30 March 2022, 13:38 WIB

BMKG Gelar Simulasi Gempa dan Tsunami di Bandara YIA


Atalya Puspa |

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) bekerja sama dengan Bandara Internasional Yogyakarta (YIA), melakukan simulasi gempa bumi dan tsunami untuk kedua kalinya. 

Sebelumnya, simulasi serupa telah dilaksanakan pada 2020. “Simulasi dilakukan untuk melatih respons cepat peringatan dini tsunami," ujar Fasilitator BMKG Suci Dewi Anugrah dalam keterangan resmi, Rabu (30/3).

"Itu berdasarkan skenario terburuk gempa bumi megathrust magnitudo 8,8 di Selatan Jawa. Guna mewujudkan YIA sebagai Infrastruktur Kritis Bandara yang Tangguh Gempa dan Tsunami," imbuhnya.

Baca juga: Dekat Zona Megathrust, BMKG Gelar Simulasi Gempa dan Tsunami di Bandara Bali

Dalam simulasi tersebut, Bandara YIA menguji respons cepat Airport Operation Control Centre, jika menerima peringatan dini tsunami dari BMKG. Simulasi juga menguji proses evakuasi penumpang dan pengguna jasa bandara, serta pengaturan pesawat jika terjadi gempa bumi berpotensi tsunami.

Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami BMKG Daryono menjelaskan bahwa potensi gempabumi megathrust di Samudra Hindia Selatan Jawa Tengah dan Yogyakarta, dapat memicu tsunami yang dapat melanda kawasan Bandara YIA.

“Zona megathrust selatan Jawa adalah ancaman nyata. Hal ini didasarkan pada beberapa fakta. Pertama, keberadaan sumber gempa potensial pada bidang kontak antara Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia," papar Daryono. 

Baca juga: Presiden Jokowi: Perubahan Iklim Bawa Dampak Buruk bagi Indonesia

"Kedua, aktivitas kegempaan yang terus aktif himgga saat ini. Ketiga, catatan sejarah gempa besar yang memicu tsunami pada masa lalu," sambungnya.

Katalog BMKG mencatat bahwa tsunami pernah terjadi beberapa kali di pantai selatan Jawa. Seperti, Tsunami Banyuwangi 1818, Tsunami Jawa 1840, Tsunami Pacitan 1859, Tsunami Kebumen 1904, Tsunami Jawa 1921, Tsunami Pangandaran 1957, Tsunami Banyuwangi 1994 dan Tsunami Pangandaran 2006.

Upaya mitigasi konkret di lingkungan bandara untuk menciptakan keselamatan dan tanpa jatuh korban bagi pengguna bandara di pantai rawan tsunami. "Kita dapat mengambil pelajaran dari peristiwa tsunami destruktif Tohoku Jepang, yang dipicu gempa magnitudo 9,0 pada 11 Maret 2011," kata Daryono.(OL-11)

 

 

BERITA TERKAIT