25 October 2022, 09:40 WIB

Bersama Warga Ujung Negeri Pertamina Hadir Turunkan Emisi Agar Bumi Lestari


Lilik Darmawan |

HARI menjelang siang ketika Wanto, 35, mendaratkan perahunya ke tepian hutan mangrove di kawasan Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Cilacap, Jawa Tengah. Meski penyandang disabilitas dengan kaki yang tidak bisa berdiri tegak, tetapi Wanto begitu bersemangat dalam bekerja. Dia tidak canggung untuk masuk ke lumpur dan bekerja tenaga pembibitan mangrove.

"Sudah 10 tahun terakhir saya menjadi tenaga pembibitan bersama Kelompok Patra Krida Wana Lestari. Meski saya difabel, tidak menjadi soal. Karena saya bisa mengerjakan dan diterima di kelompok. Saya biasanya membantu dalam pembibitan, seperti mencari propagul mangrove hingga pembersihan areal pembibitan. Sehari, saya memperoleh pendapatan Rp100 ribu," kata Wanto kepada Media Indonesia, pekan lalu.

Isterinya, Mulyani, 25, juga biasa bekerja. Bersama ibu-ibu lainnya, pekerjaannya adalah memasukkan bibit ke dalam polibag. Namun, sementara ini Mulyani absen bekerja karena tengah hamil. Namun, Sipon, Marsih serta ibu lainnya masih tetap bekerja untuk memasukkan bibit ke dalam polibag.

"Kalau untuk tenaga menanam bibit ke dalam polibag rata-rata perempuan. Bahkan sampai yang berusia tua," kata Wanto seraya menambahkan mulai bekerja jam 08.00 WIB hingga 16.00 WIB.

Pegiat Patra Krida Wana Lestari, Joni Rianto, mengatakan sekarang ini setiap tahunnya kelompok mendapatkan pesanan yang cukup banyak. "Tahun 2020 lalu, misalnya, pesanan mencapai 1 juta bibit mangrove. Kemudian pada 2021 lalu, ada sebanyak 700 ribu bibit mangrove. Tahun ini, sampai September saja telah mencapai 300 ribu bibit. Hingga akhir tahun, kemungkinan menembus 800 ribu bibit," jelasnya.

Beberapa waktu sebelumnya, Joni mengantarkan sebanyak 25 ribu bibit ke Bali. Tidak hanya Bali, tetapi juga Jakarta, Jawa Timur dan Jawa Tengah. "Jika ke luar pulau, maka pemesanan minimal 20 ribu bibit. Kemudian jika di luar provinsi minimal 10 ribu bibit. Batasan minimal ini terkait dengan ongkos transportasi," katanya.

Menurut Joni, saat ini kelompok mengikutsertakan masyarakat khususnya di Ujung Alang untuk ikut serta dalam membuat pembibitan mangrove. Maka, tidak mengherankan jika kini ada puluhan warga yang ikut serta. Kelompok Patra Krida Wana Lestari mengembangkan ekonomi inklusif
di mana para pekerjanya boleh siapa saja.

"Ada yang difabel dan tidak sedikit ibu-ibu dari beragam usia ikut serta. Bahkan, kalau air tidak sedang pasang, ada 25 ibu yang memasukkan propagul ke dalam polibag. Sedangkan yang pria mencari propagul dan menyiapkan tanahnya," jelas Joni.

Tingkatkan Ekonomi

Sebuah mimpi yang jadi kenyataan, demikian disampaikan Ketua Kelompok Patra Krida Wana Lestari, Wahyono. "Inilah mimpi saya yang menjadi kenyataan. Sekitar 21 tahun lalu, saya tidak pernah membayangkan kalau pembibitan mangrove dapat mendatangkan rezeki. Waktu itu, tahun 2001, saya bersama keluarga hanya ingin menanam mangrove untuk merehabilitasi lingkungan rusak akibat tambak-tambak yang ditinggalkan," ungkapnya.

Di dalam aksinya mengembalikan lingkungan yang rusak, Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) IV Cilacap ikut serta mendukung sampai sekarang. "Pertamina Kilang Cilacap sangat responsif dan memberikan dukungan penuh hingga kini. Banyak program yang kemudian kami
kerjakan bersama dengan Pertamina," kata Wahyono.

Menurut Wahyono, kalau saat awal fokusnya adalah merehabilitasi hutan mangrove, saat ini ditambah dengan memperhatikan soal ekonomi warga. "Hutan mangrove sudah relatif baik dan terus dilestarikan. Waktu sekarang kami juga konsen mengembangkan ekonomi warga. Kelompok kami
membuat pembibitan," ujarnya.

Ia menginginkan agar warga tetap melestarikan, tetapi juga memperoleh penghasilan dari mangrove."Pada akhirnya memang ketemu jalannya, yakni dengan pembibitan. Selama ini, pembibitan mangrove banyak melibatkan warga. Kalau dihitung-hitung, ada sekitar 50-70 warga yang terlibat. Tergantung dengan pesanan. Namun, hampir setiap hari ada puluhan yang ikut bekerja. Karena setiap tahunnya, minimal pesanan hingga 700 ribu bibit," katanya.

Menurutnya, setiap bibit harganya berbea-beda. Namun rata-rata kisarannya Rp1.500 hingga Rp1.800 per batang. Namun ada juga jenis lain yang harganya sampai Rp6 ribu per batang. "Untuk jenis yang kisaran harganya Rp1.500 hingga Rp1.800 per batang adalah Rhizopora mucronata,
Rhizopora apiculata, Bruguiera gymnorrhiza dan lainnya. Sedangkan yang harganya Rp6 ribu per batang adalah Sonneratia caseolaris," papar Wahyono yang hafal satu per satu spesies mangrove.

