25 May 2022, 12:50 WIB

Petani Tembakau Kesulitan Pupuk ZA


Tosiani |

MEMASUKI musim tanam tembakau tahun ini, petani tembakau di wilayah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah mengalami kesulitan mendapatkan pupuk ZA bersubsidi. Sebagai gantinya mereka menggunakan pupuk ZA non subsidi yang harganya mahal dan pupuk urea yang kurang cocok untuk pertumbuhan tanaman tembakau.

Tri Supono, salah seorang petani di Dusun Lamuk, Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo, Temanggung mengaku sudah mencari pupuk ZA bersubsidi di kios pupuk di daerahnya yang telah ditunjuk secara khusus untuk melayani pembelian pupuk dengan kartu tani. Namun pupuk ZA tersebut langka.

"Saat ini kesulitan pupuk jenis ZA, tidak ada terus stoknya yang subsidi. Adanya pupuk urea. Sekarang kalo beli pupuk di satu tempat yang sudah ditunjuk untuk pembelian dengan kartu tani karena pupuk bersubsidi tidak bisa didapat di sembarang kios," katanya, Rabu (25/5).

Tri Supono menanam 6.000 pohon tembakau pada lahannya seluas 0,5 hektare. Usia tanamannya sekarang sudah mencapai 50 hari, sehingga mestinya sudah saatnya memberi pupuk tambahan. Untuk 6.000 pohon itu ia butuh 400 kilogram pupuk ZA.

Pupuk ZA bersubsidi biasanya bisa didapat dengan harga Rp88 ribu per sak isi 50 kilogram. Karena pupuk subsidi langka, ia terpaksa merogoh kocek lebih banyak untuk membeli pupuk ZA non subsidi dengan harga Rp400 ribu per sak isi 50 kilogram. Selebihnya ia menggunakan pupuk urea sebagai campuran.

"Kabar yang saya dengar jenis pupuk ZA bersubsidi akan dihapus, jadi harus beli puupuk yang non subsidi harganya empat kali lipat dari yang subsidi. Pupuk non subsidi juga sudah tersedia di kios-kios pertanian, kemasannya beda dari yang bersubsidi," katanya.

Ia menjelaskan, kandungan nitrogen pada pupuk urea lebih tinggi. Karenanya, jika curah masih tinggi seperti sekarang ini malah bisa menyebabkan tanaman tembakaunya mati jika memakai pupuk urea. Sedangkan pupuk ZA lebih ramah untuk tanaman tembakau. "Kalau salah pemupukan dalam masa perawatan bisa berisiko besar terhadap tanaman," katanya.

Di daerah lereng gunung kini sudah 90% lahan petani yang ditanami tembakau. Musim tanam tembakau memang biasanya dimulai dari lahan yang paling atas terlebih dahulu. Terutama lahan dekat hutan karena suhunya lebih dingin, sehingga umur tanaman akan lebih lama pertumbuhannya. Hal ini berbeda dari kondisi lahan sawah di daerah bawah.

"Selain pupuk, kendala tanam sekarang ada hama penggerek batang dan siput karena cuaca masih basah, sehingga hama-hama masih banyak yang menyerang tanaman," katanya. (TS/OL-10)

BERITA TERKAIT