya badan sakit semua karena sudah terbiasa," ucapnya.

Ayah dari 2 orang anak ini mengaku sering keseleo dengan berat beban yang tiap hari dipanggul. Namun seusai kerja, ia merefleksikan badannya melalui pijatan sang istri.

"Ada beberapa kali yang keseleo dan sakit parah, namun setelah istirahat, mulai membaik. Saya harus kerja tiap hari, karena dari sinilah saya bisa menghidupi anak dan istri," ucapnya.

baca juga: BPJS Ketenagakerjaan Ingin Tingkatkan Martabat Para Seniman Komedi

Dalam sehari, Anton bisa mendapatkan upah Rp40.000 hingga Rp100.000. Namun tergantung dari berapa banyaknya barang yang diangkutnya.

"Kalau mendekati lebaran atau hari besar, bisa dapat upah Rp120.000. Hasil dari kerja seperti ini, saya berikan kepada istri. Sebab istri saya hanya buruh cuci di rumah tetangga, sementara anak saya sudah sekolah. Jadi kalau tidak kerja, bisa repot," sambungnya.

Warga Kelurahan 12 Ulu Palembang ini mengaku memiliki mimpi besar punya jaminan untuk hari tuanya. Ia menyadari dengan kerja sebagai kuli angkut seperti ini tidak bisa menjamin kehidupan ke depannya.

"Saya khawatir jika nantinya saya sakit, atau terjadi hal yang tidak diinginkan seperti kecelakaan. Keinginan dan mimpi saya adalah ada jaminan untuk anak dan istri," ucapnya.

Karena itu, setelah adanya sosialisasi BPJS Ketenagakerjaan ditambah Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan memberikan bantuan untuk menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, Anton merasa lega karena mimpinya bisa terwujud.

"Beberapa waktu lalu ada sosialisasi seperti itu, pemerintah ingin mengcover kami menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan. Saya langsung setuju dan mendaftar. Saya berharap nantinya saya punya tabungan untuk anak dan istri jika terjadi hal yang tak diinginkan terhadap diri saya," terang Anton.

Hal serupa diungkapkan Harun, 39 tahun. Pria yang baru 6 tahun jadi kuli angkut di Pasar 16 Ilir juga tak mau menyiakan kesempatan emas itu. Ia pun sudah mendaftarkan diri sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan.

"Informasi yang kami dapat, ada jaminan hari tua hingga jaminan kecelakaan kerja. Yang kami lakukan sebagai buruh angkut ini kan potensi kecelakaan kerjanya sangat besar. Karenanya, kami bersedia menyisihkan penghasilan untuk iuran bulanannya," kata Harun.

Meski hanya mendapat upah sekitar Rp50.000 per harinya, namun Harun rela mengeluarkan uang Rp16.800 per bulan sebagai iuran kepesertaan.

"Yang ada dibenak saya adalah masa depan keluarga saya. Kalau saya sudah tercover BPJS Ketenagakerjaan setidaknya bisa membuat tenang keluarga jika terjadi hal yang tak diinginkan," harapnya.

Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Palembang, Moch Faisal mengatakan pihaknya saat ini fokus pada pekerja sektor informal agar bisa menjadi peserta. Sebab perlindungan jaminan sosial untuk sektor informal saat ini masih sangat rendah di Palembang.

Berdasarkan data, saat ini total keseluruhan kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan di Palembang baik sektor informal maupun formal ada 112.000 orang. Sektor informal hanya tercatat 35.000 orang dari targetnya 51.000 orang pada tahun ini.

"Kita mendorong sektor informal menjadi kepesertaan kita. Kalau sektor formal, mereka dijamin oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Sementara untuk sektor informal, mereka tidak ada yang menjamin jika terjadi kecelakaan kerja. Kami mendorong kesadaran masyarakat yang bekerja di sektor informal untuk mendaftarkan sendiri kepesertaan di BPJS Ketenagakerjaan," terang Moch Faisal.

Tak hanya itu, pihaknya juga mendorong pemerintah daerah untuk memacu kepersertaan BPJS Ketenagakerjaan. Seperti yang dilakukan Pemprov Sumsel yang menggandeng perusahaan-perusahaan di Palembang lewat corporate social responsibility (CSR) untuk membiayai dan mendorong kepesertaan bagi pekerja informal.

"Sebelumnya ada 1.000 ustad dan ustadzah di Palembang, lalu 300 orang PHDI, dan saat ini ada 1.000 pedagang di pasar 16 Ilir Palembang yang dijadikan peserta BPJS Ketenagakerjaan. Kami berharap pemda bisa konsisten memperluas kerjasama seperti ini," harap Moch Faisal.

Diakui Faizal kendala yang dihadapi pihaknya selama ini yakni kurangnya kesadaran dan minimnya pengetahuan masyarakat terhadap pentingnya menjadi kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan. Selain itu kurang optimalnya agen perisai dan keterbatasan personil BPJS Ketenagakerjaan dalam menyosialisasikan ke masyarakat.

"Banyak yang tidak paham, bahwa dengan menjadu kepesertaan, satu orang saja dalam keluarganya maka manfaatnya bisa didapat oleh ahli waris. Karenanya masyarakattidak mampu dan tidak ada perlindungan kerja sebaiknya mendaftar," kata Faizal.


Bentuk Kepedulian Pemerintah

Pada kesempatan sama Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi Provinsi Sumsel, Koimuddin mengatakan Pemprov Sumsel memprioritaskan bantuan untuk pekerja sektor informal untuk menjadi kepersertaan BPJS Ketenagakerjaan.

"Kalau sektor formal, mereka sudah dicover oleh perusahaan tempat mereka bekerja. Tapi kalau pekerja non formal, siapa yang akan melindunginya, siapa yang akan bertanggungjawab jika terjadi kecelakaan kerja. Karena itu pemerintah hadir memberikan bantuam agar mereka dicover BPJS Ketenagakerjaan," kata Koimuddin.

Bantuan tersebut berupa pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan dan dibebaskan iuran kepersertaan selama dua bulan. Selanjutnya 1.000 pedagang dan pekerja di area Pasar 16 Ilir Palembang ini bisa menyambung secara mandiri.

"Kedepannya, kita akan merambah ke sektor informal yang lain, seperti paguyuban pedagang bakso, dan lainnya. Sementara kita fokus di Palembang, nantinya akan ke 16 kabupaten dan kota lain di Sumsel," jelasnya.

Mekanisme bantuan ini, kata Koimuddin, Pemprov Sumut bekerjasama dengan perusahaan di Sumsel lewat program CSR. Gubernur Sumsel Herman Deru juga ikut mendorong semua perusahaan di Sumsel untuk bisa lebih peduli dengan pekerja informal.

"Dengan mendaftarkan mereka (pekerja informal) sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan, tentunya sebagai bentuk kepedulian kita bersama agar mereka mendapatkan perlindungan selama mereka bekerja. Dengan ini mereka akan mendapatkan manfaat dan mereka bisa lebih semangat bekerja karena merasa ada perlindungan,"  kata Herman Deru.

Herman Deru meminta agar pemerintah kabupaten dan kota, organisasi perangkat daerah, hingga camat agar mendorong perusahaan di daerahnya untuk peduli dengan pekerja informal.

"Para pekerja ini sehari-hari berjuang mencari nafkah untuk anak-anaknya bisa bersekolah. Karenanya mereka perlu perlindungan. Dan bantuan seperti ini akan sangat bermanfaat besar untuk mereka," pungkasnya. (N-1)

 

BERITA TERKAIT