Tahun ini, target pembibitan mencapai 800 ribu bibit. Itu berarti kalau per pohon harganya Rp1.500 saja, omsetnya sudah mencapai Rp1,2 miliar pada tahun 2022 ini. Omset tersebut ternyata telah mampu mendongkrak perekonomian warga ujung negeri tersebut. Sebab, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut merupakan wilayah paling selatan Jawa atau sudah masuk daerah paling ujung selatan Jawa.

Penurun Emisi

Tak hanya pembibitan saja, melainkan juga ada kawasan wisata mangrove yang diberi nama Kolak Sekancil atau Konservasi Laguna Kawasan Segara Anakan.

"Sejak tahun 2016, bersama dengan Pertamina, kami mengembangkan arboretum yang dinamakan Kolak Sekancil. Arboretum adalah kawasan ruang terbuka hijau untuk menanam dan memelihara vegetasi dengan tujuan penelitian dan pendidikan. Bukan itu saja, arboretum di sini juga dipakai sebagai tempat wisata atau disebut sebagai ekowisata. Kini luasannya mencapai 6 hektare. Sudah ada koleksi 56 spesies mangrove," Wahyono.

Dengan bantuan CSR Pertamina, ungkapnya, kawasan Kolak Sekancil tidak hanya menjadi areal wisata saja, melainkan juga sebagai tempat riset para mahasiswa dan peneliti.

Tak hanya pembibitan dan Kolak Sekancil, tetapi juga ada pemanfaatan mangrove untuk bahan kudapan. Ketua Kelompok Patra Bina Mandiri Yufita Reni Windi Astuti mengatakan bahwa ada 10 ibu-ibu yang biasa mengolah kudapan dari bahan baku tanaman mangrove.

"Ada sejumlah bagian pohon mangrove yang dapat diolah menjadi makanan kecil di antaranya adalah stik, keripik dan pangsit. Seluruhnya berbahan baku dari mangrove. Misalnya saja keripik dan pangsit acantus, stik jeruju dan bruguiera, keripik kerang dan lainnya. Setiap bulan, minimal saya menyuplai barang ke Cilacap sebanyak 100 bungkus. Setiap bungkus Rp15 ribu, sehingga dari situ saja ada pemasukan Rp1,5 juta. Belum lagi kalau ada kunjungan dari para mahasiswa. Lumayan untuk menambah pendapatan keluarga," ujarnya.

Secara terpisah, Area Manager Communication, Relations & CSR PT KPI Unit Cilacap Cecep Supriyatna mengatakan bahwa dalam 10 tahun terakhir, Pertamina dengan ditopang Kelompok Patra Krida Wana Lestari telah mampu menanami 1,7 juta pohon mangrove. "Kawasan Segara Anakan telah menjelma jadi kawasan wisata mangrove terlengkap di Indonesia dengan memiliki koleksi 56 spesies mangrove. Jenis-jenis mangrove itu dapat dilihat di Kolak Sekancil yang kini telah menjadi eduwisata, tempat wisata sekaligus lokasi riset," kata Cecep.

Dengan pengembangan ekonomi yang berbasis ekologi, dampak kemandirian ekonomi sangat terasa. Hadirnya edu-wisata mangrove telah mampu meningkatkan pendapatan kelompok. "Pada tahun 2017 tercatat Rp114 juta, kemudian meningkat pada tahun 2019 menjadi Rp183 juta. Rata-rata setiap bulannya mencapai Rp20 juta. Sejak tahun 2020 telah dimulai masa kemandirian ekonomi, terlebih ada tambahan inovasi. Di antaranya adalah produk olahan mangrove dan batik dengan bahan pewarna alami mangrove," jelasnya.

Gerakan bersama antara Pertamina Cilacap dengan warga ujung negeri itu sesungguhnya tidak hanya merehabilitasi lahan yang kemudian mendatangkan ekonomi berkelanjutan semata. Melainkan sebuah aksi lokal yang ikut menurunkan pemanasan global.

Hingga kini, pengurangan emisi menjadi isu paling utama, bahkan dalam pertemuan G20 di Bali. Pengurangan emisi telah dilakukan, salah satunya adalah terus menanami mangrove.

Ahli mangrove Fakultas Biologi Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Erwin Riyanto Ardli sangat penting untuk mengurangi emisi karbon. Pasalnya, mangrove memiliki kemampuan untuk menyerap karbon. Bahkan, penyerapannya lebih kuat jika dibandingkan dengan pepohonan hutan tropis.

"Berdasarkan berbagai riset, kemampuan penyerapan emisi karbon hutan mangrove 4­5 kali lipat kalau dibandingkan dengan hutan tropis," katanya.

Sementara dari sejumlah riset, salah satunya yang dilaksanakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sekarang BRIN, hutan mangrove di Indonesia rata­rata mampu menyerap 52,85 ton CO2/ ha/tahun. Jumlah tersebut lebih tinggi dua kali lipat jika dibandingkan dengan estimasi global 26,42 ton CO2/ha/tahun.  Inilah supaya dari Pertamina dan warga ujung negeri untuk senantiasa ikut menekan emisi. Menanam dan terus membibitkan mangrove. (OL-13)

Baca Juga: Pemprov DKI Genjot Penanaman Mangrove

BERITA TERKAIT