29 July 2022, 19:20 WIB

Gerakan Ekonomi Hijau dari Warga Terpencil di Pegunungan


Lilik Darmawan |

PARA petani kopi di Desa Babadan, Kecamatan Pagentan, Banjarnegara, Jawa Tengah (Jateng) makin menapak jalan kesejahteraan. Dengan ekonomi hijau yang dikembangkan, petani tidak hanya mendapatkan keuntungan namun juga memelihara lingkungan. Kepedulian itu mulai dirintis bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Purwokerto sejak tahun 2018 silam. Konsep ekonomi hijau sejalan dengan tema pertemuan G20 di mana Indonesia sebagai pemegang Presidensi G20.

Desa Babadan merupakan wilayah di kawasan dataran tinggi Dieng. Karena berada di ketinggian 1.200 hingga 1.300 meter di atas permukaan laut (mdpl), sehingga cocok sebagai tempat budidaya sayuran. Maka, sudah sejak lama masyarakat setempat menanam berbagi jenis sayuran seperti cabai dan kubis.

Namun, ada pengalaman pahit melanda desa setempat. Tahun 2005 silam menjadi bukti. Desa setempat dilanda longsor dengan mengakibatkan 4 orang meninggal dunia. "Longsor menjadi salah satu ancaman,"kata warga desa setempat, Darsono, 44, pekan lalu.

Pengalaman buruk adanya bencana itulah yang membuat warga girang tatkala Kantor Perwakilan BI Purwokerto mengajak para petani mengikuti program konservasi. Tentu saja, tidak hanya soal konservasi, namun bisa meningkatkan ekonomi warga.

"Sebetulnya, warga di sini menanam kopi jenis arabica. Namun, sebelum tahun 2018, harga kopi arabica untuk pasar lokal sangat murah. Sebagian besar warga tidak terlalu tertarik dan membiarkan tanamannya. Mereka lebih memilih tanam sayuran. Dengan risiko erosi dan longsor," jelas Turno yang kini menjadi Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sida Makmur Desa Babadan sekaligus Ketua Koperasi Sikopel Mitreka Satata.

Menurutnya, selain memberikan tanaman kopi, BI menggelar pelatihan serta pembenahan kelembagaan. Dengan program Local Economi Development (LED), tahun 2018, Kantor BI meluncurkan program dengan tagline Sejuta Kopi Untuk Koservasi dan Ekonomi Petani. "Kami mendapat pelatihan bagaimana mengelola tanaman kopi yang baik sampai pada pemrosesannya. Selain itu,
juga pembenahan kelembagaan dengan membentuk koperasi bagi petani,"jelas Turno.

Pada tahun 2018 itulah, lanjut Turno, petani kopi difasilitasi untuk membbentuk koperasi. Dengan adanya koperasi, maka petani terwadahi sehingga banyak manfaat yang bisa diperoleh. "Mulai dari cara budidaya kopi yang baik dan organik, pemrosesan atau roasting, pengemasan hingga pemasaran. Ini sangat penting, karena dengan adanya koperasi, ada posisi tawar dari petani," katanya.

Peningkatan Kesejahteraan

Dengan adanya pendampingan yang dilaksanakan oleh BI Purwokerto, maka para petani kopi tidak hanya sebagai pembudidaya semata. Kini mereka juga melakukan pemrosesan atau roasting hingga pengepakan. "Kami telah mempunyai brand atau merek. Di  pasaran, kopi arabica asal Babadan
mempunyai merek Kopi Kailasa. Sebelum ada pendampingan BI, harga kopi Babadan murah. Apalagi di sini jenis arabica, harganya rendah di tingkat lokal. Setelah ada pelatihan bagi para petani, maka kini harganya jauh lebih baik," ungkap Turno.

Koperasi, lanjutnya, telah mematok harga pasaran Kopi Kailasa. Untuk biji kopi yang telah diroasting Rp200 ribu hingga Rp267 ribu per kilogram (kg) menyesuaikan prosesnya, apakah natural, honey process atau full wash.

"Kami juga menjual kemasan isi 50 gram, 100 gram, 250 gram dan 500 gram. Tidak hanya itu, koperasi juga menjual sachet box maupun kopi bubuk. Sehingga pangsa pasarnya bisa menyeluruh dari konsumen langsung maupun kafe," katanya.

Dengan harga yang pasti, tidak fluktuatif seperti sayuran, para petani  bersemangat untuk memproduksi kopi. Bahkan, koperasi masih kewalahan untuk menyuplai kebutuhan pasar.

"Selain pasar lokal, koperasi juga telah menyuplai kebutuhan salah satu kafe di Singapura, namanya 6Oz. Beberapa kali, kami sudah mengirimkan kopi sebanyak 50 kg hingga 1 kuintal," ujar dia.

