04 October 2022, 09:05 WIB

Siapkan Pemimpin Transformasional, Kemendagri Gandeng ESQ


Mediaindonesia.com |

DALAM rangka menindaklanjuti Roadmap Transformasi Budaya Kerja BerAKHLAK,  Kementerian Dalam Negeri menggelar pelatihan change leader batch 1 untuk 35 peserta dari pejabat eselon 3 dan analis madya.

Dijelaskan Sekretaris Jenderal Kemendagri Suhajar Diantoro, kegiatan ini bertujuan untuk penerapan budaya kerja BerAKHLAK yaitu berorientasi pelayanan, akuntabel, kompeten, harmonis, loyal, adaptif, kolaboratif kepada pegawai negeri sipil lingkup Kemendagri. Maka dari itu perlu Change Leader, agar menjadi pembimbing bagi change agent untuk memonitor berjalannya action plan.

Baca juga: Pemprov Jawa Barat Gelar Pelatihan Vokasional untuk Perempuan

Suhajar berharap para peserta bisa memahami tugas serta tanggung jawab sebagai change leader dan mendapatkan pembekalan keterampilan praktis yang diperlukan.  
“Change atau berubah itu filosofinya seperti Superman. Kata-kata berubah mengandung harapan yang luar biasa. Bicara soal perubahan, saya teringat dengan Park Chung Hee (mantan Presiden Korea Selatan tahun 1963) yang bisa bangkit bahkan bersaing dengan Jepang. Padahal dulu Korea dan Jepang ini memiliki kehancuran atau kondisi yang sama. Lalu bagaimana cara mengejar Jepang? Park Chung Hee mengubah mindset seluruh pimpinan dan rakyatnya,” papar Suhajar.

Bahkan, kata Suhajar kondisi Korea dan Indonesia saat itu hampir sama. Namun Korea melakukan change atau perubahan secara melesat misalnya kerja 20 jam dalam sehari.

“Untuk itu, kawan-kawan yang dipanggil dan terpilih hari ini diharapkan berada di kelompok sepertiga dari tubuh organisasi kita yang siap untuk memimpin perubahan ini. Supaya orang yang sepertiganya lagi bisa melihat kita untuk ikut berubah. Dan sepertiganya lagi bisa mengubah orang yang awalnya ragu secara perlahan akan menemukan pembuktian bahwa ternyata bisa melakukan perubahan menjadi lebih baik,” terang Suhajar.

“Seseorang yang mempunyai kewenangan itulah yang disebut pemimpin. Kepemimpinan itu bukanlah kesewenang-wenangan namun kepemimpinan itu adalah kewenangan melayani. Nah, ketika menjadi pemimpin itu harus hati-hati dalam mengambil keputusan, karena semuanya akan dipertanggungjawabkan. Pemimpin yang tidak bertanggungjawab akan tersisih oleh waktu,” bebernya.

Pada kesempatan sama Founder ESQ Group Ary Ginanjar Agustian mengaku setuju dengan paparan Suhajar. Menurutnya apa yang disampaikan Suhajar itu memacu semangat sebagai sebuah bangsa. Ia pun membagikan foto saat Korea berada di 50 tahun lalu ketika pendapatan perkapitanya hanya US$67.

"Apa yang dilakukan mereka supaya bisa menjadi Superman seperti Park Chung Hee agar bisa terbang? Korea terbang menjadi global player atau pemain dunia dan bisa mengalahkan Jepang. Indonesia juga harus seperti itu," ungkapnya

“Korea yang saat itu dipimpin oleh Park Chung Hee memegang teguh misi dan nilai-nilai supaya bisa maju. Mereka memegang 2 kekuatan yaitu misinya adalah Urinara (demi bangsaku), serta core valuesnya yakni diligence, self help, cooperation. Dan sekarang Indonesia juga punya 2 kekuatan itu. Misinya adalah Bangga Melayani Bangsa dan nilai nilainya adalah BerAKHLAK,” tuturnya.

“Tentu, Kemendagri sudah memiliki visi misi dan target. Bicara soal Renstra pun, strategi sudah dicanangkan menteri, struktur telah disiapkan oleh pemerintah, sistem pun sudah. Namun 70% kegagalannya itu bukan sebelah kiri melainkan sebelah kanan yaitu karakter, nilai, dan keyakinan,” ucap Ary.

Menurutnya, hal itu diejawantahkan dengan idealized influence. Maka harus menjadi pemimpin yang memiliki role model dari misi dan nilai itu. Kemudian, lanjutnya, yang kedua adalah harus menjadi Pemimpin yang memberikan inspirasi atau sebagai seorang guru (inspirational motivation).

“Yang ketiga adalah anda sebagai pemimpin harus bisa menstimulasikan orang agar mengeluarkan ide-idenya (Intellectual Stimulation). Dan terakhir yaitu Pemimpin yang mampu memilih orang yang tepat agar sesuai dengan posisi yang dibutuhkan (Individualized Consideration). Kalau ini sudah dimiliki dan digabungkan maka peran anda sebagai agen perubahan akan berhasil mengubah Kemendagri bahkan Indonesia menjadi lebih baik," ujar Ary. (RO/A-1)

BERITA TERKAIT