02 June 2022, 17:13 WIB

Lamongan Gelar Festival Melon


M Yakub |

PEMERINTAH Kabupaten Lamongan mengelar Festival dan Panen Melon Megilan di Dusun Slempit, Desa Pangkatrejo, Kecamatan Sugio, Kamis (2/6). Upaya tersebut salah satu program Lamongan dalam mengembangkan potensi produk hortikultura. Festival ini juga masih dalam rangkaian hari jadi Lamongan ke- 453. Pada musim ini produksi melon berkurang karena kendala anomali cuaca.

"Luar biasa, walaupun di tengah cuaca ekstrem, tapi petani di Pangkatrejo ini masih bisa profit rata-rata 1 hektare sekitar Rp27 juta," ungkap Bupati Lamongan Yuhronur Efendi mengapresiasi kerja keras petani Pangkatrejo.

Menurut dia, pertanian hortikultura ini merupakan salah satu alternatif pilihan di tengah pertanian dengan sistem irigasi tadah hujan. Bahkan di beberapa wilayah seperti di Kecamatan Brondong, meski tidak memiliki lahan pertanian melon seluas daerah Sugio, petani berinovasi dengan menggunakan green house sebagai media tanam melon.

"Kemarin bahkan kita panen di daerah Brondong malah tidak di lahan yang seluas ini, di lahan green house, karena tekad dan keinginan kuat untuk bertanam melon. Alhamdulillah hasilnya juga cukup memuaskan, artinya di beberapa tempat di Kabupaten Lamongan ini sudah demikian banyak produksi melon. Hortikultura ini yang rata-rata berhasil dan bisa dipanen dengan baik, salah satu contonya ada di Pangkatrejo ini," tuturnya.

Bupati juga menambahkan, pemasaran melon di Pangkatrejo ini tidak mengalami kendala.

"Ke depan akan terus kita kembangkan, akan terus kita dorong, akan terus kita fasilitasi supaya produksi melon di Kabupaten Lamongan ini semakin baik, bahkan nanti bisa menjadi branding hortikultura Lamongan adalah melon. Ayo terus ditingkatkan ini bareng-bareng pemerintah," ucapnya.

Baca juga: Anies Panen Golden Melon di Kawasan Agro Edu Wisata Cilangkap

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Sukriyah menambahkan, produksi melon di Lamongan pada 2022 sampai dengan bulan Mei telah mencapai 61 hektare dengan luas panen 38 hektare dan produksi 1.689 kuintal. Rata-rata produktivitas 44,46 kuintal per hektare. Adapun khusus di desa pangkatrejo terdapat 23 hektare dengan varietas Pertiwi yang sudah panen.

Dalam satu tahun, tanaman melon tersebut dapat dipanen sebanyak empat kali. Secara analisa, usaha tani dengan biaya modal sekitar Rp63 juta per hektare dengan harga jual per kilogram saat panen Rp5 ribu dan produksi per hektare rata-rata Rp20 ribu kilo dapat menghasilkan sekitar Rp100 juta per hektare.

"Saat ini produksi melon memang kurang karena cuaca. Namun produk melon ini sangat menjanjikan, salah satunya tanaman buah yang semua kalangan suka. Jadi ada untung kurang lebih Rp37 juta sekali panen," tukas Sukriyah.(OL-5)

BERITA TERKAIT