Negara lain yang tertarik adalah Uni Emirat Arab, Australia dan Qatar. Persoalannya adalah, pihaknya belum mampu memenuhi permintaan sesuai dengan jumlah yang diinginkan. "Dengan adanya permintaan pasar luar negeri, memang masih sangat terbuka pasarnya," ungkapnya.

Pasar yang terbuka dengan harga kopi yang memadai, menjadikan petani di Babadan fokus mengembangkan tanaman kopi. "Dalam satu musim panen, petani dapat meraup hasil senilai Rp20 juta untuk areal 2 ribu hingga 3 ribu meter persegi (m2). Sedangkan untuk areal 5 ribu m2 hingga 1 hektare dapat mencapai Rp50 juta."

Budidaya kopi juga mendorong seluruh warga bekerja. Pemrosesan hingga pengepakan, tidak hanya kaum laki-laki saja yang bekerja. "Dalam proses pembuatan kopi, para wanita mempunyai peran dominan. Mulai dari penyortiran, roasting hingga pengepakan. Peran para ibu di sini sangat
vital. Sehingga dalam memproses Kopi Kailasa, peran perempuan sangat nyata," katanya.

Kepala Perwakilan BI Purwokerto Rony Hartawan mengatakan BI melakukan pendampingan dalam pelatihan-pelatihan khususnya dalam pemrosesan kopi.

"BI memberikan bantuan berupa mesin pasca panen berupa pullper, huller, rumah jemur, gunting pangkas, timbangan dan seperangkat komputer. Kami juga mendampingi dalam membuka akses pemasaran internasional. Salah satunya adalah Singapore Coffe Auction 2020. Dan ternyata berhasil, petani Babadan menyuplai kebutuhan kopi di Singapura," jelasnya.

BI mendorong pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG). Saat sekarang, pengajuan Indikasi Geografis kopi arabica pegunungan Dieng sudah diproses. Dengan adanya Indikasi Geografis tersebut, maka kekhasan kopi Babadan diakui, karena memiliki aroma dan
rasa yang berbeda dengan daerah lainnya.

Ekonomi Hijau

Membudidayakan kopi bagi Turno bukanlah sekadar mendatangkan kesejahteraan semata, melainkan upaya perbaikan lingkungan. Kopi menjadi tanaman konservasi. "Dengan tanaman kopi, maka konservasi bisa dijalankan. Sebab, tanaman kopi juga membutuhkan pohon naungan. Sehingga
dengan menanam kopi, maka di sekitarnya juga ditanam pohon keras seperti albasia, mahoni dan kaliandra. Dengan adanya pohon naungan, maka tanaman kopi akan lebih subur, sehingga hasilnya juga baik," jelas Turno.

Dia mengatakan tanaman kopi di Banjarnegara khususnya di Babadan dikelola secara organik. Pupuk yang dipakai adalah pupuk kandang dari hewan ternak yang dipelihara warga. "Kotoran ternak tidak dibuang begitu saja, melainkan dimanfaatkan untuk pupuk, terutama kopi. Tanaman kopi tak perlu disemprot pestisida, tidak seperti sayuran," katanya.

Sebuah riset yang dilaksanakan Hesti Yulianingrum dengan peneliti lainnya dan hasil penelitiannya diterbitkan di Jurnal Ilmu Lingkungan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang tahun 2020, menyebut pengelolaan secara organik budidaya kopi mampu menurunkan gas rumah kaca (GRK) secara signifikan.  "Dengan sistem organik yakni dengan menambahkan bahan-bahan organik ke tanaman kopi, dapat menurunkan GRK hingga 24,77%," jelasnya.

Hesti menyatakan pengelolaan perkebunan kopi secara organik dengan tanaman tahunan sebagai penaung atau agrogorestri  merupakan kegiatan ramah lingkungan sebagai upaya mitigasi gas rumah kaca.

Kepala Perwakilan BI Purwokerto Rony Hartawan menambahkan BI mendorong budidaya kopi di Babadan sebagai pertanian berkelanjutan dan ramah lingkungan. "Sifat kopi yang memiliki akar tunggang akan mampu menahan erosi. Di sisi lain, budidaya kopi tidak memanfaatkan pupuk kimia maupun pestisida.  Hal ini juga sejalan dengan program ekonomi hijau sebagai agenda prioritas G20 dalam mempromosikan pembangunan berkelanjutan yang berorientasi pada lingkungan, efisiensi energi dan perjuangan menghadapi perubahan iklim," tandasnya. (OL-13)

Baca Juga: Menteri PUPR: Pembangunan IKN Bisa Tiru Smart City di Korsel


 

BERITA TERKAIT