24 September 2022, 22:06 WIB

Kualitas Air Sungai di Kota Yogyakarta Turun Imbas Sampah


Ardi T Hardi |

DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta mencatat, dari hasil pemantauan, Indeks Kualitas Air (IKA) di tahun 2022 mencapai 38,42 persen, lebih rendah dibandingkan dengan tahun 2021 yang mencapai 38,44 persen.

Sub Koordinator Pengawasan Lingkungan Hidup DLH Kota Yogyakarta, Intan Dewani menjelaskan, indeks kualitas air ini dinilai dari delapan parameter. Hingga saat ini sungai di Kota Yogyakarta kecenderungan semakin turun, kualitas air ini tidak berpengaruh kepada musim hujan dan kemarau.

"Berdasarkan Indeks Kualitas Air (IKA) dari tahun sebelumnya, parameter dominan indeks air cenderung semakin turun," jelas dia, kemarin.

Pihaknya terus melakukan pemantauan kualitas air dengan pengambilan sampel hingga menganalisis air di empat sungai dengan 19 titik setiap triwulan.

Ia berharap, masyarakat ikut membantu agar kualitas lingkungan semakin baik terutama kualitas air di empat sungai yang ada di Kota Yogyakarta.

Kepala Bidang Perencanaan Pengendalian Lingkungan Hidup DLH Kota Yogyakarta Feri Edi Sunantyo mengatakan, saat ini, kualitas air sungai di Kota Yogyakarta menurun, begitupun dengan kuantitasnya. Air di beberapa sungai di Kota Yogyakarta sudah banyak tercemar oleh bermacam-macam limbah dari berbagai hasil kegiatan manusia.

"Dari keempat sungai (Sungai Gajahwong, Sungai Manunggal, Sungai Code, dan Sungai Winongo) Sungai Code tampaknya lebih stabil karena adanya program Madep, Munggah, dan Mundur (3M) membuat masyarakat bertanggung jawab atas kebersihan sungai sehingga lebih baik dari ketiga sungai lainnya," terang dia.

Upaya pemerintah mencegah adanya limbah-limbah industri masuk ke badan air sungai menghadapi tantangan tersendiri, terutama saat musim penghujan.

"Kita rutin melakukan kebersihan untuk menjaga kondisi sungai maupun untuk kualitas air sendiri," paparnya. Ia juga berharap, masyarakat di hulu sampai hilir dapat selalu kompak, dalam menjaga kebersihan sungai.

Jangan sampai masyarakat berperilaku membuang sampah tidak pada tempatnya karena bisa mengakibatkan banjir. Sebanyak 40 personil. Mereka bertugas untuk menjaga kebersihan aliran sungai.

"Mereka juga menyiapkan kantong untuk menampung kotoran di permukaan air di saat siang hari lalu ditimbang dan dilaporkan sesuai data jumlah kotoran sampah dan dikirim ke TPS," ujar dia.

Saat hujan lebat, mereka memantau aliran sungai dari hulu ke hilir. Apabila debit air naik dan berpotensi membahayakan warga, hal itu dapat cepat terdeteksi dengan saling berkoordinasi agar dapat mengantisipasi adanya bencana. (OL-13)

Baca Juga: Ratusan Dusun di Pamekasan Kekeringan Musim Kemarau Tahun Ini

BERITA TERKAIT