21 September 2022, 22:25 WIB

SMKN 5 Bandung Gelar Gebyar Pengambilan Ijazah Untuk Membantu Para Lulusan


Bayu Anggoro |

PENGAMBILAN ijazah di sekolah negeri tidak dipungut biaya. Namun kerap kali para alumni yang telah bekerja menunda untuk mengambilnya, karena mereka sudah sibuk dengan pekerjaannya.  

Melihat fenomena tersebut, Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 5
Kota Bandung menggelar Gebyar Pengambilan Ijazah, Rabu (21/9). Tim sekolah juga menyiapkan pula inovasi penyerahan secara door to door melalui kurir.

Kepala Sekolah SMKN 5 Dini Yuningsih mengatakan, pihaknya secara
bertahap menyerahkan ijazah tersebut kepada para alumni. Untuk tahun
2022, Gebyar Pengambilan ijazah telah dilaksanakan sejak Juli.

"Kemudian gebyar-nya kami siapkan kembali untuk nge-gas biar banyak lagi pengambilannya pada September tanggal 6, kemudian 19 September ada
gebyar lagi untuk semua kompetensi keahlian dan semua tahun. Sekarang alhamdulillah, pada hari ini, 21 September, kami laksanakan gebyar
kembali," kata Dini di sela Gebyar Pengambilan Ijazah kepada para alumni di Auditorium SMKN 5, Kota Bandung, Rabu (21/9).

Biasanya, menurut dia, para alumni yang belum mengambil ijazah ini
diakibatkan sibuk bekerja. Adapun ijazah-ijazah yang belum diambil
pemiliknya kebanyakan lulusan 2022 dengan total sekitar 500 ijazah.

"Jadi biasanya, kalau alumni SMKN ini, setelah lulus langsung bekerja
ditempat PKL-nya dulu. Hanya berbekal sertifikat kompetensi. Padahal
ijazah ini penting, kalau mau melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi
kan butuh ijazah," katanya.

Hingga saat ini, jumlah ijazah yang sudah diambil sudah mencapai 80%
dari total sekitar 500 ijazah. Pihaknya juga tengah mempersiapkan
inovasi lainnya dengan menggencarkan pengiriman door to door melalui
kurir, jika jumlah ijazah yang tersisa masih puluhan lembar.

Sebelum dilaksanakan gebyar, pihaknya melakukan pemberitahuan melalui
surat kepada para pemilik ijazah untuk segera mengambilnya di sekolah.
"Alhamdulillah progresnya bagus. Insya Allah apa yang kami lakukan akan meringankan kami dalam penyimpanan pendokumenan. Karena menyimpan ijazah ini beban buat kami," katanya.


Untuk kuliah

Kepala Bidang Pengembangan SMK (PSMK) Dinas Pendidikan Jawa Barat Edi
Purwanto mengatakan, fenomena yang terjadi saat ini dunia kerja memang
lebih melihat pada sertifikat kompetensi yang dimiliki anak SMK yang
digunakan untuk kerja di industri. Meski begitu, dia menilai ijazah
sangat diperlukan terutama oleh alumni yang hendak melanjutkan
pendidikan ke perguruan tinggi.

"Jadi mereka ini (para alumni) rata-rata langsung bekerja. Terus
keasyikan bekerja, akibatnya ijazah masih berada di sekolah. Seolah-olah ditahan sama pihak sekolah. Padahal tidak sama sekali," katanya.

Edi mengatakan, gerakan pengambilan ijazah ini akan dilakukan secara
masif di SMKN yang berada di Jawa Barat lainnya. Terlebih untuk
mengambil ijazah sendiri, tidak ada beban yang harus ditanggung oleh
orangtua atau para alumni lantaran pemerintah sudah menanggung biaya
pendidikan.

Edi memastikan, sejak 2019 setelah ada aturan tidak boleh ada pungutan
biaya, para lulusan SMK/SMA sederajat, bisa mengambil ijazah tanpa
mengeluarkan biaya. "Saya sudah sampaikan kepada semua sekolah, agar
melakukan gerakan mengantar ke rumah para siswa yang belum mengambil
ijazahnya."

Ditempat yang sama, orangtua murid, Ratih Sentani, 41, membenarkan bahwa kendala pengambilan ijazah ini hanya kesibukan anaknya bekerja di luar kota. Oleh karena itu, ada keterlambatan dari pihaknya dalam
pengambilan ijazah.

"Iya memang, anak saya setelah beres sekolah langsung bekerja diluar
kota. Oleh karena itu baru diambil sekarang, padahal sudah dari tahun
lalu lulusnya," katanya. (N-2)

BERITA TERKAIT