14 August 2022, 09:30 WIB

Bank Indonesia NTT Lepas Ekspor Perdana Kacang Lurik Organik ke Jerman


Palce Amalo |

KEPALA Bank Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Timur (NTT), I Wayan Ariawan Atmaja, melepas ekspor perdana kacanng lurik organik sebanyak 5,2 ton dari Kupang ke Jerman melalui Pelabuhan Semarang, Jawa Tengah.

Ekspor perdana dilepas dari gudang Kantor Cabang PT Profil Mitra Abadi Cabang Kupang di Kelurahan Maulafa, Kota Kupang, yang ditandai dengan pengisian 12 kilogram kacang lurik ke dalam peti kemas dan penguntingan pita.

Kacang organik tersebut diproduksi oleh Kelompok Tani Tunas Baru binaan PT Profil Mitra Abadi di Kefamenanu, Kabupaten Timor Tengah Utara seluas 56,2 hektare yang dikerjakan 41 petani di Desa Nifunenas, Kecamatan Insana Barat dan Desa Fafinesu A, Kecamatan Insana Fafinesu.

Baca juga: 68 UMKM di NTT Terlibat Dalam Festival Tenun 2022

Sebelum pelepasan ekspor perdana tersebut, dilakukan penandatanganan perjanjian kerja sama antara PT Profil Mitra Abadi sebagai eksportir dan Kelompok Tani Tunas Baru asal Desa Fafinesu sebagai Pembudidaya Kacang Tanah Lurik dan Kacang Tanah Organik dari desa tersebut, sebagai upaya Bank Indonesia untuk memperluas akses pasar sekaligus meningkatkan skala usaha petani.

Menurut Ariawan, sebanyak 30% share ekonomi dari PDRB NTT adalah dari pertanian. Karena itu, pertanian harus menjadi hal yang  sangat luar biasa di NTT untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. 

"Tetapi, ironisnya, nilai tukar petani NTT 95, yang artinya penerimaan 95, tetapi  pengeluaran 100. Ini menunjukkan petani masih miskin. Untuk itu, yang  kita lakukan adalah mendorong pertanian," ujarnya kepada wartawan, Minggu (14/8).

Untuk mendorong pertanian berkembang, Bank Indonesia menginisiasi ekosistem pembiayaan untuk program Pemprov NTT yakni Tanam Jagung Panen Sapi (TJPS) yang sampai semester II 2022 telah mencapai 104.000 hektare di seluruh wilayah NTT.

Menurutnyaa, pekan depan atau bertepatan dengan perayaan HUT RI 17 Agustus 2022, akan diluncurkan ekosistem pembiayaan untuk peternakan terutama sapi ongole di Pulau Sumba dan Sapi Bali di Pulau Timor dan Flores. 

"Kita menyaksikan ekspor perdana kacang lurik ini, mudah-mudahan dengan ini, kita akan kembangkan lagi menjadi ekosistem pembiayaan," ujarnya.

Adapun PT Profil Mitra Abadi bisa menjadi offtaker, sedangkan petani tetap menggarap lahannya dengan bantuan pembiayaan dari lembaga keuangan sehingga luas areal garapan meluas mencapai ratusan hektare.  

"Nanti pemerintah melakukan kapabilitas sehingga produksnya dari segi kualitas dan kuantitas sesuai dengan harapan pasar dalam negeri maupun internasional," kata dia.

Direktur PT Profil Mitra Abadi Cabang Kupang, Esje Mansula mengatakan kelebihan kacang lurik adalah tidak mengunakan pupuk organik dan juga pestisida. Pasar untuk komoditi pertanian organik seperti itu sangat berbuka terutama di pasar Eropa.

Seharusnya, pengiriman perdana ke Jerman itu mencapai 8,5 ton, namun produksi tahun ini berkurang akibat keterbatasan air karena kemarau. 

"Kita mengirim ke Jerman karena negara itu menerapkan standar yang tinggi untuk produk ini,"kata Esje.

Saat ini, produksi kacang lurik dari lahan seluas 56,2 hektare tersebut baru mencapai 50 ton dari potensi produksi sekitar 80 ton. 

Esje berharap pemerintah daerah dapat meningkatkan status pelabuhan laut di Kupang menjadi pelabuhan ekspor sehingga komoditi dari NTT bisa dikirim langsung ke luar negeri tanpa melalui Surabaya atau Semarang. (OL-1)

BERITA TERKAIT