21 June 2022, 17:10 WIB

Pemkot Bandung Kerahkan Tim Gabungan Cegah Penyebaran PMK


Naviandri |

PEMERINTAH Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat mengerahkan 130 petugas gabungan untuk mencegah penyebaran penyakit kuku dan mulut (PMK). Petugas yang dikerahkan berasal dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Kota Bandung dan relawan Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) dan disebar di 30 kecamatan.

Tim ini memang rutin setiap tahun diterjunkan menjelang Hari Raya Idul Adha. Namun kini lebih cepat diterjunkan lantaran adanya wabah PMK. "Biasanya kami bentuk tim itu H-10 Idul Adha. Tapi sekarang mereka ikut kawal wabah PMK," kata Kepala DKPP Kota Bandung, Gin Gin Ginanjar di bandung Selasa (21/6).

Tim satgas ini, lanjut Gin Gin, bakal memeriksa hewan yang akan diperjualbelikan sampai hewan dipotong. Ketika hewan yang telah  diperiksa dinyatakan sehat maka akan diberikan nametag tanda kalung sehat. Kalung itu akan berisi barcode yang dapat dipindai melalui aplikasi e-Selamat dan memuat data hewan kurban yang telah diperiksa oleh tim pemeriksa hewan kurban.

"Petugas tim pemeriksa akan mengunggah beragam informasi hewan kurban ke aplikasi itu berdasar hasil pemeriksaan. Si calon pembeli bisa mengakses informasi mengenai hewan kurban. Jadi, bagi warga yang ingin pastikan kesehatan dan kelayakan hewan kurban bisa gunakan aplikasi e-Selamat," terangnya.

Tak hanya itu, Gin Gin juga meyakini bahwa aplikasi ini dapat menyeleksi ketat hewan kurban, sebab satu kode barcode hanya digunakan untuk seekor hewan yang sudah diperiksa. Selama ini ada isu bahwa kalung yang dipasang bisa dipindahkan ke hewan tak sehat. Tapi, barcode ini unik hanya untuk satu identitas hewan. Tahun ini pihaknya akan periksa lebih dari 4.000 hewan kurban.

Sementara itu di Kabupaten Bandung, PMK yang menimpa hewan ternak tak  sedikit yang membuat hewanya mati, namun banyak juga yang berhasil sembuh. Pegawai Peternakan Sapi di Kampung Cipulus, Desa Cilengkrang, Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Hendri Andrian, mengaku, sempat kewalahan karena sapinya nya terkena PMK.

"Hampir semua sapi di sini terkena PMK, semuanya ada 35 sapi. Namun setelah merawatnya dengan menggunakan, ramuan herbal, akhirnya sapi-sapinya kembali sehat," ujarnya.

Menurut Hendri, kalau untuk mengobati, mulut pakai sitrun disemprot,  nanti dijilat sama sapinya. Sedangkan untuk mengobati bagian dalam sapi, ia memberikan telur, kunyit dan gula merah. Untuk kakinya biasanya di semprot pake sitrun atau disinfektan. Kalau dokter kan biasanya hanya memberi antibiotik saja.

"Saya bersyukur dengan cara penhobatan seperti itu, sapi-sapinya yang terjangkit PMK tak ada yang mati. Untuk steril kandang, setiap hari dibersihkan dan disemprot disinfektan, untuk pengobatan sapi dengan cara disuntik antibiotik, belum tentu sembuh juga," katanya. (OL-15)

 

BERITA TERKAIT