24 June 2022, 09:25 WIB

Di Sikka Ada Desa Khusus Buat Anak-anak Menjamin Pengasuhan Terbaik


Gabriel Langga |

SEBUAH desa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara hanya ditempati oleh anak-anak. Di desa itu ada 15 rumah, dengan masing-masing rumah ditempati sekitar 10 orang anak yang diasuh oleh satu orang ibu asuh. Total penghuni desa itu sebanyak 150 anak dengan 25 orang dewasa (pengasuh)

Pemandangannya yang ada di sekitar desa anak pun terasa sejuk dan asri. Setiap halaman rumah mereka dipenuhi dengan bunga-bunga yang dirawat oleh anak-anak tersebut. Mereka datang dengan latar belakang persoalan yang beragam.

Desa anak ini dilengkapi berbagai fasilitas bermain dan fasilitas belajar serta fasilitas olahraga. Siapapun yang hendak berkunjung di desa yang terletak di Waturia ini dilarang merokok. Hal ini dikarenakan melindungi anak-anak dari bahaya merokok.

Desa anak ini dibangun oleh SOS Children Village Indonesia yang merupakan organisasi non profit yang mendukung hak-hak anak dan berkomitmen untuk memberikan kebutuhan utama anak-anak yaitu keluarga dan orang tua.

Deputy Director Fund Development & Communications SOS Children Village Indonesia, Novita Irawaty Tanjung mengatakan desa anak ditempati oleh anak-anak yang kehilangan pengasuhan orang tua atau berisiko kehilangan pengasuhan dari orang tua.

Dia pun menyampaikan dalam desa anak SOS ini kita membangun rumah-rumah keluarga dalam pengasuhan berbasis keluarga. Khusus bagi anak-anak yang kehilangan pengasuhan orang tua atau berisiko sehingga selama berada di desa anak ini  diberikan beberapa program penguatan keluarga seperti SOS Family Care (SFC) dan Family Strengthening Program (FSP)

"Dalam program-program berbasis keluarga itu kita berusaha menolong anak-anak karena banyak anak-anak yang kehilangan orang tua dan terlantar sehingga butuh pengasuhan," urai Novita, kepada mediaindonesia.com, Jumat (24/6) sambil berjalan mengelilingi desa anak tersebut.

Novita mengungkapkan selama anak-anak berada di desa anak ini mereka diasuh oleh ibu asuh sebagai ibu pengganti orang tua mereka, dengan merawat  anak-anak hingga menjadi dewasa dan mandiri.

"Jadi anak-anak yang diasuh di Desa anak ini  memiliki ayah dan ibunya karena anak-anak yang tinggal juga memiliki akte kelahiran. Jadi ibu asuh dan ayah asuh itu menjadi sosok orang tua mereka sehingga selama pengasuhan itu kita terapkan berbasis keluarga. Jadi mereka hidup seperti normal dirumah," papar dia.

Selain itu, jelas Novita, anak-anak juga diberikan pendidikan mulai dari Paud hingga kuliah sesuai dengan keinginan anak-anak tersebut. Mereka yang menentukan sekolah mana yang menjadi impiannya, baik di sekolah negeri maupun swasta.

"Desa anak ini sebenarnya ingin memastikan setiap anak yang terdampak dan rentan tetap mendapatkan hak-haknya sebagai pengasuhan berbasis keluarga," papar dia.

Sementara itu, Senior Edukator SOS Childrens Village Flores, Gregorius Yakob Matius mengatakan pola pengasuhan di desa anak ini berbasis keluarga persis seperti keluarga makanya tidak seperti asrama umumnya dan tidak seperti panti asuhan. "Jadi anak-anak yang tinggal di rumah-rumah yang sudah disediakan oleh kita dengan satu pengasuh seorang ibu. Itu
konsep kami sejak dari dulu," papar dia.

Dia menyampaikan total keseluruhan anak yang tinggal di Desa anak ini sebanyak 175 orang yang kita asuh. "Selama anak-anak berada di Desa anak ini mereka wajib membersihkan Areal rumahnya masing-masing. Di sini juga banyak aktivitas yang dilakukan oleh anak-anak seperti olahraga, kesenian, keagamaan, bahasa Inggris digital dan lain sebagainya. Prinsipnya semua aktivitas, kami upayakan untuk mereka yang berada di desa anak ini," tutup dia. (OL-13)

Baca Juga: Camat Nubatukan Proses Hukum Klaim Aset Taman Kota Swaolsa Titen

BERITA TERKAIT