22 May 2022, 11:51 WIB

Gerakan Tanam Kedelai di Klaten Jadi Proyek Percontohan


Djoko Sardjono | Nusantara

GERAKAN tanam kedelai dan pencanangan tunas bangkit kedelai dilaksanakan di Desa Burikan, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten, Sabtu (21/5). Kegiatan ini digelar Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian RI dalam rangka peningkatan produksi kedelai nasional.

Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan Kementan Suwandi, yang diwakili Direktur Aneka Kacang dan Umbi (Akabi) Yuris Tiyanto, mengatakan gerakan tanam kedelai di Desa Burikan, Kecamatan Cawas, itu digelar bekerja sama dengan Fakultas Pertanian UGM (Universitas Gajah Mada)  Yogyakarta.

Gerakan tanam kedelai di Desa Burikan, lanjut Yuris, memanfaatkan lahan sawah sekitar 200 hektare, di mana demplotnya 10 hektare. Untuk itu, petani kedelai di desa ini akan mendapatkan pendampingan serta pembinaan dari Fakultas Teknologi Pertanian UGM Yogyakarta.

Baca juga: Angka Stunting di Klaten Turun Menjadi 9,3 Persen

Selain itu, Direktorat Akabi akan menggandeng pihak swasta untuk menjamin keterserapan serta kesesuaian harga kedelai hasil panen petani lokal. Sehingga, dengan demikian petani akan merasa aman dan percaya diri menanam kedelai secara terus-menerus atau berkelanjutan.

"Hari ini juga, kami canangkan tunas bangkit kedelai. Ini kali pertama di Indonesia. Jadi, kita membangkitkan kedelai melalui Kabupaten Klaten, khususnya di Desa Burikan. Tunas bangkit kedelai ini akan mewakili kami untuk mengembangkan kedelai ke seluruh Indonesia," jelasnya.

Dengan begitu, diharapkan kedelai akan bangkit guna mengurangi impor kedelai. Indonesia selama 25 tahun melakukan impor kedelai karena produksi dalam negeri baru bisa memenuhi kebutuhan 30%. Maka, melalui gerakan tanam kedelai ini ketergantungan impor dapat dikurangi.

Menurut Yuris, gerakan tanam kedelai yang dicanangkan di Desa Burikan, adalah merupakan proyek percontohan. Ke depan, tanaman kedelai akan dikembangkan di seluruh penjuru Indonesia. Namun, untuk kebangkitan kedelai perlu dukungan stakeholders termasuk masyarakat dan media massa.

"Menyoal swasembada kedelai, kami targetkan pada 2026. Untuk itu, Kementan RI tahun ini menargetkan areal tanam kedelai 350 ribu hektare atau total 600 ribu hektare, dengan target produksi satu juta ton. Lantas, ke depan kami targetkan tanam kedelai sekitar 900 ribu hektare," ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sri Mulyani menyampaikan terima kasih kepada Dirjen Tanaman Pangan Suwandi dan siap menyukseskan Klaten sebagai proyek percontohan tanam kedelai di Indonesia. Untuk peningkatan luas tanam kedelai dan produktivitas pun masih terbuka lebar di Kabupaten Klaten.

Dilaporkannya, luas lahan pertanian di Kabupaten Klaten 31.943 hektare dan luas lahan tanaman kedelai 1.920 hektare. 

Pada 2021, luas panen kedelai 1.303 hektare, produksi 2.127 ton, produktivitas 1,63 ton per hektare, dan kebutuhan kedelai di Klaten 13.275 ton per tahun.

Kendala pengembangan tanaman kedelai di Klaten, menurut Sri Mulyani, karena terjadi penurunan minat petani untuk menanam kedelai. Hal ini disebabkan harga kedelai rendah, hanya sekitar Rp9.000. Sedangkan harga komoditas kacang hijau di pasar saat ini sudah mencapai Rp13.000 per kilogram.

"Jadi, kendala yang saat ini terjadi adalah harga kedelai yang rendah. Sehingga, menurunkan minat petani menanam kedelai. Karena itu, kami mengharapkan pemerintah pusat memberikan terobosan agar harga kedelai semakin stabil dan petani kedelai menjadi lebih sejahtera," kata Bupati Klaten.

Terkait program IP 400, Sri Mulyani mengatakan gerakan tanam kedelai tidak berbenturan dengan program IP 400 di Klaten yang dicanangkan sebelumnya oleh Menteri Pertanian RI. Karena, pola empat kali tanam dalam setahun itu tidak harus selalu padi. Tapi, bisa kedelai atau kacang hijau.

Gerakan tanam kedelai di Desa Burikan, dihadiri Dirjen Tanaman Pangan Suwandi (secara zoom), Dekan Fakultas Teknologi Pertanian UGM Eni Harmayanti, Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah Supriyanto, dan Penjabat (Pj) Sekretaris Daerah Jajang Prihono. (OL-1)

BERITA TERKAIT