21 June 2022, 07:24 WIB

Doa Bersama Pertama Kali Setelah 400 Tahun Genosida di Banda Neira


M Iqbal Al Machmudi |

DOA bersama pertama setelah 400 tahun pembantaian di Banda Neira dilakukan untuk mendoakan arwah leluhur yang mengalami genosida oleh penjajah Belanda untuk merebut perdagangan pala. Lokasi doa dilakukan di Benteng Nassau, tempat yang diyakini sebagai lokasi pembantaian 44 orang kaya (orang yang berpangkat/berpendudukan).

Direktur Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek Hilmar Farid menilai doa bersama pertama itu menjadi bagian yang akan mengingatkan dan menyampaikan harapan baik pada leluhur.

"Pagi hari ini, kita melantunkan doa menyampaikan harapan terbaik bagi para pendahulu kita dan juga bagi masa depan yang lebih baik. Sehingga, ini menjadi pertemuan yang baik yang harus wariskan kebaikan juga pada generasi mendatang," kata Hilmar di dalam doa bersama di Benteng Nassau, Banda Naira, Selasa (21/6).

Baca juga: Jadi Titik Jalur Rempah, Banda Neira Diharapkan dapat Menarik Wisatawan

Raja Banda Ely Alimudin Latar Ratwar menceritakan terjadi pembantaian di Banda pada 8 Mei 1621 terhadap masyarakat Banda yang melawan Belanda. Belanda merupakan bangsa ketiga, setelah Portugis dan Inggris, yang datang ke Banda untuk memonopoli perdagangan dengan menyebarkan fitnah kepada masyarakat pribumi, Inggris, dan Portugis sehingga mengacaukan perdagangan.

"Korbannya ada 44 orang kaya. Ada juga yang dibuang ke Batavia atau ke daerah-daerah lain sehingga terjadi peristiwa ini," ucap Raja.

Doa bersama dan tabur bunga di sumur tempat pembuangan jenazah tersebut diinisiasi oleh Perkumpulan Bandaneira Muda (Perbamu). 

Ketua Permbamu Isra Prasetya mengatakan doa bersama ini untuk seluruh leluhur banda yang gugur termasuk 44 orang yang dibantai di Benteng Massau ini.

Para korban pembantaian dimutilasi menjadi 4 potongan, sebagian tubuhnya digantung di pohon bambu dan sebagian dimasukkan ke sumur.

"Sehingga ketika peristiwa itu Banda 3 bulan hujan tiada henti dan langit hitam dengan awan yang pekat dan sayangnya sampai sekarang tidak pernah dilakukan doa bersama. Sehingga baru kali ini dilakukan doa bersama di lokasi genosida," ungkapnya.

Doa dilakukan oleh pemuka adat setempat dengan masyarakat sekitar. Terdapat kain putih ditaburi kembang serta membakar sedikit kemenyan sebagai tradisi sekitar.

"Kegiatan doa bersama ini untuk menghapus kepedihan masa lalu dan untuk mengajak masyarakat Banda menata masa depan. Saat ini, kita beri tahu dunia bahwa peristiwa genosida yang terjadi di Banda adalah peristiwa yang mempengaruhi peradaban. Sayangnya, peristiwa ini di Indonesia saja tidak masuk dalam pelajaran," ujarnya.

Saat ini, Perbamu juga ingin meluruskan fakta bahwa Gubernur Jenderal wilayah kongsi Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada saat itu, yakni Jan Pieterszoon Coen bukan pahlawan nasional dan merupakan penjahat perang. Jan Pieterszoon Coen berperang karena ingin merampas paling berharga masyarakat Banda yaitu pala.

Harga yang tinggi dari pala membuat VOC memonopoli perdagangan pala di Banda. Biasanya warga lokal menjual pala pada Inggris dan Portugis pada saat itu, dan Belanda datang untuk memonopoli perdagangan. Karena harga 0,4 kg pala seharga 7 ekor lembu gemuk di Eropa.

"Kami juga mendapat dukungan dari rekan-rekan di Belanda yang mengakui adanya genosida sehingga mereka memberikan kami sumbangan ketika menggelar peringatan sekitar 1.000 euro atau sekitar Rp15 jutaan," pungkasnya. (OL-1)

BERITA TERKAIT