27 April 2022, 19:45 WIB

Lembata Gelar Simulasi Bencana Tsunami pada Peringatan HKBN


Alexander Taum |


HARI Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) diperingati Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Lembata dengan menggelar simulasi bencana tsunami. Aksi itu digelar bersama Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB).

Simulasi bencana tsunami tersebut dilakukan di RT 36, Kelurahan Lewoleba Timur, Kota Lewoleba.

Pulau Lembata sendiri merupakan salah satu kabupaten yang rawan bencana.  Setahun yang lalu, kabupaten satu pulau ini dilanda bencana erupsi Gunung Ile Lewotolok dan bencana banjir serta longsor yang memakan banyak korban jiwa.

Kesadaran akan potensi bencana terus ditumbuhkan kepada masyarakat. Bahkan, isu tsunami yang merebak setelah bencana banjir bandang, sempat
membuat panik ribuan warga kota Lewoleba. Akibat isu yang tiba tiba
merebak itu, ribuan warga kota Lewoleba berlari berhamburan mencari
titik perlindungan hingga menyebabkan korban jiwa.

Dalam simulasi, BPBD dan FPRB juga melibatkan Pramuka dan relawan dari beberapa lembaga swadaya masyarakat. Simulasi diawali dengan apel bersama pada pagi hari dipimpin oleh Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Lembata, Siprinus Meru.

Para pegawai BPBD dan relawan kemudian dibagi ke dalam empat kelompok.
Setiap kelompok disebar ke rumah-rumah warga RT 36 yang sudah menunggu di rumah.

Di sana, mereka memastikan setiap keluarga bisa mengevakuasi diri secara baik saat siaga darurat dan darurat bencana tsunami.

Dalam simulasi bencana tsunami itu, Setiap keluarga harus mengevakuasi
diri dengan membawa tas siaga bencana. Ini merupakan bagian dari konsep
Keluarga Tangguh Bencana (Katana).

Tak hanya tas siaga bencana, setiap keluarga juga sudah tahu teknik
menyelamatkan diri termasuk bagaimana mengevakuasi kelompok rentan
seperti kaum difabel, anak-anak, dan lansia.

Simulasi berlangsung selama satu jam dan berjalan lancar. Warga juga
tampak antusias dan mengikuti arahan evakuasi diri dari rumah hingga ke
titik kumpul.

Beberapa warga mengakui simulasi bencana seperti itu sangat penting
dilakukan, apalagi mereka baru saja menyaksikan pengalaman bencana
erupsi dan badai seroja yang menyebabkan banjir dan longsor setahun yang
lalu.

Kepala Pelaksana BPBD Lembata Sipri Meru, menjelaskan bahwa urusan
penanggulangan bencana melibatkan lima pemangku kepentingan, yakni pemerintah, masyarakat, lembaga sosial/dunia usaha, media dan akademisi.

Sipri Meru menambahkan kegiatan itu juga merefleksikan kembali peristiwa bencana setahun yang lalu dan memakan banyak korban jiwa. Untuk itu, salah satu tujuan dari simulasi ini adalah tak ada korban jiwa saat terjadinya bencana atau zero korban bencana.

"Hari ini kita bangun kekuatan bersama untuk kesiapsiagaan bencana di
Lembata, selalu siaga hadapi bencana sehingga selalu kuat tanggulangi
bencana," katanya.

Dia menyebutkan bahwa pemerintah juga telah memasang alat pendeteksi
tsunami di Pantai Hadakewa yang bisa mengantisipasi tsunami dengan
mengukur tinggi air laut. Alat ini sangat penting karena wilayah pesisir pantai yang juga terancam bencana tsunami.

Kegiatan simulasi ini juga diikuti oleh Lurah Lewoleba Timur, Ronald F
Aikoli serta sejumlah relawan Forum PRB Lembata seperti Achan Raring,
Tinus Huar, Eki Habel, Andri Atagoran, dan anak-anak Pramuka. (N-2)

BERITA TERKAIT