19 July 2022, 14:00 WIB

Di Kaliurang, Dubes Ukraina Ingatkan Peran Penyair Chairil Anwar 


Mediaindonesia.com |

DUTA Besar Ukraina untuk Indonesia Vasyl Hamianin di depan civitas akademika Program Studi Hubungan Internasional (FI) Universitas Islam Indonesia (UII) mengingatkan peran besar penyair Chairil Anwar dalam perjuangan Indonesia.

"Mengapa Chairil Anwar? Chairil Anwar ialah pemuda yang memberikan peran luar biasa bagi perjuangan Indonesia, bagi semangat kemerdekaan Indonesia. Perjuangannya sesuatu yang luar biasa," tuturnya kepada peserta Ambassadorial Lecture yang bertajuk The Ukrainian Questions in Global Politics di Auditorium Prof. K.H. Abdul Kahar Mudzakkir, Kampus Terpadu UII, Kaliurang, Senin (18/7). 

Tidak banyak disadari peserta yang menghadiri kegiatan tersebut, tahun ini merupakan perayaan 100 tahun Charil Anwar. Sastrawan kelahiran 26 Juli 1922 itu dikenal sebagai Si Binatang Jalang dari karyanya yang berjudul Aku. 

Dari tangannya banyak syair terlahir dan membuat sastra di Indonesia menjadi berkembang. Selain itu, peran Chairil Anwar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia yaitu menjadi pelopor Angkatan 45 sebagai perlawanan terhadap kooptasi budaya yang dilakukan penjajah Jepang yang membentuk Pusat Kebudayaan atau Keimin Bunka Shidoso. 

Perjuangan melalui sastra bagi rakyat Ukraina melawan penindasan Rusia sangatlah panjang. Itu dimulai sejak 1720 ketika Tsar Peter I mengeluarkan dekrit yang melarang penerbitan dalam bahasa Ukraina. Ia juga memerintahkan untuk menyita semua buku gereja Ukraina.

Tekanan terhadap bahasa semakin keras di 1847 ketika karya-karya sastra Ukraina seperti Shevchenko, Kostomarov, Kulish dilarang oleh Rusia, pembantaian budayawan Ukraina pada 1930-an, dan puncaknya ketika Konferensi Tashkent di 1979 memutuskan bahasa Rusia menjadi bahasa seluruh wilayah Uni Soviet.

Dalam sambutannya, Rektor UII Prof. Fathul Wahid menyebutkan bahwa sejalan dengan pemerintah, pihaknya selalu berkomitmen untuk menjalankan amanat konstitusi UUD 1945 untuk mewujudkan perdamaian dunia. "UII juga bersimpati atas krisis kemanusiaan yang muncul di Ukraina sebagai konsekuensi dari adanya perang yang berkelanjutan. Rektor UII juga menyatakan bahwa dunia harus mengecam segala bentuk agresi yang mengancam kemanusiaan dan perdamaian dunia," tegasnya.

Hubungan diplomatik Indonesia dan Ukraina telah terjalin sejak 1992 saat kedua negara melakukan kerja sama yang baik dalam bidang ekonomi. Namun, kondisi krisis kemanusiaan yang terjadi memunculkan kekhawatiran. Bukan hanya karena hal tersebut menggoyahkan stabilitas Ukraina, tetapi juga berdampak signifikan pada stabilitas global.

Sedikitnya 400 peserta yang berasal dari kalangan sivitas akademika UII serta masyarakat umum mengikuti kegiatan yang diharapkan dapat membuat para peserta yang hadir lebih memahami mengenai permasalahan Ukraina secara objektif dan berimbang. Kegiatan ini menjadi penting karena sejak Perang Rusia-Ukraina bermula pada Februari 2022, belum tampak pertanda bahwa konflik bersenjata di antara kedua negara tersebut akan berakhir. 

Ada beberapa argumen mengapa perang Rusia-Ukraina belum akan berakhir dalam waktu dekat. Argumen pertama menyatakan bahwa perang ini akan segera berakhir karena ada keterlibatan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang berperan secara aktif dalam menahan gempuran Rusia terhadap Ukraina. Argumen lain menyatakan pula bahwa perang tidak bisa berakhir karena ada visi geopolitik Rusia yang hendak membangun Pax Rosica, istilah historiografis untuk menyebut masa-masa damai ala Rusia di kawasan Eropa.

Dalam kegiatan itu, seluruh peserta mengheningkan cipta selama beberapa saat untuk mengenang para korban pesawat Maskapai Malaysia bernomor penerbangan MH17 yang ditembak oleh senjata Rusia pada 17 Juli 2014 di Ukraina Timur.
Seluruh penumpang dan awak pesawat Boeing 777-200 penerbangan Amsterdam-Kuala Lumpur berjumlah 298 orang dengan 12 diantaranya WNI dan 1 bayi tewas. Hingga kini Rusia menyangkal dan menolak meminta maaf. (RO/OL-14)

BERITA TERKAIT