18 June 2022, 17:57 WIB

Konsumsi Air Kotor, Angka Stunting di Manggarai Timur Tinggi


Yohanes Manasye |

ANGKA stunting dan gizi buruk di Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, sangat tinggi. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur per Februari 2022, sebanyak 2.767 atau 11,6% balita dalam kondisi stunting. Sebanyak 154 balita di antara balita itu menderita gizi buruk dan 958 balita mengalami gizi kurang. 

Selain kondisi ekonomi dan pola asuh, sanitasi yang buruk seperti kebiasaan mengonsumsi air dari sungai yang kotor karena tidak ada sarana air bersih disinyalir sebagai salah satu faktor penyebabnya. Ini seperti yang dialami salah satu balita penderita gizi buruk berikut ini. 

Desa Bea Ngencung, Kecamatan Rana Mese, merupakan salah satu desa dengan balita stunting tertinggi di Manggarai Timur. Dari 127 balita di desa ini terdapat 46 orang mengalami gagal tumbuh atau stunting. Satu di antaranya menderita gizi buruk. 

Balita bernama Maria Olivia Iman berusia tiga tahun lima bulan. Namun kondisinya sangat memprihatinkan. Padahal, putri bungsu dari pasangan Martinus Onja dan Imelda Ndeles ini terlahir sebagai bayi normal dengan berat badan 2,1 kilogram. 

Kondisinya mulai berubah sejak usia 2 bulan, setelah Oliv menderita demam. Meski selanjutnya ia tak lagi mengalami sakit, tubuh Oliv tidak bertumbuh seperti bayi lain. Tubuhnya kurus dan perutnya buncit. Hingga usianya kini menginjak 3,5 tahun, Oliv belum bisa berjalan. Bahkan sekedar berdiri pun, kaki Oliv tak mampu menopang tubuh kurusnya. 

Oliv hanya bisa bertahan hidup dengan air susu ibu. Padahal, sejak usia enam bulan, seorang bayi harus sudah diberi makanan tambahan. Namun, Oliv tidak bisa menelan makanan selain ASI. 

Baru sejak tiga bulan lalu, Oliv mulai terbiasa dengan makanan tambahan sehingga kondisinya sedikit membaik. Berat badannya pun kini bertambah menjadi 6,5 kilogram meskipun masih jauh dari kondisi bayi normal seusianya yang seharusnya memiliki berat badan di atas 10 kilogram. 

"Dari dalam kandungannya dia tidak apa-apa, Pak. Umur dua bulan dia (ada) perubahan. Sampai sekarang mau umur tiga tahun, berubah dia sampai kelihatan tulangnya. Tidak mau juga dia makan minum. Hanya air susu. Kalau ada uang, beli lauk. Saya kasih dia makan ikan. Kalau tidak ada, makan nasi dan sayur saja, daun ubi," papar Imelda Ndeles.

Agustina Seuk, penanggung jawab Puskesmas Pembantu Bea Ngencung, mengaku Oliv baru satu kali mendapat imunisasi, yakni imunisasi khusus untuk bayi baru lahir. Sedangkan imunisasi lain selanjutnya tidak bisa diberikan karena kondisinya tidak memungkinkan. 

Pihaknya sudah berusaha menangani Oliv sesuai sumber daya yang dimiliki di tingkat Pustu. Melihat kondisi Oliv yang kian memprihatinkan, mereka menyarankan agar ia dibawa ke rumah sakit agar mendapat perawatan yang lebih baik. 

Namun, orangtua tak bisa menuruti saran tersebut karena ketiadaan biaya. Bahkan anjuran agar ibunya mengonsumsi makanan dengan gizi cukup sehingga memperbaiki kualitas air susu pun sangat sulit karena kondisi ekonomi keluarga yang morat-marit hanya ditopang dengan kerja serabutan. 

"Diberi makanan tambahan tapi bayinya tidak bisa makan. Tapi tetap kami kasi dan anjurkan mamanya tetap bagaimana caranya tidak bisa dia telan sendiri, tidak bisa telan sendiri, caranya dengan air. Tapi tetap tidak bisa. Dia hanya hidup dengan ASI. Jadi kami selalu anjurkan untuk ibu supaya makan yang banyak, yang gizi lah. Supaya air susunya bisa bagikan ke bayi. Kami pernah anjurkan untuk baby ini dibawah ke rumah sakit. Tapi keluhan orang tua bayi tidak punya biaya." 

Kondisi ekonomi keluarga memang menjadi salah satu pemicu buruknya gizi Oliv hingga sulitnya mengakses pelayanan kesehatan yang lebih memadai. Namun faktor lain yang disinyalir menjadi pemicu kondisi tersebut yakni buruknya sanitasi di desa itu, terutama akses terhadap air bersih. 

Setiap hari keluarga Oliv menggunakan air sungai yang kotor. Setiap hari, ibu dan kakak Oliv harus berjalan kaki sambil membawa jeriken hingga setengah jam untuk menimba air di sungai. 

Sungai Wae Musur tak pernah kering sepanjang tahun. Selain untuk mengairi sawah, sungai ini digunakan untuk ternak serta mandi, cuci, hingga minum warga sekitar. 

Pada bagian hulu terlihat warga lain sedang mencuci, mandi, dan ada pula yang sedang menyeberang. Sementara pada bagian hilir, ibu dan kakak Oliv menimba pakai jeriken untuk dibawa ke rumah. Air yang tidak bersih ini kemudian digunakan untuk masak, minum, dan cuci. 

Baca juga: Banjir Rob dan Gelombang Tinggi kembali Terjang Pantura Jateng

Kepala Desa Bea Ngencung Evaristus Indrano mengakui warganya belum mendapatkan air bersih. Dari sembilan RT di desa itu, terdapat dua RT yang mengonsumsi air dari mata air. Sedangkan tujuh RT lain mengonsumsi air dari sungai Wae Musur. Menurutnya, buruknya sanitasi menjadi penyebab tingginya angka stunting hingga ada balita gizi buruk di desa itu. 

Pihaknya sudah berupaya menyikapi masalah stunting dan gizi buruk dengan mengalokasikan dana desa untuk pemberian bantuan dan makanan tambahan. Namun upaya tersebut belum terlihat dampaknya. Ia berharap agar pemerintah di atasnya bisa menghadirkan sarana air bersih di desanya karena biaya tidak cukup jika mengharapkan dana desa. 

"Total jumlah penduduk 1.600 lebih. Untuk jumlah balita yang diukur dalam stunting ada 127 orang sampelnya. Setelah melakukan pengukuran ada beberapa kriteria dan ternyata ada 46 balita yang stunting atau setara dengan 37,4%. Dua tahun terakhir kami tetap berupaya dari pemerintah desa selain bantuan-bantuan ada, ada makanan tambahan. Mungkin faktor lain juga dipengaruhi juga karena tingkat penggunaan air karena rata-rata di RT sini, ada dua RT yang benar-benar mengonsumsi air dari mata air, RT 1 dan RT 2. Beberapa RT di luarnya, tujuh RT mereka mengonsumsi air dari kali yang notabene tingkat kebersihannya sangat rendah. Mungkin ini merupakan salah satu faktor yang menyebabkan stunting di desa saya." (OL-14)

BERITA TERKAIT