13 May 2022, 16:20 WIB

Pelaku Pariwisata di Bali Wajib Gunakan Busana Adat Setiap Kamis


Arnoldus Dhae | Nusantara

GUBERNUR Bali Wayan Koster meminta pelaku usaha pariwisata di Bali berkomitmen agar setiap hari Kamis menggunakan busana adat Bali. Hal ini dengan sesuai pelaksanaan Peraturan Gubernur Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali yang sejalan dengan semangat Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali, hingga Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 5 Tahun 2020 tentang Standar Penyelenggaraan Kepariwisataan Budaya Bali.

Permintaan tersebut dengan tegas disampaikan Koster setelah menegur salah satu manajer hotel di ITDC, Nusa Dua, Badung saat membuka acara Deklarasi Bersama Mewujudkan Peradaban Baru Penyiaran Melalui Informasi Berkualitas, Kamis malam (12/5/2022).

Menurut Koster, wisata di Bali merupakan pariwisata budaya. Makanya budaya harus dilestarikan. Salah satu cirinya adalah busana adat Bali. Bagaimana mungkin para pekerja pariwisata yang menjadi garda terdepan dalam mempertahankan pariwisata budaya namun tidak ikut melestarikan budaya.

Koster menjelaskan Provinsi Bali saat ini sudah mulai mengeliat kepariwisataannya sejak 7 Maret 2022 yang lalu, baik wisatawan domestik (wisdom) maupun wisatawan mancanegara (wisman) sudah mulai berdatangan, karena pandemi Covid-19 di Bali sejak awal tahun sampai Mei 2022 ini sudah melandai dan stabil. Tanda - tanda melandainya pandemi Covid-19 di Bali sudah menunjukan hasil, dimulai pasca adanya keterlibatan banyak orang di upacara Adat di Bali, seperti di Pura Agung Besakih maupun sebelumnya saat perayaan Hari Suci Nyepi tanggal 3 Maret yang lalu di semua Kabupaten/Kota di Bali ada perayaan Ogoh - Ogoh yang melibatkan banyak orang, tapi ternyata Covid-19 tidak mengalami lonjakan kasus.

"Jadi tetap stabil sampai saat ini. Begitu juga ketika hari libur Idul Fitri dan cuti bersama, banyak yang ke Bali dan sampai hari ini saya amati kasusnya tetap stabil," jelas Koster.

Melandainya pandemi Covid-19, kata Koster, hal itu disebabkan masyarakat Bali tertib menjalankan protokol kesehatan dan vaksinasi boosternya sekarang sudah hampir 70 persen. "Jadi ini vaksin booster tertinggi di Indonesia," ujar Gubernur Bali.

Dari parameter itulah, Bali sejatinya sudah sangat kondusif dikunjungi oleh Wisdom dan Wisman. Mengenai pariwisata Bali, Koster menyebut bahwa Pulau Bali ini tidak didesain secara khusus dengan suatu perencanaan, tapi berkembang secara alamiah. Sehingga karena budaya-nya, menjadikan Bali berkembang pariwisata-nya. Namun terlalu lama pariwisata di Bali tidak diarahkan dengan satu kebijakan yang tepat, sehingga perkembangannya menjadi kurang baik, compang - camping, dan disana - sini ada yang kurang, tetapi karena budaya Bali ini menarik bagi masyarakat luar, membuat Bali tetap menjadi perhatian dan pilihan nomor satu masyarakat dunia untuk berkunjung.

Pariwisata Bali yang dikelola secara tidak baik saja, dulu orang masih rajin berkunjung ke Bali, apalagi dikelola dengan baik. "Itulah sebabnya, saya sekarang ini betul - betul menata pariwisata Bali secara fundamental dan komprehensif berbasis pada budaya, serta berorientasi pada kualitas dan bermartabat. Ini yang ingin kami tekankan betul. Sehingga Kami tidak ingin pariwisata ini mengorbankan budaya, justru pariwisata harus membangun budaya. Karena Bali tanpa budaya tidak akan mungkin bisa menjadi daerah wisata.

"Selama ini yang memelihara pariwisata adalah budaya, seharusnya pariwisata yang memelihara budaya, karena pariwisata yang bekepentingan dengan budaya. Kami akan mulai seimbangkan antara pelaku pariwisata dengan masyarakat di Bali yang begitu kuat di dalam menjaga budaya-nya. Itulah sebabnya, saya sekarang ini dalam membangun Bali, betul - betul menggunakan budaya sebagai hulunya pembangunan, menjadikan budaya sebagai mainstream pembangunan," ujarnya. (OL-13)

Baca Juga: Mudik Terbukti Ampuh Gairahkan Wisata di Cirebon

BERITA TERKAIT