07 July 2022, 17:57 WIB

Konsep Tri Hita Karana Pertahankan Produktivitas Petani Bali


M. Ilham Ramadhan Avisena |

KAWASAN  Jatiluwih, Bali sejak dulu dikenal mampu memproduksi kualitas beras yang cukup baik. Berlokasi di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut, kawasan Jatiluwih memiliki kontur berbukit dengan tanah yang subur dan menawarkan pemandangan luar biasa.

Kawasan itu mencakup lebih dari 53.000 hektare lahan pertanian tertutup. Dengan kondisi geografis tersebut, metode yang digunakan untuk pertanian di Jatiluwih ialah terasering, memungkinkan pertanian di tanah yang memiliki kontur yang curam, seperti dataran tinggi dan lereng gunung.

Manajemen dan pengelolaan pertanian di Jatiluwih dilakukan oleh Subak. Subak merupakan organisasi kemasyarakatan yang khusus mengatur sistem pengairan sawah di Bali sejak abad ke-9.

Dengan kata lain, manajemen pertanian di Pulau Dewata banyak melibatkan penduduk desa, alih-alih diatur oleh raja dan keturunannya. Subak membentuk ikatan yang tak terpisahkan yang menyatu menjadi satu sistem.

"Subak mencerminkan filosofis konsep Tri Hita Karana, yang menyatukan alam semesta roh, dunia manusia, dan alam," kata Wayan Nusra, Ketua Subak Jatiluwih, Kamis (7/7).

Dia menjelaskan, sistem subak yang mempraktikkan pertanian egaliter dan memungkinkan orang Bali menjadi petani padi paling produktif di Nusantara meski menghadapi pelbagai tantangan.

Subak Jatiluwih juga mendapatkan predikat warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada 2012. Predikat itu diberikan lantaran Subak Jatiluwih masih terbilang asli dan asri, serta masih menjunjung tinggi aturan tradisional dalam melestarikannya.

Kunjungan ke Jatiluwih merupakan rangkaian terakhir dari Meetings of Agriculture Chief Scientist (MACS) G20 yang diselenggarakan di Bali pada 5-7 Juli 2022. Kunjungan tersebut juga sekaligus menjadi ajang bagi Indonesia untuk memamerkan salah satu keunikan dan keunggulan pertanian di Pulau Dewata. (OL-8)

BERITA TERKAIT