15 August 2022, 20:23 WIB

Petani Garam Tradisional di Pantura Lamongan Gagal Panen Akibat Cuaca Buruk


M Yakub |

PETANI garam konvensional di Kabupaten Lamongan, Jatim, mengalami gagal panen akibat cuaca buruk. Diperkirakan hingga akhir Agustus mendatang para petani garam belum akan panen.

Adapun bagi petani garam yang memanfaatkan rekayasa teknologi, seperti kelompok petani garam yang tergabung dalam Rumah Prisma tetap bisa produksi. Bahkan, petani garam Prisma bisa produksi hingga 12 ton sampai akhir Agustus mendatang.

"Sampai saat ini petambak konvensional masih belum bisa panen. Bahkan, mereka telah gagal panen akibat hujan lebat dua hari kemarin," kata Pendiri Rumah Prisma, Arifin Jamian, Senin (15/8) siang.

Menurut Arifin, pada awal Agustus lalu petani garam tradisional telah melakukan persiapan mengolah lahan dan pekan kemarin hampir panen. Tetapi, cuaca buruk melanda kawasan pesisir Lamongan hingga menyebabkan banjir.

Kondisi tersebut mengakibatkan air yang sudah tua dan siap diproduksi menjadi butiran kristal garam menjadi rusak. "Mereka gagal panen akibat lahannya kebanjiran," tambahnya.

Hal ini berbeda dengan lahan garam yang dikelolanya. Dengan memanfaatkan teknologi rekayasa cuaca tersebut lahan garam yang dikelolanya bisa tetap panen sepanjang masa dan tidak terkendala dengan cuaca. " Tidak ada masalah dengan cuaca buruk. Kami tetap bisa panen," jelasnya.

Ia menjelaskan,  sejak awal hingga pertengahan Agustus ini lahannya yang kurang dari 1 hektare telah berhasil panen sebanyak 5,6 ton garam kristal. Diperkirakan sampai akhir Agustus mendatang bakal didapatkan hasil panen sebanyak 12 ton garam kristal.

Arifin menambahkan, karena sedang musim paceklik garam,  harga barang juga terus mengalami kenaikan. Jika pada bulan sebelumnya harga garam kristal berkisar Rp800 per kg. Kini harganya menjadi Rp1.650 per kg sampai diatas truk. "Karena beberapa hari ini hujan, harga garam akan naik lagi hingga seharga Rp2.000per kg," paparnya. (OL-15)

 

BERITA TERKAIT