28 July 2022, 21:05 WIB

Kebo Bule Tetap Ikut Memeriahkan Kirab 1 Suro di Solo


Widjajadi |


SETIAP jelang malam 1 Suro, kehadiran kerbau bule, yang menjadi hewan klangenan Raja Keraton Kasunanan Surakarta selalu menjadi perbincangan.

Sejak Pakoe Boewono (PB) II, pewaris dinasti Mataram Islam yang bertahta di Keraton Kartosuro pada kurun 1726-1749, kerbau bule pemberian Kiai Hasan Beshari Tegalsari dari Ponorogo, Jawa Timur, itu, berikut keturunannya, selalu terlibat dalam prosesi kirab pusaka keraton pada malam 1 Suro.


Bahkan perannya yang tidak pernah tergantikan sebagai cucuk lampah (pemandu) kirab. Kerbau albino itu sering disebut masyarakat sebagai Kiai Slamet.

"Padahal keberadaanya dalam kirab adalah mengawal Kiai Slamet, pusaka Keraton yang menjadi simbol Keraton Kasunanan Surakarta dalam memohon keselamatan untuk alam semesta," ungkap Pengageng Parentah Keraton Surakarta, KGPH Dipokusumo dalam jumpa pers jelang Kirab 1 Suro, Kamis (28/7).

Namun, lanjut salah satu putra mendiang PB XII ini, menjelang perayaan 1 Suro atau 1 Muhharam 1444 H atau 31 Juli 2022 yang dilaksanakan dengan kirab pusaka Keraton Surakarta, sejumlah kerbau bule klangenan raja itu terinfeksi penyakit mulut dan kuku (PMK ).

Bahkan Nyai Apon, salah satu kerbau bule yang terinfeksi PMK tidak terselamatkan dan mati pada Kamis (21/7). Sementara 17 kerbau lain sudah divaksinasi dan 5 di antaranya menuju sehat, serta siap menjadi cucuk lampah kirab 1 Suro pada 29 Juli tengah malam.

"Memang berapa jumlah hewan klangenan ini menjadi cucuk lampah kirab, tidak selalu sama. Begitu halnya pusaka keraton yang dikeluarkan untuk dikirab. Yang jelas 5 hewan yang dikarantina dipersiapkan untuk dikirab," imbuh Dipokusumo.

Menurut dia, dalam kirab pusaka mengelilingi tembok besar Keraton Surakarta, keterlibatan kerbau bule keturunan Kyai Slamet itu masih menyertai dan terlibat. Bisa 5 seluruhnya, atau melihat perkembangan kesehatannya.

"Yang jelas setiap kirab malam 1 Suro, jumlah kerbau tidak selalu sama. Begitu pula pusaka yang dikirab, menunggu sabda Raja PB XIII, berapa yang mau dikeluarkan," tegasnya.

Keberadaan kerbau bule dalam mengawal kirab pusaka keraton yang bernama Kiai Slamet selalu menarik. Apalagi masyarakat justru memanggil kerbau bule itu sebagai Kiai Slamet. Bahkan ada yang berebut kotoran kerbau bule, karena percaya bisa membawa keselamatan.

Konon saata perpindahan Keraton Kartosuro menuju Desa Sala (Solo), kerbau lerbau bule itu menjadi bagian dari prosesi perjalanan. Ketika sampai di Desa Sala, hewan-hewan itu tidak mau beranjak, hingga kemudian keraton dibangun dan menjadi pusat heritage kota Solo sekaligus pusat kebudayaan Jawa.

Dalam prosesi kirab pusaka Keraton Surakarta pada Jumat tengah malam akan didahului dengan upacara menghadap Raja PB XIII, untuk mendengar apa yang menjadi titah raja, dalam perayaan Malam 1 Suro.

Wali Kota Surakarta Gibran Rakabuming Raka direncanakan juga akan mengikuti prosesi kirab 1 Suro, setelah beberapa jam sebelumnya ikut larut dalam prosesi 1 Suro mengelilingi tembok Pura Mangkunegarab. (N-2)

 

BERITA TERKAIT