14 October 2022, 16:04 WIB

BPBD Sebut 22 Ribu Warga Sulsel Terdampak Bencana Alam


Lina Herlina |

HASIL analisis Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sulawesi Selatan 2021 menggolongkan potensi bahaya banjir dan tanah longsor di daerah dalam dua kelas, yaitu sedang dan tinggi.

Menurut Kepala Pelaksana BPBD Sulsel Muhammad Firda di Makassar, Jumat (14/10), ada 21 dari 24 kabupaten/kota di Sulsel memiliki potensi banjir tinggi, dan dua kabupaten yakni Bantaeng dan Jeneponto, berpotensi banjir sedang.

Untuk potensi bahaya tanah longsor di Sulsel dengan kelas sedang berada di dua kabupaten, yaitu Takalar dan Wajo, sedangkan kabupaten/kota lain berada pada kelas tinggi.

"Ini kan sudah mulai masuk musim hujan, yang kadang intensitasnya tinggi disertai angin kencang. Jadi kami dari BPBD dan instansi terkait, harus siaga mengahadapi cuaca ekstrem tahun ini. Jika terjadi bencana, BPBD dan dinas terkait harus segera turun menangani dan memberikan bantuan langsung," jelas Firda.


Baca juga: 456 Kilometer Jalan di Kalsel Dikepung Tambang Bencana Menanti


Sementara itu, berdasarkan data BPBD Sulsel selama 2022 hingga September, telah terjadi 528 kasus bencana. Terdiri atas gempa bumi, angin kencang, kebakaran, banjir, puting beliung, tanah longsor, dan abrasi.

"Bencana-bencana itu mengakibatkan sebanyak 22.132 jiwa terdampak dengan taksiran kerugian mencapai Rp48 miliar," ungkap Firda tanpa menyebutkan detail daerah terdampak bencana.

Saat ini, lanjut Firda, BPBD Sulsel mengantisipasi sejak dini bencana banjir dan tanah longsor lewat berbagai upaya. Seperti melakukan simulasi penanggulangan bencana pada wilayah berpotensi, seperti Kota Parepare dan Kabupaten Gowa.

Selain itu, pihaknya juga intens berkoordinasi dengan BPBD kabupaten/kota agar bisa meningkatkan kesiapsiagaan daerah, baik personel, peralatan, maupun logistik bencana melalui grup Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops PB).

"Memang pada musim hujan ini harus diantisipasi bencana alam hidrometeorologi, yaitu bencana yang diakibatkan iklim, untuk dokumen Kajian Risiko Bencana yang mengakomodir peta bahaya, peta kerentanan, dan peta kapasitasnya," tandas Firda. (OL-16)

BERITA TERKAIT