02 June 2022, 17:25 WIB

Lamongan Kebut Program Penurunan Angka Stunting


M Yakub |

PEMKAB Lamongan, Jawa Timur menargetkan menurunkan angka stunting hingga tercapai nol (zero) di wilayah serempat. Pemkab telah membentuk 1.038 Tim Pendamping Keluarga (TPK) tim dengan jumlah anggota sebanyak 3.108 orang.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengatakan, stunting tidak hanya mengenai pertumbuhan anak yang terhambat, namun juga berkaitan dengan perkembangan otak yang kurang maksimal.

"Namun hal tersebut bisa dicegah melalui upaya secara holistic, integratif dan berkualitas melalui sinergi koordinasi dan kerjasama semua sektor baik kesehatan maupun non kesehatan,"  katanya usai  Launching Lamongan Menuju Zero Stunting di Pemkab Lamongan, Selasa (31/5).

Dari hasil survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) menunjukkan prevelensi stunting di Kabupaten Lamongan pada 2021 diangka 20,5 persen dan ditargetkan pencapaian kasus stunting turun di bawah 14 persen pada 2024 mendatang.

Untuk mencapai target tersebut, lanjut dia,  berbagai upaya terus dikebut Pemkab Lamongan sebagai bentuk keteguhan dalam komitmennya menurunkan stunting hingga tercapai zero stunting di Lamongan.

"Ini merupakan sebuah momen penting untuk meneguhkan komitmen kita bersama untuk menurunkan stunting bahkan menuju zero stunting. Inilah wujud dari sebuah kolaborasi penanganan stunting yang tidak bisa ditangani satu sektor atau dinas saja tapi dilakukan bersama sama secara kolaboratif," tambah Bupati.

Sebagai implementasi dalam percepatan penurunan stunting tersebut, lanjut Bupati, Pemkab Lamongan melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (PPKB) telah membentuk 1.038 Tim Pendamping Keluarga (TPK) dengan jumlah anggota sebanyak 3.108 orang.

Mereka terduri dari  tenaga kesehatan, kader PKK dan kader KB yang siap melakukan pendampingan kepada calon pengantin (catin), ibu hamil dan ibu yang memiliki anak baduta (Usia 0-23 bulan). Upaya tereebut untuk mempercepat penurunan stunting agar berjalan efektif dan tepat sasaran.

"Yang lebih penting dari ibu-ibu penggerak TPK lebih peka lagi  khususnya ketika ada catin, juga ibu-ibu hamil, termasuk anak-anak yang baru lahir. Karena kunci pencegahan dan penanganan kasus stunting adalah 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)," imbuhnya.

Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting Lamongan yang juga menjabat Wakil Bupati Lamongan, Abdul Rouf menambahkan dengan adanya pendampingan kepada calon pengantin akan di ketahui kondisi kesehatan calon pengantin, diharapkan calon pengantin siap untuk melaksanakan pernikahan, sehingga ketika hamil akan melahirkan anak yang sehat dan tidak terkena stunting.

Rouf juga mengajak para calon pengantin mendaftarkan diri ke Kantor Urusan Agama (KUA) 3 bulan sebelum nikah, mengunduh aplikasi di  Elektronik Siap Nikah dan Hamil (ELSIMIL).

"Didalam aplikasi ELSIMIL akan di ketahui kondisi calon pengantin, seperti usia, tinggi dan berat badan, ukuran lingkar lengan atas (LILA), anemia atau kadar HB dalam darah," jelas Rouf.

Pemkab juga melalukan  penandatanganan komitmen bersama Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS), tokoh agama, tokoh masyarakat dan mitra kerja lainnya dalam upaya penurunan stunting di Lamongan.

BERITA TERKAIT