28 September 2022, 15:10 WIB

Baznas dan Lazismu Hadirkan Program Kolaborasi Zakat di Daerah 3T


M Iqbal Al Machmudi |

DALAM rangka mengoptimalkan pendistribusian dan pendayagunaan zakat untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan dan berkontribusi pada percepatan pencapaian target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) berkolaborasi dengan Muhammadiyah melalui LAZISMU menghadirkan Program Kolaborasi Kebaikan Zakat di daerah 3T yakni desa Maleo Jaya, Banggai, Sulawesi Tenggara; Desa Negeri Sepa, Maluku Utra dan Desa Domas, Serang Banten.

"Kita perlu memiliki Laboratorium Filantropi agar bisa melihat dampak Zakat kepada Masyarakat secara terukur," kata Komisioner BAZNAS bidang Penggalangan Dana Rizaluddin dalam keterangannya, Rabu (28/9).

Baca juga: Laporan Keuangan Laznas BMM Raih Opini WTP dalam 21 Tahun ..

Program Kolaborasi Kebaikan Zakat adalah program yang digagas bersama antara BAZNAS dan Lazismu mewakili Muhammadiyah untuk mendistribusiakn dana zakat secara lebih terencana dan terukur. Misi program itu adalah terbangunnya kekuatan dan kedaulatan ekonomi ummat berbasis Jamaah, meningkatkan akses dan kualitas layanan Ibadah, sosial, pendidikan dan kesehatan menjadi lebih inklusif, terbangunnya ketangguhan masyarakat sebagai panduan perluasan wilayah program.

Wakil ketua LAZISMU Bidang Pendistribusian dan Pendayagunaan, Muarawati Nur Malinda mengatakan kegiatan itu dirancang sebagai upaya nyata kontribusi zakat dalam pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan atau Sustanable Development Goals (SDG’s).

"Banyak sekali point SDG’s yang kita laksanakan dalam kegiatan ini. Dan yang paling penting prinsip SDG’s No one left behind kita junjung tinggi komitmennya hingga kita memutuskan mengantarkan amanah para muzaki hingga ke pelosok tanah air untuk menjangkau yang tidak terjangkau,” kata Muarawati.

Meski dana zakat yang terkumpul dari pemberi manfaat (muzzaki) di kota-kota besar mengalir sampai pelosok-pelosok desa terpencil di negeri ini, namun Lazismu berusaha mengawal agar program ini dapat berjalan lancar dengan akuntabilitas yang terus terjaga. Pengawalan dilakukan oleh pengurus Muhammadiyah dan Aisyiyah di daerah-daerah terdekatnya.

Melalui Program Kabajikan Zakat ini, Lazismu mengembangkan program yang berbasis pada 6 Pilar program Lazismu yakni pilar pendidikan, ekonomi, sosial dakwah, kesehatan, kemanusiaan dan lingkungan.

Sementara penerima manfaat yani masyarakat kelompok miskin, masyarakat kelompok berdaya siswa sekolah dan penerima beasiswa, guru sekolah, guru ngaji, penduduk lansia, penduduk balita, Ibu hamil dan menyusui, kelompok difabel, jamaah masjid, warga pengguna ruang publik.

Program Manager Lazismu Menurut Ardi Luthfi menjelaskan untuk program kolaborasi kebaikan zakat ini ada lebih dari 20 kegiatan yang dilaksanakan di masing-masing desa. Kegiatan itu meliputi bidang pendidikan terdiri subsidi bantuan beasiswa, bantuan guru, renovasi sekolah, renovasi rumah guru.

“Bidang sosial dakwah, renovasi masjid, penguatan kapasitas dan pendampingan baca tulis alquran; bidang kesehata bantuan paket makanan tambahan, pendampingan lansia, pendirian fasilitas kesehatan, dan aktifasi posyandu dan pos bindu,” ujarnya.

Baca juga: Berdonasi Lewat Baznas, kini Bisa Lewat Aplikasi Cinta Zakat

Kemudian di bidang kesehatan ada assessment kondisi kesehatan masyarakat, penyuluhan kesehatan reproduksi dan pemeriksaan IVA, pendampingan lansia.

Bidang kemanusiaan antara lain kaji risiko partisipatif, implementasi pengurangan risiko bencana, tanggap. Bidang lingkungan pembentukan relawan komunitas, pembentukan community centre, penyusunan rencana aksi jamaah, pengembangan pemantauan layanan publik.

Selain kegiatan tersebut yang dilakukan di 3 desa terpencil tersebut, khusus di Maluku juga dijalankan kegiatan Ekspedisi Klinik Apung di Desa Liang Salahutu Maluku Tengah, Negeri Sepa Amahai Maluku Tengah dan Seram Bagian Timur.

“Kondisi yang berbeda di tiap desa dan juga gap antara rencana awal dengan hasil kaji cepat ke lapangan sebelum pelaksanaan kegiatan adalah tantangan bagi pelaksanaan program ini,” kata Ardi.

Dirinya menceritakan ada beberapa kebijakan program yang berubah dari rencana semula, seperti pendirian fasilitas kesehatan yang akhirnya diputuskan mengganti dengan ambulans keliling.

“Jadi tidak perlu buat tandu darurat, tidak perlu dipikul berjalan melewati sungai untuk menuju ke Puskesmas. Sudah ada Ambulans keliling didesa kita,” ungkap Pengurus Daerah Aisyiyah Banggai yang menjadi aktivis pembinaan suku terasing Kele Inang. (Iam/A-1)

BERITA TERKAIT