29 June 2022, 13:45 WIB

Pengembangan Padi Apung Disorot SPI, Dinilai tidak Efisien


Denny Susanto |


RENCANA Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan untuk mengembangkan sistem pertanian padi di atas air atau padi apung, mendapat sorotan dari Serikat Petani Indonesia (SPI). Pertanian padi apung dinilai tidak efisien, padat modal dan tidak ramah lingkungan.

Hal itu dikemukakan Ketua SPI Kalsel, Dwi Putera Kurniawan,
Rabu (29/6).

"Kami melihat konsep pertanian padi apung yang akan dikembangkan pemda tidak efisien. Padi apung bukan solusi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi petani lahan rawa," tegasnya.

Sistem pertanian padi apung yang mirip pertanian hidroponik
tersebut, jika dikembangkan dalam skala besar akan membutuhkan biaya besar.Penggunaan streoform dan pot plastik juga akan menjadi sumber sampah baru.

"Perlu biaya besar untuk pengembangan pertanian dengan sistem ini," ujarnya.

Menurut Dwi, produksi padi Kalsel selama ini mengalami surplus cukup besar dan memiliki potensi lahan pertanian yang masih luas. Kalsel dikenal dengan sistem pertanian 4 jenis yaitu irigasi, tadah hujan, pasang surut dan rawa lebak.

"Khusus untuk pertanian rawa yangterendam, para petani secara turun temurun adaptif beralih menjadi nelayan rawa. Sebagian mereka mencari pekerjaan di darat dan adapula yang menyewa lahan pertanian di kabupaten tetangga," ujarnya.

Pemerintah daerah, menurut Dwi, dapat memberikan insentif berupa
penyediaan lahan baru di daerah lebih aman dari banjir, dengan memanfaatkan lahan tidur yang masih luas. "Jangan sampai proyek padi apung ini menambah panjang daftar proyek-proyek pertanian yang gagal karena kurang matangnya perencanaan," tutur Dwi.

Dikembangkan luas


Sebelumnya, Pemprov Kalsel berencana mengembangkan sistem pertanian padi apung yang diharapkan dapat menjadi solusi kasus kegagalan tanam dan panen akibat banjir. Saat ini pilot project padi apung sudah berjalan di sejumlah daerah.

"Kami tengah mengembangkan tanaman padi dengan sistem terapung. Pilot project ini sudah kita perlihatkan kepada Menteri Pertanian dan rencananya akan kita kembangkan secara luas di Kalsel," ungkap Kepala
Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Provinsi Kalsel, Syamsir Rahman,
beberapa waktu lalu.

Padi apung ini dikembangkan di sejumlah daerah pertanian lahan
rawa seperti Kabupaten Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan dan Hulu Sungai Utara, dengan luas total 50 hektare. Sistem padi apung hampir sama dengan pertanian hidroponik skala besar. Padi ditanam di dalam pot dan diletakkan terapung di atas air. (N-2)

BERITA TERKAIT