25 July 2022, 20:43 WIB

BKSDA Aceh Tangani Konflik Harimau dan Manusia di Tapaktuan


Atalya Puspa |

KONFLIK harimau sumatera dengan masyarakat di Kecamatan Tapaktuan masih terus berlangsung hingga saat ini. Konflik yang berlangsung sejak Juni 2022 terjadi dengan lokasi konflik yang berpindah-pindah.

Itu mulai dari Desa Batu Itam hingga ke Desa Lhok Bengkuang. "Konflik harimau sumatera tersebut sudah menimbulkan interaksi negatif, yaitu memangsa ternak kambing milik warga sebanyak 9 ekor," ujar Kepala BKSDA Aceh Agus Arianto dalam keterangannya, Senin (25/7).

Sebagai upaya penanganan konflik, BKSDA Aceh dan Balai Besar Taman Nasional (BBTN) Gunung Leuser bekerja sama dengan Muspika, WCS-IP dan FKL. Mereka melakukan berbagai upaya, seperti sosialisasi, patroli dan pemasangan camera trap di lokasi konflik. Berikut, upaya penghalauan termasuk dengan mendatangkan pawang dan memasang kandang jebak.

Baca juga: Dua Harimau Sumatra Kembali ke Habitat di Kerinci Seblat

Pada Senin (25/7) ini, upaya tim membuahkan hasil. Dalam kegiatan rutin pengecekan box trap, didapati 1 ekor harimau sumatera yang masuk ke dalam perangkap di Desa Lhok Bengkuang, Kecamatan Tapaktuan, Kabupaten Aceh Selatan.

Harimau sumatera tersebut akan diobservasi dan dilakukan pemeriksaan medis lengkap, sebelum dilepasliarkan kembali ke habitatnya. "Tim dokter hewan sedang menuju ke lokasi. Survey lokasi pelepasliaran juga akan dilakukan secara paralel, bersama dengan tim dari BBTN Gunung Leuser," imbuh Agus.

Baca juga: Konflik Gajah-Manusia di Aceh Terjadi Hampir Setiap Hari

Adapun harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan salah satu jenis satwa yang dilindungi di Indonesia. Hal itu berdasarkan Peraturan Menteri LHK tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa Liar yang Dilindungi. 

Mengacu The IUCN Red List of Threatened Species, satwa yang hanya ditemukan di wilayah Sumatera ini berstatus Critically Endangered. BKSDA Aceh mengapresiasi dukungan semua pihak yang membantu proses evakuasi harimau sumatera tersebut.

"Kami mengimbau seluruh masyarakat untuk tidak melakukan pemasangan jerat, yang dapat berdampak pada keselamatan satwa liar. Itu juga dapat memicu terjadinya konflik antara manusia dan harimau," jelasnya.(OL-11)


 

BERITA TERKAIT