25 September 2022, 14:45 WIB

Seorang Anak di Cianjur Meninggal dengan Indikasi Suspek Difteri


Benny Bastiandy |

SEORANG anak warga Desa Cibiuk Kecamatan Ciranjang Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, meninggal dunia, dengan indikasi suspek difteri. Namun, Dinas Kesehatan setempat belum menentukan status kasus tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur, Irvan Nur Fauzy, mengonfirmasikan kasus suspek difteri yang menyebabkan seorang anak warga Kecamatan Ciranjang meninggal dunia. Irvan menyebut kejadian itu berlangsung pekan lalu.

"Seorang anak berusia enam tahun dari Desa Cibiuk Kecamatan Ciranjang. Jadi, secara kronologis, alharhumah mengeluh panas kemudian nyeri saat menelan itu sejak Jumat (16/9)," terang Irvan kepada Media Indonesia, Minggu (25/9).

Keesokan hari, almarhumah sempat mendapat pengobatan dari petugas medis puskesmas setempat. Namun gejala yang dialami terus berlanjut.

"Pada Senin (19/9), keluarganya membawa ke dokter di sekitar Ciranjang dengan diagnosa suspek difteri. Lalu disarankan agar anak dirujuk ke RSUD Sayang Cianjur," bebernya.

Namun pihak keluarga tidak melanjutkan perawatan di RSUD Sayang Cianjur. Orangtuanya membawa kembali anak mereka ke rumah.

"Besoknya atau pada Selasa (20/9) mengakses ke RS Syamsudin di Sukabumi. Nah pada Rabu (21/9) pagi, anak meninggal dunia," terang Irvan.

Meskipun sudah diperiksa apus tenggorokan almarhumah, sebut Irvan, tetapi diagnosa medis masih dikategorikan suspek difteri. Untuk memastikan positif atau tidaknya, kata Irvan, akan ditentukan pemeriksaan kultur. 

"Kami sudah mendapatkan hasil pemeriksaan apusan tenggorokannya. Sekarang sedang dirujuk ke RSHS Bandung. Kurang lebih tujuh hari sudah ada hasil dari pemeriksaan kultur," ungkapnya.

Upaya pencegahan dilakukan Dinas Kesehatan dengan memeriksa kontak erat. Sudah ada 10 orang yang diperiksa.

"Ada 15 orang yang dipantau dan 10 orang yang dirujuk untuk pemeriksaan kultur juga. Nah itu kami pantau dan tujuh hari sudah ada hasilnya," tegas Irvan.

Irvan menegaskan belum ada penetapan status KLB terhadap kasus tersebut. Alasannya, pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan kultur. "Namun penanganannya kami sesuaikan. Lingkungan tempat tinggal almarhumah pun kita antisipasi," ucapnya.

Kalaupu nanti hasil pemeriksaan kultur dinyatakan positif difteri, menurut Irvan, kondisi itu menjadi cerminan penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Akses mendapatkan imunisasi, kata Irvan, sudah sangat mudah.

"Ada di desa atau puskesmas dan tentu ini gratis. Ini bisa diakses dan masyarakat pun harus aware (peduli) karena penyakit-penyakit seperti ini ada di sekitar kita dan bisa dicegah oleh imunisasi," pungkasnya. (OL-14)

BERITA TERKAIT