19 June 2022, 21:25 WIB

Presiden Jerman Apresiasi Seni=Budaya Yogyakarta


Ardi Teristi Hardi |

PRESIDEN Jerman Frank-Walter Steinmeier, memperalihatkan apresiasinya terhadap seni tradisional dan kontemporer saat berkunjung ke Yogyakarta, Jumat (17/6). Itulah yang terucap ketika ia berkunjung ke Keraton Yogyakarta dan Museum Nasional Jogja (Jogja National Museum).

Presiden Frank dijamu oleh Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan HB X dan keluarga. Sang Presiden diajak menyaksikan benda-benda koleksi Keraton di Emper Gedhong Prabayeksa, Beksan Lawung Ageng di Tratag Bangsal Kencana, dan menikmati suguhan kopi, teh, serta makanan ringan khas Keraton di Bangsal Manis.

Putri sulung Sri Sultan HB X, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi menyampaikan, benda-benda koleksi Keraton Yogyakarta yang diperlihatkan kepada Presiden Jerman adalah batik, wayang kulit, barang pecah belah milik Keraton, serta manuskrip.

"Beliau apresiasi tariannya, karena karena lawung itu kan musiknya semarak ada terompet, drum beliau berpikir kalau yang rancak itu hanya di Bali gitu. Termasuk bertanya tentang tarian perang, kemudian tadi sudah dijelaskan bahwa lawung itu untuk wedding," ujar GKR Mangkubumi.

Beksan Lawung merupakan tarian pusaka ciptaan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Tarian ini menggambarkan adu ketangkasan prajurit saat berlatih tombak dan berkuda sehingga gerakan-gerakannya mengandung unsur heroik, patriotik, dan berkarakter maskulin.

Dalam pertemuan itu, Presiden Jerman dan Sri Sultan sempat membahas tentang menjaga warisan budaya hingga lingkungan. Kedua belah pihak banyak membahas soal warisan budaya karena di Jerman maupun Yogyakarta sama-sama peduli dengan warisan budaya terutama terkait tentang arsitektur.

"Di Jerman itu punya teknologi dan riset yang cukup bagus untuk environment. Kami ingin kolaborasi penataan permasalahan lingkungan di Jogja," imbuh dia.

Baca juga : Antisipasi Penyebaran Varian BAru Covid-19, Wali Kota Semarang Percepat Vaksinasi Booster

Di Museum Nasional Jogja, sang presiden mengapresiasi Proyek Kolektif Seni Monumen Antroposen Yogyakarta. Ketika melihat pertunjukkan seni kontemporer di JNM, ia menilai, para seniman di sini mampu menggabungkan teknologi modern yang menyatu dengan kesenian.

Bahkan, kreativitas seni yang dibuat oleh para seniman peka kepada isu-isu yang terjadi di Indonesia. 

"Terkait kesenian yang ada di sini kami berikan dukungan. Tentu saja ini sesuatu yang bagus dan juga bisa mendapat dukungan dari pemerintah daerah, ujar Presiden Steinmeier.

Proyek Monumen Antroposen ini merupakan hasil gagasan dari Indonesian Upcycle Forum dan didukung penuh oleh Goethe-Institut Indonesia dan German Federal Foreign Office, yang harapannya dapat menjadi pusat budaya dan ekonomi kreatif yang mempromosikan ekonomi sirkular yang berbasis komunitas.

Presiden Steinmeier menyampaikan, secara keseluruhan, kunjungannya ke Indonesia dilakukan untuk memperingati hubungan diplomatik Jerman-Indonesia yang sudah berusia 70 tahun dan terjalin sejak 25 Juni 1952. Usai menemui Presiden RI Joko Widodo, Presiden Steinmeier sengaja menyempatkan diri untuk juga bertandang ke DIY guna bertemu dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

"Saya di sini tentunya tidak hanya untuk menjalin hubungan dan membicarakan soal politik. Namun juga upaya Indonesia di bidang lingkungan hidup, iklim, dan energi," tutup dia.

Sebelum ke Keraton Yogyakarta, Presiden Jerman juga sempat berkunjung ke Candi Borobudur dan Universitas Gadjah Mada. (OL-7)

BERITA TERKAIT