21 March 2022, 18:17 WIB

30 Ribu Jemaah Umrah Asal Jabar Menunggu Berangkat ke Tanah Suci


Naviandri | Nusantara

SEKITAR 30 ribu warga Jawa Barat (Jabar) menunggu untuk berangkat umroh ke Tanah Suci. Jadwal tunggu ini terjadi karena keberangkatan mereka sempat tertunda akibat pembatasan penerbangan dari Arab Saudi dan Indonesia selama pandemi Covid-19.

Kepala Seksi Bina Penyelenggara Umrah dan Haji Khusus pada Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jabar, Muchamad Ikbal di Bandung Senin (21/3), mengatakan jumlah daftar tunggu keberangkatan umroh ini menurun seiring dengan pemberangkatan yang berangsur normal. Sampai awal Maret 2022, tercatat 8.202 warga Jabar sudah berangkat ke Tanah Suci dan kini jumlahnya bertambah sekitar dua kali lipat, sekitar 16 ribu orang. Mereka diberangkatkan oleh 261 Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah (PPIU).

"Jabar merupakan pemilik PPIU terbanyak kedua di Indonesia setelah Jakarta. Jamaah umroh berangsur diberangkatkan seiring pelonggaran oleh Pemerintah Arab Saudi dan Indonesia," lanjutnya.

Ibal menambahkan, sejak Kemenag melakukan uji coba pemberangkatan umroh sesuai protokol kesehatan (prokes) Januari lalu, animo masyarakat untuk berangkat umroh semakin besar. Hal ini ditambah adanya daftar tunggu umroh akibat pandemi Covid-19.

Apalagi kini, Pemerintah Arab Saudi resmi menghapus kewajiban karantina dan tes PCR di tanah suci, bahkan kembali membuka Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tanpa pembatasan atau izin khusus.

"Di Indonesia pun kini kebijakan karantina diganti dengan istilah peninjauan yang hanya dilakukan selama sehari, baik saat akan berangkat,maupun saat kepulangan. Namun, masih mewajibkan tes PCR," ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Utama Mabruk Tour Yadi Supriyadi mengatakan dalam kelompok umroh perdananya, terdapat 83 orang yang diberangkatkan. Mereka akan menjalani peninjauan selama satu hari di Jakarta, menjalankan ibadah di Tanah Suci sampai 1 April 2022, kemudian akan menjalani peninjauan selama satu hari saat kembali di Tanah Air.

Namun, waktu selama tiga hari yang tadinya dialokasikan untuk karantina di Madinah akhirnya bisa digunakan sebagai waktu tambahan untuk beribadah. Hal ini disebabkan Pemerintah Arab Saudi menghapus kebijakan karantina setelah pihaknya memesan tiket pesawat dan hotel.

"Tadinya karantina tiga hari di hotel bintang tiga, kita pindahkan jadi ke bintang lima dan ini untuk ibadah, bukan karantina lagi. Jada waktu tambahan untuk kita beribadah selama tiga hari," jelasnya. (OL-15)

BERITA TERKAIT