13 May 2022, 14:15 WIB

Harga Daging Sapi di Pantura tak Terpengaruh Munculnya PMK


Akhmad Safuan | Nusantara

MUNCULNYA penyakit mulut dan kuku pada sapi di empat daerah di Jawa Tengah belum mempengaruhi harga daging di pasaran. Harga daging sapi tetap stabil sejak sebelum lebaran lalu.

Pemantauan Media Indonesia, Jumat (13/5), harga berbagai kebutuhan pokok (sembako) di beberapa daerah di pantura Jawa Tengah masih tetap stabil sejak sebelum lebaran hingga saat ini tidak terjadi lonjakan atau penurunan meskipun tingkat kebutuhan berkurang.

Di beberapa daerah seperti Pekalongan, Kendal, Semarang dan Demak harga kebutuhan pokok masih stabil seperti beras kelas bawah Rp10.650 per kilogram, gula pasir Rp15.000 per kilogram, bawang merah dan bawang putih Rp42.500 per kilogram dan minyak goreng curah Rp16.000-18.000 per liter.

Penurunan sedikit terjadi pada harga telur ayam ras dari sebelumnya Rp26.000 menjadi Rp25.500 per kilogram. Pun harga cabe ada penurunan berkisar Rp500-1.000 per kilogram jika dibandingkan saat libur lebaran.

Sementara itu harga daging ayam potong juga mengalami penurunan dari sebelumnya Rp38.000 menjadi Rp25.500 per kilogram, namun untuk daging sapi di beberapa pasar tradisional tetap stabil yakni untuk kualitas 1 Rp150.000 per kilogram dan kualitas 2 Rp141.000 per kilogram.

"Harga daging sapi tetap sama dari sebelum lebaran hingga sekarang, jadi tidak terpengaruh dengan ramainya berita tentang penyakit mulut dan kuku pada hewan," kata Titik, 45, distributor daging sapi di Ambarawa, Kabupaten Semarang.

Baca juga: Usai Lebaran Harga Daging Sapi Dan Ayam Masih Tinggi di Babel

Hal serupa juga diungkapkan Satini, 50, pedagang daging di Pasar Johar, Kota Semarang, harga daging sapi stabil dan untuk daging ayam potong turun.

"Wah ramai penyakit mulut dan kuku tidak berpengaruh dengan harga dan penjualan," ucap Satini.

Sebelumnya Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengingatkan agar instansi terkait terus memantau dan mewaspadai penyebaran penyakit mulut dan kuku pada hewan ternak terutama sapi, yakni dengan memperketat lalu lintas hewan di perbatasan antardaerah dan provinsi.

"Penyakit mulut dan kuku sudah terdeteksi di empat daerah yakni Boyolali, Rembang, Banjarnegara dan Wonosobo, namun masih bisa diobati sehingga tidak perlu panik," ujar Ganjar Pranowo.

Berdasarkan laporan sementara dari dinas peternakan, lanjut Ganjar Pranowo, jumlah hewan terserang penyakit mulut dan kuku di empat daerah tersebut tidak banyak, sehingga tidak perlu kekhawatiran cukup besar namun tetap dipantau dan waspada. (OL-5)

BERITA TERKAIT