29 September 2022, 18:12 WIB

Krisis Air Bersih Landa Beberapa Wilayah di Pantura Jateng


Akhmad Safuan |

MESKIPUN hujan intensitas ringan kerap mengguyur, namun beberapa wilayah di daerah di pantura Jawa Tengah mengalami kesulitan air bersih. Akibatnya pemerintah daerah terus melakukan suplai air bersih setiap pekannya.

Pemantauan Media Indonesia Kamis (29/9) kesulitan air bersih terjadi di beberapa daerah di pantura Jawa Tengah seperti Batang, Demak, dan Salatiga. Di Kabupaten Batang kesulitan air bersih dirasakan warga Dukuh Wrage, Desa Tambahrejo, Kecamatan Bandar, karena adanya perbaikan Bendungan Binagarut selama tiga bulan dan sumur warga alami pengusutan dratis, sehingga untuk memenuhi kebutuhan terpaksa hanya mengandalkan bantuan dari Pemkab Batang.

Hal serupa terjadi di Kota Salatiga, warga Dusun Kembang, Kelurahan Randuacir, Kecamatan Argomulyo setiap hari hanya mengandalkan air dari bak penampungan yang diisi oleh pemerintah daerah setempat dan bahkan untuk memenuhi kebutuhan terpaksa mencari hingga ke lereng Gunung Merbabu.

"Kalau bak penampungan terjadi keterlambatan pengisian, kami terpaksa mencari hingga lereng Merbabu drnfxn jarak sekitar tiga kilometer dari desa," kata Margono,40, warga Dusun Kembang, Kelurahan Randuacir, Kecamatan Argomulyo, Kota Salatiga. 

Sumur warga yang ada, ungkap Sunarwi,51, warga lainnya sudah mulai kering dan aliran air bersumber dari PDAM juga cukup lama terhenti, sehingga untuk memenuhi kebutuhan terpaksa mencari ke lokasi lebih jauh. "Andalan kami cuma bantuan dari pemerintah daerah," imbuhnya.

Pejabat Bupati Batang Lani Dwi Rejeki secara terpisah mengatakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih 300 keluarga di dusun tersebut setiap tiga hari sekali diberikan bantuan air sebanyak 400 liter, bahkan kadang hingga mencapai 800 liter dalam setiap pengiriman.

"Setelah selesainya pembangunan bendungan diharapkan kondisi kembali normal karena air PDAM dapat kembali lancar untuk memenuhi kebutuhan warga," ujar Lani Dwi Rejeki.

Pemberian bantuan air bersih dari Pemkab Batang, demikian Lani Dwi Rejeki, telah dimulai sejak awal September ini, beberapa hari sebelumnya melalui pemerintah desa telah mengajukan permohonan bantuan karena warga kesulitan air bersih. (OL-15)

BERITA TERKAIT