17 July 2022, 14:23 WIB

Tidak Divaksinasi, Korban Gigitan Anjing Rabies di Flores Meninggal


Palce Amalo |

SEORANG anak berusia tujuh tahun di Kabupaten Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), meninggal setelah satu bulan digigit anjing rabies di leher. Korban berasal dari Kelurahan Olakile, Kecamatan Boawae, digigit anjing rabies pada Juni. 

Korban tidak diberikan suntikan vaksin antirabies (VAR) dan serum antirabies (SAR) oleh pihak berwenang setempat. Ia dilarikan ke puskesmas pada Kamis (15/7) dan meninggal pada Jumat (16/7) sore.

Pemerhati rabies yang juga Satuan Medis Fungsional Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) TC Hillers Maumere, Sikka, Dokter Asep Purnama mengatakan anak tersebut dilarikan ke Puskesmas Boawae dalam kondisi gelisah, takut air (hydrophobia), dan takut angin (aerophobia). "Sayang seribu kali sayang, anak ini tidak mendapatkan vaksinasi rabies sebagai salah satu rangkaian upaya pencegahan pascapaparan," katanya kepada Media Indonesia, Sabtu (16/7).

VAR berfungsi merangsang antibodi penetral virus rabies setelah seseorang digigit hewan yang diduga membawa virus rabies. Sedangkan SAR berfungsi menetralkan virus pada luka bekas gigitan serta memberikan perlindungan sebelum antibodi yang terbentuk dari vaksin muncul.

Baca juga: Satu Korban Meninggal Akibat Penembakan KKB Papua Berasal dari Manggarai

Sesuai catatan Asep, sejak awal Juli, total korban meninggal akibat rabies di Flores sebanyak empat orang terdiri dari 3 di Kabupaten Nagekeo dan 1 di Kabupaten Ende. Menurutnya, kasus ancaman rabies di Flores sungguh nyata, tetapi ancaman kematian bisa dicegah jika korban diberikan suntikan vaksin antirabies. 

Namun pihaknya tidak bisa berbuat apa-apa, ketika gejala aerophobia dan hydrophobia pada korban gigitan anjing rabies sudah muncul. "Seluruh warga Flores tidak mampu melindungi para korban dari si jahanam virus rabies. Padahal, rabies bisa dicegah. Maafkan kami semua anakku. Kami yang tidak peduli akan ancaman rabies untukmu," tutup Asep. (OL-14)

BERITA TERKAIT