30 June 2022, 14:48 WIB

30 Anak di Sumatra Barat Idap Cerebral Palsy


Yose Hendra |

SEJUMLAH 30 anak di Sumatra Barat mengidap Cerebral Palsy (CP). Kini mereka bernaung di Yayaysan Rumah Gadang (Raga) CP guna mengikuti berbagai program yang diadakan seperti fisioterapi, edukasi, belajar membaca dan melatih saraf motorik.

Wakil Ketua Fisioterapi Indonesia Ahmad Syakib menjelaskan kasus Cerebral Palsy (CP) di Indonesia cukup tinggi yakni 2-5 kasus dari setiap 100 ribu kelahiran, sementara di negara maju hanya 1-2 kasus di setiap 100 ribu kelahiran. Hal tersebut disampaikannya pada Talkshow Inspiratif terkait CP yang diprakarsai oleh Yayasan Rumah Gadang Cerebral Palsy (Raga CP).

Namun, menurutnya, kasus CP dapat diminimalisir jika ditangani sedari dini, yakni semenjak masa kehamilan, dimana ibu hamil harus sehat, mendapatkan asupan gizi yang cukup, serta dipantau dan rutin melakukan kontrol.

"Usahakan setelah lahir, jika terindikasi adanya gangguan kesehatan maupun lahir berisiko (prematur), maka harus dilakukan tindakan (stimulasi dini)," terangnya.

Ia menjelaskan, yang harus dilakukan jika si anak terindikasi CP adalah ditangani dengan orientasi untuk meningkatkan kemampuan fungsional seperti merangkak, berdiri hingga berjalan. Intinya mengajarkan kemampuan gerak yang fungsional.

Ahmad memaparkan, CP disebabkan oleh gangguan syaraf pusat bisa terjadi masa kehamilan, proses melahirkan hingga berumur sebelum dua tahun.

Pelaksana harian (plh) Kepala Dinas Pendidikan Sumbar Sadrianto menegaskan pemerintah Sumbar siap mendukung dan mendorong upaya pembangunan anak-anak disabilitas, serta berkoordinasi dan bersinergi dengan yayasan Raga CP.

"Penanganan disabilitas memerlukan kerja sama dan sinergi semua pihak, baik pemerintah yayasan, orangtua hingga masyarakat, kita siap berkoordinasi agar pendidikan menyentuh semua pihak, dalam upaya menjadikan Sumbar maju, cerdas dan madani," paparnya.

Baca juga: Pasien Cerebral Palsy butuh Dukungan untuk Hidup Normal

Ketua Yayasan Raga CP Hilda Yetti menjelaskan Yayasan Raga CP awalnya pada tahun 2015 merupakan komunitas orangtua yang memiliki anak penderita CP.

"Dari komunitas tersebut, kita sepakat mendirikan yayasan guna menampung dan membantu anak-anak penderita CP," ucapnya.

Pada kesempatan ini juga dilakukan penandatanganan MoU antara Yayasan Raga CP dengan STIKES Ford de Kock, yang dilakukan oleh Wakil Rektor Nurhayati. Nurhayati menyebutkan, ini merupakan implementasi Tridarma perguruan tinggi guna membantu kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.

"Nantinya kita akan memberikan terapi kepada anak-anak CP, kemudian juga melakukan magang mahasiswa, serta penelitian guna membantu anak-anak dengan CP, harapan kami tentunya dapat berkontribusi lebih besar guna meningkatkan kualitas hidup anak-anak penderita CP," tutur Nurhayati.(OL-5)
 

BERITA TERKAIT