30 March 2022, 19:30 WIB

Kehidupan Eyang Waljinah Difilmkan


Widjajadi |


SELAMA berkarier, Waldjinah, penyanyi keroncong asal Solo, Jawa Tengah, yang kini sudah lanjut usia telah menyanyikan 1.600 judul lagu. Selama itu pula Waldjinah selalu mengenakan batik sebagai identitas busana Indonesia.

Hal itulah yang menarik Maleopict Production House untuk mengangkat sang maestro keroncong itu dalam sebuah film pendek, tentang kehidupannya yang tidak pernah lepas dari kain panjang batik atau jarik, dan kebaya.

Rilis film diadakan di Galeri Batik Walang Kekek, di Jl Parang Cantel No 31 Mangkuyudan, Surakarta, Jawa Tengah, bertepatan dengan ulang tahun ke-7 CV Mawar Magenta, perusahaan induk Maleopict Production House.

Film pendek tribute to Maestro Keroncong Waldjinah mengambil latar belakang Kota Surakarta dengan setiap sudutnya yang memberikan rasa hangat sebagai rumah.

Film pendek yang mendapatkan dukungan dari Bank BNI, itu, menggambarkan citra Waldjinah yang selalu mengenakan jarik batik dan kebaya sejak berkarir di dunia seni musik keroncong mulai 1958.

Begitu kuatnya kebaya batik pada diri Waldjinah, sehingga meski zaman terus berubah, identitas khas itu terus melekat dan membungkus tubuhnya yang kini sudah renta.

Karir Waldjinan sebagai penyanyi dimulai dari mengikuti kontes bintang Radio RRI, pada 1958. Sejak itulah penyanyi yang mendapat jukukan Walang Kekek itu selalu tampil dengan batik panjang dan kebaya.

"Ya meskipun sudah ada bagian yang robek karena termakan usia, tetap saya simpan rapi," ujar penyanyi keroncong yang 7 November nanti genao berusia 77 tahun tersebut.

Motif batik


Motif kembang kacang menjadi favorit Waldjinah. Pada kejuaraan menyanyi pertama yang diikutinya, dia tampil sebagai juara dengan julukan Ratu Kembang Kacang.

Nama batik kembang kacang menjadi awal Eyang Waldjinah sebagai  penyanyi keroncong profesional. Ada kisah menarik di balik batik kembang kacang ini.

Berasal dari keluarga pembatik, saat mengikuti festival kejuaraan Bintang Radio, Waldjinah diberi kain batik motif sandang pangan oleh saudaranya. Batik motif itu dibuat oleh keluarga jauh sebelum Waldjinah mengikuti kejuaraan. Usia koleksi itu sudah 100 tahun lebih.

Selain batik motif itu, hingga kini Waldjinah masih menyimpan pola-pola batik peninggalan dari ibunya, kakak perempuan dan kakak laki-lakinya.

Kain batik terus dikenakan Waldjinah saat tampil di depan umum. Bahkan setiap tahun, sebagai penghargaan untuknya, setiap 17 Agustus Waldjinah mendapat undangan untuk ikut upacara di Istana Negara.

Waldjinah kadang juga tampil dengan kain batik motif kembang kantil. Ia mengenakannya saat mendapatkan penghargaan sebagai Ratu Keroncong Indonesia dari Presiden Pertama RI Ir Soekarno pada 1965.

"Kain batik tulis motif kembang kantil merupakan lambang cinta manusia kepada Tuhan dan kepada sesama," tutur Waldjinah dengan nada sendu, mengingat saat itu dirinya tampil dalam keadaan hamil.

Presiden Soekarno kala itu memberikan nama calon jabang bayinya, Bintang.


Cinta Indonesia


Bukan tanpa alasan, kain-kain batik dikenakan saat tampil menyanyi sebagai lambang kecintaan Waldjinah pada Indonesia.

"Kain batik yang dibuat oleh kakak saya pertama kali saya kenakan ketika menyanyi di Istana Negara pada upacara peringatan Kemerdekaan 17 Agustus," jelasnya.

Pada momen berikutnya, pada setiap upacara peringatan kemerdekaan Waldjinah selalu mengenakan batik motif gurdo, antara lain motif Bima Kurda yang dikenakan Waldjinah saat memenangkan lomba Bintang Radio.

Banyak arti, dari motif batik yang menjadi koleksi Waldjinah. Seperti motif Bima memiliki makna hebat serta kuat dan kurda atau garuda merupakan lambang negara Indonesia.

Motif Kurda Truntum dan Gurdo Ageng, Motif Garuda latar Truntum dan Kurda Ageng. Motif Payung merupakan motif akulturasi budaya Jepang yang menggambarkan keelokan dan pengayom. Polanya adalah peninggalan keluarga Waldjinah yang dibuat pada 1950-an.

Motif langka dan ekslusif ini diwujudkan menjadi kain batik yang indah, detil dan cantik dengan warna alam sogan.

Lalu motif Ikan Koi juga pola peninggalan keluarga Waldjinah. Dibuat pada 1 September 1958. Motif Ikan Koi adalah akulturasi budaya Jepang yang memiliki pesan pembawa keberuntungan untuk pemiliknya.

"Nama-nama motif batik ini saya ambil berdasarkan kecintaan pada negara tercinta," tegasnya. (N-2)

BERITA TERKAIT